Menelisik Bukti Keterlibatan AS dalam Upaya Penggulingan Rezim di Venezuela

Jumat, 15 Maret 2019 07:32 Reporter : Hari Ariyanti
Menelisik Bukti Keterlibatan AS dalam Upaya Penggulingan Rezim di Venezuela Venezuela dalam Kegelapan. ©REUTERS

Merdeka.com - Venezuela kini tengah menghadapi ancaman kekacauan setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara sekutunya mengakui Juan Guaido sebagai presiden sementara. Sedangkan Presiden Nicolas Maduro dianggap sebagai pemimpin yang tidak sah.

Maduro pun bereaksi dan mengusir para diplomat AS di negaranya. Berbagai protes dan kontra protes pun terjadi dengan gelombang demonstran yang turun ke jalan saat kedua belah pihak berupaya untuk mengambil tindakan psikologis dan politik.

Menelisik tujuan AS mengganti rezim di Venezuela, ada beberapa analisis yang bisa dijadikan rujukan. Salah satunya yaitu analisis peneliti geopolitik asal Bangkok, Tony Cartalucci yang dimuat dalam laman Global Research Kanada.

Kenapa Venezuela?

Menurut Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, tindakan AS terhadap Venezuela didorong oleh penderitaan rakyat Venezuela.

Reuters dalam artikel mereka yang berjudul, "Pompeo menyerukan Maduro Mundur, Mendesak Dukungan dari Militer," Pompeo mengatakan alasan mendukung pemimpin oposisi Juan Guaido yang mendirikan pemerintahan transisi dan mempersiapkan Pemilu baru.

"Rakyat Venezuela telah menderita cukup lama di bawah kediktatoran Nicolas Maduro yang membawa petaka. Kami menyerukan Maduro mengundurkan diri demi pemimpin yang sah yang mencerminkan kehendak rakyat Venezuela," kata Pompeo, sebagaimana dilansir dari laman Global Research, Kamis (14/3).

Sebenarnya, motivasi Washington adalah minyak. Mengingat Venezuela memiliki kekayaan cadangan minyak. Menurut Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) - Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia - melampaui Arab Saudi dan menyumbang hampir seperempat dari semua produksi OPEC.

aksi protes maduro di venezuela 2019 AFP PHOTO/FEDERICO PARRA

Terkait cadangan energi, AS disebut tidak benar-benar membutuhkan minyak Venezuela. AS punya kepentingan lain yaitu untuk mempertahankan tatanan internasional unipolar yang dipimpin AS - mengendalikan atau melumpuhkan negara-negara penghasil hidrokarbon dan mencegah munculnya negara-negara dunia multipolar di negara-negara berkembang yang dipimpin kekuatan global Rusia dan China.

Venezuela yang diperintah oleh tatanan politik yang stabil mampu menghasilkan kekayaan dari cadangan minyaknya yang besar - dan didedikasikan untuk alternatif multi-polar bagi tatanan internasional. Hal ini tak dapat diterima Washington karena AS telah banyak menghabiskan energi, uang, dan sumber daya saat berupaya melakukan destabilisasi dan penggulingan Presiden Hugo Chavez - dengan upaya kudeta pada tahun 2002 - dan sekarang Presiden Maduro.

Campur Tangan AS di Venezuela

Bahkan media Barat telah mengakui AS sejak lama mencampuri urusan dalam negeri Venezuela dengan mendanai oposisi. Situs web National Endowment for Democracy (NED) milik AS juga mengakui campur tangan secara luas dalam setiap aspek politik internal Venezuela dengan dana yang diarahkan dalam berbagai program, di antaranya memfasilitasi bantuan kemanusiaan, meningkatkan pemerintahan demokratis di Venezuela, pemberdayaan kepemimpinan dan partisipasi sosial-politik, kampanye partisipasi warga negara dan kebebasan berekspresi, kampanye pemerintahan demokratis, dan berbagai program lainnya.

Jelas bahwa AS mendanai hampir setiap aspek operasi oposisi - dari media dan urusan hukum, hingga indoktrinasi dan perencanaan politik, hingga campur tangan bidang ekonomi dan mengampanyekan HAM untuk melindungi agitator yang didanai AS dari segala upaya penangkapan.

Dalam upaya perubahan rezim di Venezuela, lembaga yang didanai NED, Sumate, menyelenggarakan referendum terhadap Presiden Chavez pada 2004 dan dimenangkan Chavez. Program Sumate ini didanai AS dan dilaksanakan atas arahan AS. Namun, campur tangan AS di Venezuela ini sengaja disembunyikan.

NED dan organisasi lain yang beroperasi secara paralel - termasuk lembaga milik George Soros - berupaya sepenuhnya menggantikan institusi, pemerintahan, dan hukum Venezuela dengan rezim yang disponsori AS. Dukungan AS tidak terbatas pada upaya membangun oposisi - tetapi juga upaya khusus untuk membantu para pemimpin oposisi senior.

Sebuah dokumen Departemen Luar Negeri AS tahun 2004 yang bocor berjudul, "Status Caprile dan Kasus Sumate," memperjelas bahwa pendanaan NED sedang berlangsung bahkan pada saat itu, dan bahwa Departemen Luar Negeri AS diharuskan memberikan bantuan kepada Sumate yang didanai NED dituntut atas tuduhan tersebut. Ini juga menggambarkan dukungan Departemen Luar Negeri AS untuk pemimpin oposisi senior Henrique Capriles Radonski.

Capriles - bersama dengan Leopoldo Lopez - menjabat sebagai mentor bagi pemimpin oposisi saat ini Juan Guaido yang sekarang secara terbuka ditawari sekitar USD 20 juta oleh Departemen Luar Negeri AS dalam bentuk bantuan.

aksi protes maduro di venezuela 2019 AFP PHOTO/YURI CORTEZ

Upaya AS Lumpuhkan Ekonomi Venezuela

Dalam sebuah artikel yang dimuat Reuters, Mike Pompeo menjanjikan USD 20 juta untuk bantuan kemanusiaan Venezuela yang tengah dilanda krisis ekonomi dan politik. Namun Cartalucci menilai bantuan ini paradoks. Di satu sisi AS secara sengaja berupaya meruntuhkan ekonomi Venezuela, menyebabkan hiperinflasi, dan kekurangan makanan dan obat-obatan. Tujuannya melemahkan dan menggoyahkan pemerintahan Chavez dan sekarang Maduro.

Departemen Keuangan AS mengarahkan sanksi khusus pada bank sentral Venezuela dan Petroleos de Venezuela, SA (PdVSA) - perusahaan minyak dan gas negara Venezuela untuk membatasi pembiayaan dan memblokir transfer. Tujuannya menurunkan harga minyak global - tidak hanya melumpuhkan ekonomi berbasis minyak Venezuela - tetapi juga dari musuh-musuh AS lainnya termasuk Iran dan Rusia. Jelas ada upaya signifikan telah dilakukan untuk melumpuhkan kemampuan Venezuela mengambil untung dari minyaknya.

Upaya lainnya ialah sejumlah besar emas Venezuela ditahan di Inggris dan negara itu menolak mengembalikannya ke pemerintah Venezuela. Selain itu, kelompok oposisi yang didanai AS fokus pada upaya menumpuk bahan kebutuhan pokok dengan tujuan membuat barang kebutuhan masyarakat menjadi langka sementara gang bersenjata disewa pebisnis kaya dan pemilik tanah sehingga merugikan petani dan industri disokong pemerintah.

Dalam sebuah artikel, petani Venezuela mengungkapkan mereka tak berniat mengosongkan lahan, menggambarkan upaya para petani untuk menggunakan tanah yang direklamasi para pemilik kaya untuk menghasilkan produk-produk pertanian, tetapi kemudian mereka menjadi sasaran tentara bayaran, para petani diserang dan diusir. Dalam kasus lain, oligarki konglomerat mampu mendapatkan konsesi dari pengadilan untuk mengonsolidasikan kontrol atas lahan pertanian yang digunakan untuk memproduksi makanan.

Pemerintah Venezuela melakukan kontrol harga dan langkah-langkah darurat untuk menghadapi perang ekonomi yang luar biasa.

Destabilisasi ekonomi merupakan komponen utama dalam upaya perubahan rezim yang didalangi AS. Hal ini juga dilakukan AS di Irak, Libya, Suriah, Iran, Korea Utara, dan Rusia yang diawali dengan tudingan pelanggaran HAM yang dibuat-buat dan ancaman terhadap keamanan nasional AS.

listrik padam di venezuela AFP

Imperialisme, Bukan 'Sosialisme'

Selama bertahun-tahun dengan bukti-bukti yang terdokumentasi, pihak oposisi saat ini bersaing mendapatkan kekuasaan yang didanai oleh Washington, namun keuntungannya untuk Washington, bukan Venezuela.

Sanksi dan perang ekonomi menyasar Venezuela seperti yang dilakukan AS terhadap banyak negara lain yang telah digulingkan, diserang, dan dihancurkan - atau yang sedang dicoba untuk digulingkan dan dihancurkan.

AS berupaya mengklaim krisis Venezuela dipicu sosialisme. Namun ada bukti yang menyatakan krisis itu disebabkan AS .

China juga negara sosialis - komunis - dengan perencanaan pusat dan industri yang dinasionalisasi. China memiliki jaringan kereta berkecepatan tinggi terbesar di dunia, memiliki program luar angkasa dengan kemampuan meluncurkan astronot ke orbit, dan merupakan negara ekonomi terbesar kedua di dunia.

Sebaliknya, AS tidak memiliki satu mil pun rel kereta berkecepatan tinggi, saat ini bahkan AS membayar Federasi Rusia untuk meluncurkan astronotnya ke orbit, dan telah sepenuhnya menyia-nyiakan posisinya sebagai ekonomi global terbesar dalam mengejar aspirasi menuju dominasi global yang belum terealisasi.

"Jelas ada lebih banyak yang berkontribusi pada keberhasilan atau kegagalan suatu negara daripada menjadi sosialis atau kapitalis - apa pun istilah yang benar-benar berarti. Bagi Venezuela, kegagalannya adalah akibat langsung dan jelas dari imperialisme AS. Dan hanya dengan membuka dan memutar balik campur tangan AS, kekayaan Venezuela dapat kembali," pungkas Cartalucci. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini