Mengenal Istilah Globalisasi 4.0 dan Segala Ancamannya

Kamis, 24 Januari 2019 06:32 Reporter : Hari Ariyanti
Mengenal Istilah Globalisasi 4.0 dan Segala Ancamannya ilustrasi globalisasi. ©The European Sting

Merdeka.com - Panitia Forum Ekonomi Dunia (WEF) tahun ini memperkenalkan frasa baru sebagai tema pertemuan tahunan di Davos, Pegunungan Alpen Swiss, yaitu "Globalisasi 4.0". Frasa ini sedikit banyak berkaitan dengan sejarah ekonomi.

Dunia telah bergerak ke arah globalisasi-pertukaran barang, sumber daya manusia, dan gagasan sejak masa lampau. Namun sejarawan ekonomi berpendapat ada tiga fase globalisasi sejauh ini.

Fase pertama, sepanjang 1820-1914, globalisasi datang bersamaan dengan munculnya tenaga uap dan revolusi industri sementara fase kedua berlangsung dari akhir Perang Dunia II hingga sekitar tahun 1990. Saat itulah kita memasuki era terbaru - periode yang oleh beberapa orang dijuluki "hiperglobalisasi" bertepatan dengan munculnya internet, jatuhnya Tembok Berlin dan kebangkitan negara-negara berkembang seperti China dan India.

Sebagian berpendapat saat ini kita tengah memasuki gelombang keempat globalisasi.

Argumentasinya: Jika gelombang globalisasi sebelumnya berkaitan dengan perdagangan barang maka yang berikutnya adalah berkembangnya layanan digital. Atau, bisa dilihat dari dunia orang kaya di mana gelombang globalisasi terakhir adalah hilangnya lapangan pekerjaan bagi para kerah biru (buruh) dan digantikan para pekerja kerah putih (kantoran).

"Itulah masa depan globalisasi nantinya dan itulah globalisasi 4.0," kata Richard Baldwin, penulis buku The Globotics Upheaval, dikutip dari laman the Straits Times, Rabu (23/1).

"Ini terkait pembukaan sektor jasa di negara-negara kaya untuk bersaing dengan negara-negara miskin, dengan semua kelebihan dan kekurangan di sektor jasa yang dalam pandangan kami di sektor manufaktur," sambungnya.

Baldwin berpendapat, koneksi data yang semakin cepat dan alat kecerdasan buatan (AI) seperti Google Translate membuka luas-luas peluang jasa layanan tenaga terampil di negara-negara kaya mulai dari arsitektur hingga akuntansi dan desain situs web memunculkan persaingan baru bagi para praktisi di negara berkembang.

ilustrasi globalisasi consulus.com



Setiap gelombang globalisasi sebelumnya ditandai arbitrase dasar, baik harga pengiriman barang atau upah tenaga kerja yang lebih rendah. Keterampilan dan kebutuhan untuk berada di lokasi tertentu melindungi banyak pekerja kerah putih dari dampak globalisasi. Tapi muncul konsekuensi yang mengkhawatirkan bagi mereka yang berkumpul di Davos.

Baldwin mengatakan, kemarahan para kerah biru atas gelombang terakhir globalisasi yang membantu menyulut populisme yang mengarah ke Brexit di Eropa dan Donald Trump bisa segera bergabung dengan kemarahan kalangan kerah putih.

Para pekerja berpendapat, "Akan ada perasaan berbeda karena Anda akan benar-benar melihat orang-orang ini yang dibayar sepersepuluh dari apa yang Anda dapatkan dan tidak membayar pajak dan tidak mematuhi standar tenaga kerja yang harus Anda patuhi, tidak membayar rumah dan sekolah. Jadi saya pikir banyak orang akan menganggap ini tidak adil."

Kelemahan ini diakui oleh WEF dalam definisi resmi mereka tentang Globalisasi 4.0. Perubahan dalam bisnis - yang oleh Klaus Schwab, pendiri WEF, dijuluki sebagai Revolusi Industri Keempat - datang bersamaan dengan perubahan geopolitik, ketidaksetaraan, dan perubahan iklim. WEF berpendapat hal ini telah "mengubah dunia kita dengan cara yang tidak mampu diterima oleh sistem tradisional kita".

Karena itu, forum tahun ini bukan hanya tentang mengakui bahwa era baru telah datang. Ini adalah tentang menemukan jawaban yang membantu mengurangi penderitaan dan mencegah serangan baru, apakah dengan menyadari kebutuhan sistem pengamanan yang lebih baik atau memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini