KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Menlu AS klaim Iran bisa ikuti jejak Korut jadi negara nuklir

Kamis, 20 April 2017 10:28 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Nuklir Iran-Bushehr. ©www.ctv.ca

Merdeka.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mengatakan negaranya akan melakukan 'kajian menyeluruh' tentang kebijakan mereka terhadap Iran, termasuk mengenai kesepakatan nuklir pada 2016. Menurutnya, perjanjian tersebut hanya menunda tujuan Iran menjadi sebuah negara nuklir, seperti Korea Utara.

"Kesepakatan ini merupakan pendekatan gagal di masa lalu, nantinya hanya akan membawa kita pada ancaman sama yang akan segera terjadi dengan Korea Utara," ucap Tillerson, dikutip dari NBC News, Kamis (20/4).

Dia menambahkan, pemerintahan Donald Trump tidak berniat untuk menyerahkan uang perjanjian kepada pemerintahan selanjutnya mengenai Iran. Pasalnya, bukti jelas terpampang kalau tindakan provokatif Iran akan mengancam wilayah AS dan dunia.

Tillerson memberitahu Kongres pada Selasa lalu, meskipun Iran memenuhi persyaratan atas kesepakatan itu, namun hal tersebut tidak akan terjadi di pemerintahan Trump.

"Pemerintahan Trump sedang mengkaji apakah akan membatalkan kesepakatan (nuklir) itu, dan tetap mengatakan Iran menjadi sponsor utama terorisme di kawasan Timur Tengah," imbuhnya.

Kemarin, Tillerson secara langsung menuduh Iran mensponsori terorisme di Suriah, Irak, Yaman dan Lebanon, serta melawan Israel. Menurut laporan terbaru Kementerian Luar Negeri, Iran memberikan berbagai dukungan kepada kelompok teroris.

"Hal ini termasuk keuangan, pelatihan dan peralatan. Dukungan diarahkan melalui Garda Revolusi Iran, yang juga dikenal sebagai Quds Force (IRGC-QF) dan organisasi teroris asing, seperti Hizbullah," dikutip dari laporan tersebut.

Menteri Pertahanan AS James Mattis juga ikut menanggapi dampak kelompok tersebut di kawasan Teluk.

"Milisi yang mereka jaga, termasuk Hizbullah di Lebanon yang katanya mendukung negara tersebut. Ribuan pejuang telah dihasilkan, dan tentu saja Iran memiliki militernya sendiri di wilayah Suriah, serta terus mendukung kepemimpinan Presiden Suriah Bashar al-Assad," jelas Mattis.

Mattis menyebutkan, dukungan Iran kepada Assad merupakan salah satu tindakan yang salah. Sebab, lebih dari 500 ribu orang tewas dan jutaan orang menjadi pengungsi.

Iran juga dituduh membiayai senjata dan pelatihan untuk pejuang Syiah Irak, Afghanistan dan Pakistan dalam upaya mendukung sekutu mereka.

[che]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.