Menguak Persekutuan Al Qaidah dan Taliban

Jumat, 10 September 2021 07:09 Reporter : Hari Ariyanti
Menguak Persekutuan Al Qaidah dan Taliban Bendara Taliban Selimuti Dinding Kedutaan Besar AS di Kabul. ©2021 AFP/Aamir QURESHI

Merdeka.com - Sebuah pertanyaan penting muncul ketika Taliban kembali berkuasa di Afghanistan yaitu hubungan mereka dengan sekutu lama mereka, Al Qaidah.

Al Qaidah terikat ke Taliban oleh sebuah janji kesetiaan atau kepatuhan atau baiat, yang pertama kali disampaikan pada 1999 oleh Osama bin Laden kepada timpalannya dari Taliban, Mullah Omar.

Baiat itu telah diperbarui beberapa kali sejak saat itu, walaupun tidak selalu diakui secara terbuka oleh Taliban.

Di bawah kesepakatan damai 2020 dengan Amerika Serikat (AS), Taliban sepakat tidak mengizinkan Al Qaidah atau kelompok ekstremis lainnya untuk beroperasi di kawasan yang menjadi kekuasaan mereka. Mereka menegaskan kembali janji ini beberapa hari setelah mengambil alih Kabul pada 15 Agustus.

Namun mereka tampaknya tidak secara terbuka menolak Al Qaidah.

Dan Al Qaidahh pastinya tidak akan melunak terhadap AS.

Kata Arab baiat adalah istilah yang berarti janji kesetiaan kepada seorang pemimpin Muslim dan merupakan dasar kesetiaan antara banyak kelompok jihad dan afiliasi mereka.

Ini mencakup kewajiban bagi kedua belah pihak, termasuk kepatuhan orang yang memberikan baiat kepada seorang pemimpin. Mengingkari janji dianggap sebagai pelanggaran serius dalam Islam.

Dalam kasus Al Qaidah, ia secara efektif menempatkannya di bawah Taliban, dengan memberikan gelar kehormatan "panglima yang setia" kepada pemimpin Taliban dan penerusnya.

Hal itu mungkin merupakan faktor penolakan Mullah Omar untuk menyerahkan Bin Laden ke Amerika setelah serangan 9/11, yang mengarah ke invasi pimpinan AS pada tahun 2001.

Dikutip dari BBC, Kamis (9/9), salah satu contoh terkenal dari pelanggaran baiat datang ketika afiliasi Al Qaidah di Irak menolak mematuhi janjinya kepada komando pusat, yang menyebabkannya memisahkan diri dan kemudian muncul kembali sebagai ISIS.

ISIS dan Al Qaidah masih menjadi musuh bebuyutan. ISIS-K atau ISIS-Provinsi Khorasan adalah kelompok afiliasi regional ISIS di Afghanistan.

Al Qaidah bukan satu-satunya kelompok jihadis yang menyatakan berbaiat kepada Taliban Afghanistan.

Taliban Pakistan sebelumnya berjanji setia dan baru-baru ini memperbaruinya setelah jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban.

2 dari 3 halaman

Sumpah kepada yang telah mati

yang telah mati rev1

Setelah kematian Osama bin Laden pada 2011, penggantinya, Ayman Al Zawahiri, berbaiat kepada Mullah Omar atas nama Al Qaidah dan cabang-cabang regionalnya. Baiat ini diulangi kembali pada 2014 setelah ISIS mendeklarasikan kekhalifahan di kawasan Irak dan Suriah.

Tetapi pada Juli 2015, Taliban mengumumkan Mullah Omar telah meninggal dua tahun sebelumnya. Dengan mengejutkan, Zawahiri menyampaikan janji setianya kepada seorang pria yang telah mati.

Al Zawahiri kembali berbaiat kepada pemimpin baru Taliban, Mullah Akhtar Mohammad Mansour, pada 13 Agustus 2015, bersumpah untuk “mengobarkan jihad untuk membebaskan setiap inci tanah Muslim yang diduduki”.

Mansour dengan cepat mengakui baiat dari “pemimpin organisasi jihadis internasional” tersebut, sebuah dukungan nyata untuk agenda jihadis global Al Qaidah.

Hal ini sangat bertentangan dengan pesan Taliban sendiri, yang membatasi kelompok itu pada penerapan aturan Islam di Afghanistan dan hubungan normal dengan negara-negara tetangga.

Ketika pemimpin saat ini Hibatullah Akhundzada mengambil alih kepemimpinan kelompok itu setelah kematian Mansour dalam serangan udara AS pada Mei 2016, Taliban tidak secara terbuka mengakui baiat baru dari Zawahiri.

Mereka juga tidak menolaknya.

Ambiguitas atas status baiat saat ini adalah inti dari ketidakpastian yang sedang berlangsung atas hubungan antara kedua kelompok tersebut.

3 dari 3 halaman

Ucapan selamat dari Al Qaidah

Dengan kembalinya mereka ke kekuasaan, Taliban sekarang ditarik ke dua arah.

Ikatan mereka dengan Al Qaidah memberikan kredibilitas Taliban dalam lingkaran jihadis garis keras, dan loyalitas bersejarah terhadap Al Qaidah berarti mereka mungkin tidak ingin meninggalkan sekutu mereka yang sekarang memegang kekuasaan.

Tetapi Taliban juga tetap terikat oleh kewajiban mereka berdasarkan kesepakatan damai AS, dan pendekatan pragmatis terhadap pemerintahan yang mereka dukung.

Ucapan selamat dari Al Qaidah dan afiliasi regional kelompok itu memuji kelompok Taliban atas "kemenangan" mereka dan menegaskan kembali status Akhundzada sebagai "panglima yang setia".

Taliban belum secara terbuka mengakui pesan-pesan ini, meskipun melakukannya untuk kelompok lain seperti gerakan Islam Palestina Hamas.

Namun kedatangan Amin Al Huq yang dilaporkan di Afghanistan - orang dekat Osama Bin Laden - menunjukkan hubungan antara kedua kelompok itu tetap ada.

Dan Al Qaidah dilaporkan memelihara hubungan yang kuat dengan jaringan Haqqani, yang merupakan bagian dari Taliban.

Isu ini menggambarkan dilema esensial yang dihadapi Taliban. Di satu sisi, mereka mendambakan pengakuan di panggung internasional dan manfaat yang didapat - tetapi ini sebagian besar merupakan kewajiban mereka untuk menolak ekstremisme.

Di sisi lain, mereka tidak dapat dengan mudah mengabaikan aliansi mereka selama lebih dari 20 tahun dengan Al Qaidah.

Melakukan hal itu mungkin akan mengasingkan kelompok garis keras itu di antara militan mereka dan kelompok ekstremis lain yang dengan begitu khusyuk merayakan pengambilalihan Afghanistan.

[pan]

Baca juga:
Penuh Luka, Beginilah Kondisi Jurnalis Afghanistan yang Dipukuli Taliban
Taliban Siap Jalin Hubungan dengan Semua Negara Kecuali Israel
Taliban Janji Bakal Libatkan Perempuan dalam Pemerintahan
China Tawarkan Dana Bantuan Darurat USD 31 Juta untuk Afghanistan
Ashraf Ghani Minta Maaf Kepada Rakyat Afghanistan
Akar Ideologi Taliban Bukan dari Afghanistan, Timur Tengah atau Negara Islam

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini