Membandingkan Bahaya dan Tingkat Penularan Virus Corona Omicron dengan Varian Lain

Rabu, 1 Desember 2021 07:25 Reporter : Hari Ariyanti
Membandingkan Bahaya dan Tingkat Penularan Virus Corona Omicron dengan Varian Lain Bagaimana membandingkan virus corona varian Omicron dengan varian lain. ©Al Jazeera

Merdeka.com - Pada 24 November 2021, ilmuwan di Afrika Selatan melaporkan varian baru virus corona dengan jumlah mutasi yang lebih tinggi daripada yang ditemukan pada varian lainnya. Dua hari kemudian, WHO mengatakan varian baru tersebut, dinamakan Omicron, merupakan varian yang mengkhawatirkan (variant of concern).

Pengumuman tersebut membuat banyak negara di dunia menerapkan pembatasan perjalanan.

Apa yang dimaksud mutasi?

Semua virus bermutasi, dan virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 terus bermutasi sejak muncul pada akhir 2019. Mutasi adalah sebuah perubahan dalam kode genetik virus, dan virus yang bermutasi dikenal sebagai varian.

Beberapa varian virus corona menyebar lebih mudah daripada yang lainnya, yang bisa memicu peningkatkan angka infeksi. Lonjakan infeksi bisa membuat sumber daya kesehatan kewalahan, berpotensi menyebabkan lebih banyak rawat inap dan kematian.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (30/11), para pakar meyakini ada sedikitnya 50 mutasi dalam varian baru tersebut, dengan 32 mutasi berada pada protein mahkota virus (ujung runcing virus), bagian virus yang memasuki sel manusia. Para ilmuwan menyampaikan, mutasi yang mirip terlihat di varian lainnya dikaitkan dengan penularan yang lebih tinggi dan kesempatan yang lebih besar untuk menghindari pertahanan imun tubuh, dibandingkan dengan virus corona asli (sebelum bermutasi).

Mutasi diidentifikasi dengan huruf dan angka seperti D614G - yang berarti asam amino berubah dari D (aspartat) menjadi G (glisin) pada posisi nomor 614 dari protein mahkota virus.

2 dari 3 halaman

Cara penamaan virus

WHO mengidentifikasi lima varian yang mengkhawatirkan (Variant of Concern/VOC) dan delapan varian yang menjadi perhatian (Variant of Interest/VOI). Sejak Mei 2021, badan PBB itu menamakan varian baru virus corona dengan huruf dari alfabet Yunani yang dimulai dengan Alpha.

Berdasarkan urutan alfabet Yunani, seharusnya Omicron dinamai Nu, disusul Xi. Namun menurut WHO, "Nu dengan mudah dapat dikecohkan dengan 'new' dan Xi tidak digunakan karena itu nama belakang yang umum."

Akhirnya, huruf ke-15 alfabet Yunani, Omicron, digunakan.

3 dari 3 halaman

Beda Omicron dengan varian lain

WHO menyampaikan risiko global varian Omicron "sangat tinggi".

Saat ini, varian Delta, pertama kali terdeteksi di India pada Oktober 2020, adalah varian paling dominan, mencakup lebih dari 99 persen kasus global.

Pada Minggu, WHO menyampaikan belum jelas apakah Omicron lebih menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan dengan varian-varian lain. Badan PBB itu juga menyebutkan vaksin masih penting untuk mengurangi penyakit parah dan kematian.

Bukti awal menunjukkan kemungkinan adanya risiko infeksi ulang yang meningkat dengan Omicron dibandingkan VOC lainnya, tapi informasi mengenai hal ini juga masih terbatas.

Ahli epidemiologi Afrika Selatan, Salim Abdool Karim menyampaikan pada Senin, belum ada cukup data yang terkumpul untuk memastikan implikasi klinis Omicron dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya, dan infeksi ulang itu memungkinkan tapi orang-orang yang divaksinasi orang yang divaksinasi memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami gejala serius.

Para ahli menyampaikan, lebih banyak informasi akan tersedia dalam beberapa hari dan pekan mendatang ketika virus menyebar lebih luas dan para peneliti sedang mempelajari bagaimana mutasi Omicron bekerja sama.

Untuk melindungi diri kita dan orang lain dari varian Omicron, termasuk untuk mencegah penyebarannya, WHO menyarankan untuk mengikuti langkah-langkah berikut:

1. Divaksinasi
2. Pakai masker
3. Jaga jarak
4. Siapkan ventilasi untuk ruang tertutup
5. Jaga kebersihan
6. Isolasi mandiri jika merasakan gejala

  [pan]

Baca juga:
India akan Kirim Vaksin ke Afrika untuk Bantu Perangi Varian Omicron
Cegah Omicron, Pemerintah Wajibkan Spesimen dari Negara Terinfeksi Disekuensing
CEO Moderna: Vaksin Sepertinya Kurang Ampuh Lawan Omicron
CEO Moderna Sebut Efektivitas Vaksin Covid Mungkin akan Turun Melawan Varian Omicron
CDC: Orang Dewasa yang Telah Divaksinasi Harus Disuntik Vaksin Booster karena Omicron
Epidemiolog: Surveilans Genomik RI Masih PR Besar, Hanya 0,2 Persen

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini