Mengapa Militer Myanmar Sangat Kuat?

Selasa, 9 Februari 2021 07:10 Reporter : Hari Ariyanti
Mengapa Militer Myanmar Sangat Kuat? Penjaga militer di Myanmar. ©2021 REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Subuh 1 Februari 2021. Pasukan keamanan Myanmar menangkap sejumlah pemimpin politik terpilih, para kepala menteri, dan aktivis di ibu kota negara, Naypyidaw, dan di seluruh negeri.

Di antara mereka yang ditangkap adalah Penasihat Negara Aung San Suu Kyi dan Presiden U Win Myint. Partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menang telak dalam pemilu November 2020. Militer juga menargetkan anggota Generasi 88, gerakan pro demokrasi yang selama bertahun-tahun mengalami persekusi setelah unjuk rasa mahasiswa pada 1988 yang secara kejam dihancurkan junta militer.

Kemudian pada Senin, Myawaddy TV yang dikelola militer mengambil alih sejumlah lembaga politik negara tersebut dan Wakil Presiden Pertama U Myint Swe, saat ini menjabat sebagai presiden sementara, telah mengalihkan otoritas penuh baik eksekutif, legislatif, dan yudikatif kepada Panglima Tertinggi Militer, Min Aung Hlaing selama setahun. Militer berupaya menjustifikasi kudeta dengan tuduhan meluas kecurangan pemilih pada pemilu November lalu dan mengklaim pihaknya memiliki mandat konstitusi untuk mengambil alih kekuasaan di saat darurat.

Pernyataan terpisah di halaman Facebook militer mengatakan Tatmadaw (militer dalam bahasa Burma), akan menggelar pemilu yang bebas dan adil pada akhir tahun, dan mereka akan menyertakan multipartai.

Kudeta menandai berakhirnya demokrasi umur pendek di Myanmar yang dimulai pada 2011, ketika Tatmadaw, yang mulai berkuasa sejak 1962, menerapkan pemilu anggota parlemen dan reformasi lainnya.

Para pemimpin dunia dan lembaga internasional mengecam kudeta itu dan meminta militer Myanmar segera membebaskan para tahanan politik dan menghormati hasil pemilu.

Militer, yang memandang dirinya sebagai penjaga persatuan nasional, diperkirakan tak akan mendengarkan seruan tersebut dalam waktu dekat ini. Militer Myanmar kerap menerima kritik internasional, termasuk tindakan kejamnya terhadap muslim Rohingnya pada 2017.

Jadi apa yang ada di balik kendali abadi Tatmadaw atas sistem politik Myanmar? Berikut analisisnya, seperti dikutip dari Aljazeera, Senin (8/2).

Sebuah negara 'lahir sebagai pendudukan militer'

Militer telah menjadi institusi paling kuat di Myanmar sejak negara ini merdeka dari Inggris pada 1948.

Jenderal Aung San, arsitek kemerdekaan Myanmar dan ayah Aung San Suu Kyi, mendirikan Tentara Nasional Burma dengan bantuan Jepang pada awal 1940-an. Jenderal Aung San dibunuh pada 1947, tapi warisannya tetap hidup dalam militer, dan Tatmadaw terus menikmati kuatnya dukungan masyarakat pada tahun-tahun mendatang sejak saat itu karena lembaga itu dinilai memerdekakan negara tersebut dari penjajahan kolonial.

Sejak awal, militer menikmati kontrol yang tidak terkendali atas kancah politik negara. Seperti disampaikan penulis dan sejarawan ternama Myanmar, Thant Myint-U dalam buku terbarunya, The Hidden History of Burma: Race, Capitalism, and the Crisis of Democracy in the 21st Century bahwa “Negara modern Burma (nama lama Myanmar) lahir sebagai pendudukan militer.”

Baca Selanjutnya: Menguasai industri pertambangan minyak dan...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini