Mengenal Rudal Hipersonnik, Teknologi Militer Canggih yang Bikin Gentar Amerika

Rabu, 20 Oktober 2021 07:24 Reporter : Hari Ariyanti
Mengenal Rudal Hipersonnik, Teknologi Militer Canggih yang Bikin Gentar Amerika rudal hipersonik. ©Sputnik / Ildus Gilyazutdinov

Merdeka.com - Uji coba rudal hipersonik Korea Utara pekan lalu memicu kekhawatiran baru terkait perlombaan untuk memperoleh teknologi yang mengkhawatirkan tersebut. Ini juga dinilai dapat mengganggu keseimbangan nuklir global.

Rusia yang pada Senin mengakui meluncurkan uji coba rudal hipersonik dari kapal selam yang tenggelam untuk pertama kalinya, memimpin perlombaan, disususl China dan Amerika Serikat, dan setidaknya lima negara lain sedang mengerjakan teknologi tersebut.

Mengapa negara-negara ini menginginkan hipersonik?

Rudal hipersonik, seperti rudal balistik tradisional yang dapat mengirimkan senjata nuklir, dapat terbang lebih dari lima kali kecepatan suara.

Rudal balistik terbang tinggi ke luar angkasa dalam bentuk busur untuk mencapai target mereka, sementara hipersonik terbang pada lintasan rendah di atmosfer, berpotensi mencapai target lebih cepat.

Hal terpenting, rudal hipersonik dapat bermanuver (seperti rudal jelajah yang jauh lebih lambat, seringkali subsonik), membuatnya lebih sulit untuk dilacak dan dipertahankan.

Sementara negara-negara seperti AS telah mengembangkan sistem yang dirancang untuk bertahan melawan rudal jelajah dan balistik, kemampuan untuk melacak dan menjatuhkan rudal hipersonik tetap menjadi pertanyaan.

Rudal hipersonik dapat digunakan untuk mengirimkan hulu ledak konvensional, lebih cepat dan tepat daripada rudal lainnya. Tetapi kapasitas mereka untuk mengirimkan senjata nuklir dapat menambah ancaman suatu negara, meningkatkan bahaya konflik nuklir.

2 dari 4 halaman

Apakah rudal hipersonik sebuah ancaman?

Dikutip dari France 24, Selasa (19/10), Rusia, China, AS dan sekarang Korea Utara telah melakukan uji coba rudal hipersonik.

Prancis, Jerman, Australia, India, dan Jepang sedang mengerjakan hipersonik, dan Iran, Israel, dan Korea Selatan telah melakukan penelitian dasar tentang teknologi tersebut, menurut laporan terbaru oleh US Congressional Research Service (CRS).

Rusia adalah negara yang paling maju. Moskow mengumumkan pada Senin telah menembakkan dua rudal hipersonik Zirkon dari kapal selam nuklir Severodvinsk. Yang pertama, saat kapal selam berada di permukaan, berhasil mengenai target uji di Laut Barents. Yang kedua diluncurkan saat kapal tenggelam 40 meter di bawah permukaan.

Menurut laporan CRS, China juga secara agresif mengembangkan teknologi ini, dipandang sebagai hal penting untuk bertahan melawan AS dalam teknologi hipersonik dan lainnya.

CRS menyampaikan, baik China dan Rusia "kemungkinan memiliki kemampuan operasional" dengan kendaraan luncur hipersonik.

Departemen Pertahanan AS memiliki program pengembangan yang agresif, merencanakan hingga 40 uji coba selama lima tahun ke depan, menurut sebuah laporan pemerintah.

Pentagon menguji hipersonik bertenaga scramjet pekan lalu, menyebutnya "demonstrasi yang sukses dari kemampuan yang akan membuat rudal jelajah hipersonik menjadi alat yang sangat efektif untuk pasukan kita."

Pengumuman uji coba Korea Utara menunjukkan negara itu masih harus melangkah lebih jauh, di mana uji coba tersebut berfokus pada "kemampuan manuver" dan "karakteristik penerbangan."

“Berdasarkan penilaian karakteristiknya seperti kecepatan, itu pada tahap awal pengembangan dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dikerahkan,” kata militer Korea Selatan dan AS dalam sebuah pernyataan.

3 dari 4 halaman

Perlombaan persenjataan

Para ahli mengatakan hipersonik tidak serta merta mengubah keseimbangan nuklir global, tetapi justru menambahkan metode pengiriman baru yang kuat ke triad tradisional pengebom, ICBM yang diluncurkan dari darat, dan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam.

Risiko utama adalah tidak mengetahui apakah rudal hipersonik musuh memiliki hulu ledak konvensional atau nuklir.

Terkait daya tarik hipersonik, laporan CRS mengatakan sistem pertahanan rudal AS tidak memadai untuk mendeteksi, melacak, dan merespons hipersonik tepat waktu.

Ahli pengendalian senjata di Universitas Stanford, Cameron Tracy menyebut hipersonik sebagai kemajuan "evolusioner".

“(Ini) jelas bukan game-changer,” ujarnya.

"Ini perlombaan senjata. Sebagian besar, ini untuk menunjukkan bahwa senjata apa pun yang dapat dikembangkan orang lain, Anda akan memilikinya terlebih dahulu."

Solusinya, menurut Tracy, adalah memasukkan hipersonik dalam negosiasi pengendalian senjata nuklir -- meskipun saat ini Korea Utara dan China bukan bagian dari pakta apa pun.

"Pengembangan senjata ini, perlombaan senjata hipersonik ini, mungkin bukan situasi yang paling stabil. Jadi akan lebih baik untuk bertindak secepat mungkin," sarannya.

4 dari 4 halaman

AS versus China

Akhir pekan lalu, Financial Times melaporkan China meluncurkan sebuah roket pada Agustus yang membawa peluncur hipersonik ke luar angkasa, mengelilingi bumi sebelum meluncur ke bawah menuju targetnya dan meleset beberapa puluh kilometer.

Program luar angkasa China dijalankan oleh militernya dan terkait erat dengan agenda untuk membangun rudal hipersonik dan teknologi lain yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan dengan Amerika Serikat.

Namun peluncuran rudal hipersonik dibantah juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian. Dia mengatakan peluncuran pada Agustus itu melibatkan pesawat ruang angkasa bukan sebuah rudal dan "sangat penting untuk mengurangi biaya penggunaan pesawat ruang angkasa dan dapat memberikan cara yang nyaman dan terjangkau untuk melakukan perjalanan pulang pergi ke luar angkasa bagi kepentingan umat manusia."

"China akan bekerja sama dengan negara-negara lain di dunia untuk penggunaan ruang angkasa secara damai dan kepentingan umat manusia," jelas Zhao, dikutip dari France 24.

AS menyatakan keprihatinannya atas "tes rutin" China ini.

"Kami khawatir tentang apa yang dilakukan China pada hipersonik," jelas duta besar perlucutan senjata AS, Robert Wood kepada wartawan di Jenewa setelah ada laporan Beijing menguji rudal hipersonik berkemampuan nuklir.

"Kami tidak tahu bagaimana kami dapat bertahan melawan jenis teknologi itu, begitu juga China atau Rusia,” jelasnya.

Di samping program luar angkasanya, ekspansi China ke dalam teknologi rudal hipersonik dan bidang canggih lainnya menimbulkan kekhawatiran karena Beijing semakin mengklaim wilayah laut dan pulau-pulau di Laut China Selatan dan Laut China Timur, dan sebagian besar wilayah di sepanjang perbatasan dengan India.

Para pejabat intelijen AS khawatir dengan peluncuran itu karena mereka tidak mengetahui kemajuan pesat Beijing dalam bidang tersebut.

"Jika Anda adalah negara yang menjadi target itu, Anda akan mencari cara untuk mempertahankan diri dari itu," jelas Wood, dikutip dari The Telegraph.

"Jadi kami mulai melihat aplikasi lain dan aplikasi pertahanan apa, yang dapat Anda bawa ke teknologi hipersonik - dan itu terus mempercepat perlombaan senjata." [pan]

Baca juga:
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik Kapal Selam Terbaru
Korea Utara Diduga Tembakkan Rudal Balistik ke Perairan Jepang
Persenjataan Korea Utara Makin Lengkap, Apa Saja Kehebatannya?
Membandingkan Program Rudal Korea Selatan dan Korea Utara, Siapa Lebih Unggul?
Korea Utara Luncurkan Rudal dari Kereta

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini