Mengupas Dari Mana Asal-Usul Perang

Kamis, 1 Desember 2022 07:08 Reporter : Merdeka
Mengupas Dari Mana Asal-Usul Perang ilustrasi perang. © Hermitage Museum/Wikimedia Commons

Merdeka.com - Secara singkat ada tiga penjelasan umum tentang asal usul perang. Pertama, konflik atau sengketa wilayah dan sumber daya, kedua; kecenderungan agresif bawaan manusia; dan ketiga, maskulinitas dan patriarki.

Namun apakah jawaban-jawaban itu dapat menjelaskan asal usul perang yang sebenarnya?

Sejarawan terkenal Arnold J. Toynbee pernah menjelaskan selama empat atau lima milenium terakhir, banyak peradaban di dunia jatuh karena militerisme. Salah satunya seperti pada tahun 2350 sebelum Masehi (SM) di mana Lugalzagesi dari negara-kota Umma di Sumeria menaklukkan berbagai wilayah sekitarnya.

Melalui penaklukkan itu, Lugalzagesi mendirikan entitas negara dan politik pertama yang bersifat kekaisaran. Mulai saat itu, berbagai peristiwa yang sama akhirnya mewarnai sejarah panjang peradaban manusia.

Menaklukkan dan mengendalikan banyak wilayah menjadi tujuan manusia. Namun dua usaha itu adalah jalan utama kepada penghancuran diri.

Sebelumnya ketika wilayah lain ditaklukkan, pemerintah harus berusaha menjaga masyarakat yang tinggal di wilayah itu untuk tetap tunduk. Pengumpulan pajak hingga penguatan militer harus dilakukan pemerintah penakluk untuk dapat bertahan diri dari ancaman entitas lain atau masyarakat yang ditaklukkan.

Inilah yang terjadi kepada Lugalzagesi sendiri. Dia kala itu dikalahkan Sargon Agung. Namun kematian Sargon Agung menjadi penanda akhir dari kekaisarannya, sebab kematiannya mendorong pemberontakan di kota-kota Sumeria. Bahkan penerus Sargon, Rimush dibunuh dalam pemberontakan itu. Demikian dikutip dari Przekorj, Rabu (30/11).

Semenjak masa Revolusi Neolitikum, perang dan pembantaian kerap terjadi karena ketidaksepakatan atas tanah dan properti. Masing-masing orang mulai dari petani hingga pengembara melihat satu sama lain sebagai musuh.

Bangsa-bangsa besar masa lalu seperti Scythians, Hun, Tatar juga berperilaku seperti itu.

Pertempuran yang terjadi karena alasan wilayah dan penaklukkan baru terjadi setelah

2 dari 3 halaman
mengupas dari mana asal-usul perang

 manusia mulai menyebar ke wilayah lain. Tetapi penaklukkan itu jauh terjadi sebelum masa Revolusi Neolitikum. Karena itu teori yang menjelaskan perang sebagai sengketa teritorial umumnya dianggap teori tak berdasar.

Sebelumnya sebuah lukisan gua dari masa Paleolitik Atas yang ditemukan di Prancis menggambarkan sosok yang ditusuk panah. Ditemukannya bukti kerusakan yang ditemukan pada tulang prasejarah juga menunjukkan kalau Homo sapiens telah membunuh Homo sapiens lainnya selama puluhan ribu tahun.

Lukisan gua lainnya di Gua Morella la Vella Spanyol juga menggambarkan pertempuran antara pemanah dan adegan eksekusi. Penggalian lain seperti di Eropa hingga Mesir juga menggambarkan kisah-kisah yang tidak jauh berbeda.

Bahkan berdasarkan pemeriksaan makam yang berusia 3.900 – 1.700 SM di Swedia dan Denmark, setidaknya 17 persen tengkorak di Denmark dan 9 persen tengkorak di Swedia menunjukkan tanda-tanda pukulan di area wajah.

Namun orang-orang skeptis sering menganggap temuan-temuan itu hanya menunjukkan peristiwa pembunuhan dan bukan peperangan. Tetapi anggapan itu dapat dibantah dengan temuan pada 1960-an di Jebel Sahaba, Sudan.

Dalam temuan itu, tim peneliti menemukan sebuah makam yang menampung 61 orang, di mana 25 orang adalah wanita dan anak-anak. Berdasarkan penelitian, orang-orang yang dimakamkan di pemakaman itu telah dibunuh dengan senjata. Sebagian besar korban juga memiliki banyak tanda-tanda luka.

Kuburan massal itu pun menunjukkan mereka telah dibunuh di luar pemukiman mereka. Kuburan wanita dan anak-anak tampak menunjukkan serangan mendadak pada pemukiman mereka. Para korban diyakini terbunuh karena usaha balas dendam kelompok masyarakat lain.

Pada 2016 majalah Nature juga menerbitkan laporan mengenai temuan arkeologi di Nataruk, Kenya. Dalam temuan itu, ditemukan 27 tulang belulang yang menunjukkan adanya tusukan benda tajam dan hantaman benda tumpul.

3 dari 3 halaman

Kapan perang pertama terjadi?

Namun dari berbagai temuan itu, para ahli belum dapat menentukan pastinya kapan peperangan pertama terjadi. Ahli antropologi Keith Otterbein menjelaskan untuk dapat menentukan kapan peperangan pertama terjadi, para ahli harus membedakan dua jenis permusuhan, yaitu komunitas berburu dari masa Paleolitik dan peperangan lain yang tumbuh karena perkembangan negara.

Dalam masa Revolusi Neolitikum terdapat satu periode di mana kehidupan antar kelompok relatif tenang. Desa berubah menjadi pemukiman, dan pemukiman berubah menjadi kota. Namun di tengah ketenangan itu, muncul konflik internal yang membuat kepemimpinan merosot.

Peperangan pun mulai dilakukan pasukan khusus yang profesional. Pertempuran serta pengepungan telah menjadi andalan dalam peperangan. Perang-perang pun pecah di berbagai wilayah, seperti Mesopotamia, Mesoamerika, Peru dan China utara. Dan mulai dari saat itu, negara memulai peperangan.

Arnold J. Toynbee sendiri menyatakan peperangan adalah produk dari peradaban. Meski peperangan dianggap peristiwa buruk, namun melalui itu terjadi perkembangan ekonomi, organisasi kompleks, pengembangan pasukan, dan teknologi militer.

Melihat dari sejarah, maka peperangan pertama kali diyakini dilakukan Homo habilis menggunakan tongkat dan batu. Peperangan kala itu diyakini terjadi karena perebutan sumber daya material.

Secara singkat, etnografi dan sejarah dipenuhi peperangan yang bukan hanya persaingan memperebutkan sumber daya alam. Namun peperangan dapat menjadi usaha kelompok masyarakat untuk mendapatkan prestise sosial sama seperti yang dilakukan suku Aztec. Karena itu gagasan memperebutkan sumber daya tidak selalu menjadi alasan terjadinya peperangan.

Peperangan juga tidak terjadi karena alasan jenis kelamin atau gender. Meski dalam peperangan masing-masing pihak yang bertempur adalah laki-laki, namun perempuan juga ikut terjun dalam peperangan.

Keikutsertaan wanita dalam konflik bersenjata dapat dilihat pada peristiwa tahun 1677 ketika gerombolan wanita di Marbelhead, Amerika Serikat (AS) menerobos barisan penjaga yang melindungi dua tahanan suku Wampanoag.

Bahkan pada abad ke-19 wanita juga ikut serta sebagai prajurit di Kerajaan Dahomey. Juga pada catatan abad ke-19, wanita-wanita dari Polinesia, Amerika, dan Afghanistan menyiksa tawanan perang.

Catatan kepercayaan kuno India dan Mediterania juga menggambarkan para dewi-dewi yang disembah sering dilukiskan dengan tengkorak-tengkorak, binatang buas, dan lain-lain.

Melalui temuan-temuan itu wanita nyatanya turut ikut serta berperang atau bertindak secara berbahaya. Salah satunya seperti sepertiga penduduk Madagaskar tewas di bawah pemerintahan Ratu Ranavalona I.

Karena itu anggapan kalau pria mengakibatkan perang adalah anggapan yang salah. Namun seluruh manusia tanpa melihat jenis kelamin dapat mengancam keberadaan orang lain.

Namun di balik itu semua peperangan dapat terjadi karena masalah individu, nafsu akan kekuasaan atau keuntungan, dan lain-lain. Tetapi berdasarkan yang telah dijelaskan, tidak ada satu pun teori yang dapat menjelaskan keseluruhan fenomena.

 

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]

Baca juga:
Ilmuwan Pecahkan Misteri Kalimat Berusia 1.400 Tahun di Dinding Makam, Begini Isinya
Kepingan Dewi Mesir dan Jimat Berusia 2.700 Tahun Ditemukan di Spanyol
Kota Yunani Kuno Muncul dari Bawah Permukaan Air di Turkiye, Simpan Karya Aristoteles
Ilmuwan Ungkap Penyebab Peristiwa Kepunahan Massal Pertama di Bumi
Apa yang Terjadi Jika Dinosaurus Tidak Punah? Ilmuwan Punya Gambarannya
Ilmuwan Temukan Sesuatu dalam Isi Perut Fosil Dinosaurus Berusia 120 Juta Tahun

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini