Menlu Amerika John Kerry berdarah Yahudi

Jumat, 21 Februari 2014 19:02 Reporter : Vincent Asido Panggabean
Menlu Amerika John Kerry berdarah Yahudi John Kerry. istimewa ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mengatakan perasaannya terhadap Israel berubah sepuluh tahun lalu, setelah dia menemukan kenyataan kakek dan neneknya berdarah Yahudi.

"Ini sebuah perasaan yang mendalam. Saya kehilangan paman dan bibi dari ayah saya dalam peristiwa Holocaust. Saya tidak pernah tahu sampai saat itu. Mengetahui bahwa saya punya kaitan secara biologis dan kedekatan dengan peristiwa itu, ini sangat menyentuh," kata Kerry dalam sebuah wawancara yang disiarkan kemarin oleh televisi Israel Channel 2, seperti dilansir situs the Times of Israel, Jumat (21/2).

"Israel sendiri memiliki hubungan khusus bagi saya, bukan hanya karena hubungan kedekatan itu, tetapi lebih penting lagi karena perjalanan yang menakjubkan dari orang Yahudi," ujar Kerry di wawancara itu, yang dilakukan pada Selasa kemarin di Kementerian Luar Negeri Amerika. "Dan sekarang saya telah belajar bahwa, saya punya pengertian lebih baik dari itu."

Kerry pertama kali mengetahui dia memiliki keturunan Yahudi pada 2004, ketika dia berlomba untuk mencalonkan diri menjadi presiden Amerika melawan George W. Bush. Kedua orangtua dari ayah Kerry terlahir sebagai Yahudi lalu menjadi Kristen karena adanya sentimen anti-Semitisme, dan mengubah nama mereka dari Cohen menjadi Kerry, ketika mereka berimigrasi ke Amerika Serikat.

Ketika ditanya oleh pewawancara, Ilana Dayan, apakah warga Israel merasa menderita akibattragedi Holocaust sehingga membuat mereka mau menarik diri dari Tepi Barat dan menyetujui pembentukan negara Palestina, Kerry membenarkan pertanyaan itu.

"Tapi," kata Kerry, "Ini yang ingin saya tekankan, saya pikir pekerjaan saya adalah mencoba untuk membantu menciptakan situasi di mana realitas perjanjian tidak seperti sebuah alasan keimanan. Saya tidak ingin ini menjadi sebuah alasan keimanan. Saya ingin ini menjadi sebuah alasan rasional dan masuk akal, yang didasarkan pada rasa saling pengertian dan jaminan tentang keamanan dan hal lainnya."

"Jika itu dapat dicapai," lanjut Kerry, "maka kami harus membuang beberapa emosi, meskipun bagi beberapa orang akan selalu ada emosi yang besar, karena beberapa orang memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang Yudea Raya dan Samaria, saya tahu semua itu. Tapi saya juga tahu lebih dari 70 persen warga Israel percaya kepada solusi dua negara," jelas Kerry.

Kerry mengatakan bahwa dia kadang-kadang menghabiskan waktu selama beberapa jam berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan memahami dirinya. Tetapi dia ragu-ragu untuk mengatakan apakah dia percaya Netanyahu akan setuju untuk konsesi kesepakatan perdamaian yang akan diperlukan.

"Perhatian utama Netanyahu adalah keamanan warga Israel," tegas Kerry. "Saya telah mengatakan hal ini kepada Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas, masalah utama bagi Israel adalah untuk mengetahui bahwa jika mereka membuat kesepakatan, mereka lebih aman dan kuat. Dan itu berlaku bertentangan dengan pengalaman masa lalu dalam menarik diri dari Libanon dan menarik diri dari Gaza."

Kerry mengisyaratkan bahwa pemukiman Yahudi mungkin tidak perlu direlokasi di bawah ketentuan dari kesepakatan perdamaian.

Kerry juga menepis kritikan ditujukan kepada dia dari politisi sayap kanan Israel, khususnya Menteri Pertahanan Moshe Ya'alon, yang mengatakan diplomasi Amerika bersifat mesianis. [fas]

Topik berita Terkait:
  1. Amerika Serikat
  2. Yahudi
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini