Memanasnya Peta Persaingan Pasar Senjata di Timur Tengah Antara AS, Rusia, dan China

Selasa, 30 Juni 2020 06:27 Reporter : Hari Ariyanti
Memanasnya Peta Persaingan Pasar Senjata di Timur Tengah Antara AS, Rusia, dan China Rudal anti pesawat terbang. shutterstock

Merdeka.com - Amerika Serikat (AS) mengklaim penjualan senjata bernilai miliaran dolar ke Timur Tengah membantu mengurangi pengaruh Rusia dan China di kawasan itu, dengan menghalangi negara-negara di kawasan itu beralih ke dua negara tersebut sebagai pemasok perangkat keras militer mereka.

Namun, ada banyak indikator dalam beberapa tahun terakhir bahwa negara-negara di kawasan Timur Tengah mulai mendekati dua kekuatan tersebut.

Sebagaimana dilansir dari Alaraby pekan lalu, jenderal Kenneth F McKenzie, Kepala Komando Sentral Amerika Serikat (CENTCOM), mengklaim pada 10 Juni, penjualan senjata AS ke berbagai negara Timur Tengah membantu mencegah negara-negara itu lebih mengandalkan Rusia dan China untuk pasokan perangkat keras mereka.

Penjualan senjata AS, katanya, "meyakinkan mitra kami di kawasan itu bahwa kami akan ada di sana, bahwa kami akan menjadi mitra yang dapat diandalkan."

"Kami tidak ingin mereka beralih ke Rusia, (kami) tidak ingin mereka beralih ke China untuk membeli sistem itu," jelasnya.

"Kami juga akan memiliki ukuran kendali atas bagaimana sistem itu digunakan."

AS tetap menjadi pengekspor senjata terbesar di dunia, dengan 52 persen ekspor senjata ke Timur Tengah. Dalam periode 2014-2018, Arab Saudi menjadi importir senjata terbesar di dunia, kebanyakan mengimpor perangkat keras militer canggih buatan Amerika.

Sementara Rusia dan China melakukan penjualan senjata yang jauh lebih sederhana di wilayah tersebut.

Rusia membuat terobosan signifikan dalam menjual senjata canggih ke Mesir dan Turki, klien tradisional AS selama beberapa dekade. Mereka menjual armada pesawat tempur MiG-29, helikopter tempur Ka-52, dan rudal pertahanan udara S-300 sampai rudal pertahanan udara S-400 bekas dan canggih dalam beberapa tahun terakhir.

1 dari 5 halaman

Sanksi Amerika

rev2

Pada 2017, Presiden AS Donald Trump menandatangani RUU Perlawanan Balasan terhadap Saingan Amerika Melalui Sanksi (CAATSA) menjadi undang-undang. CAATSA berupaya untuk mencegah negara-negara melakukan transaksi signifikan untuk pembelian perangkat keras militer Rusia.

Ketika anggota NATO Turki memesan S-400 dalam kesepakatan USD 2,5 miliar, negara itu layak dijatuhi sanksi berdasarkan CAATSA. Namun saat negara itu dihapus dari program F-35 Joint Strike Fighter pada musim panas 2019, setelah menerima pengiriman komponen pertama S-400, negara itu belum menjadi subyek sanksi CAATSA namun pemerintah Trump enggan menjatuhkan sanksi.

Senator AS, Lindsey Graham mendesak Turki tidak mengaktifkan sistem rudal untuk menghindari sanksi. Ankara menolak, menekankan mereka membeli rudal untuk dikerahkan.

Turki awalnya menjadwalkan aktivasi S-400 pada April ini, namun belum terlaksana. Ankara menegaskan akibat pandemi Covid-19, bersikeras pihaknya akan tetap mengaktifkan sistem meskipun AS menentang.

Tak mundur pada keputusannya untuk membeli S-400, Turki berkeinginan untuk memesan gelombang kedua rudal dalam waktu dekat. Ancaman sanksi CAATSA tak menghalangi sekutu besar AS dan sesama anggota NATO ini untuk membeli perangkat keras militer Rusia yang canggih.

2 dari 5 halaman

Drone China

rev2

Mesir sedang dalam pembicaraan untuk membeli armada jet tempur Su-35 canggih dari Rusia dalam kesepakatan USD 2 miliar. AS telah memperingatkan, Kairo bisa dikenai sanksi CAATSA juga jika melanjutkan rencana tersebut.

Sementara itu, pijakan China lebih kecil dalam pasar senjata Timur Tengah.

AS, Rusia, dan sebagian besar negara Eropa adalah penandatangan Rezim Kontrol Teknologi Rudal (MTCR) yang menentang proliferasi sebagian besar rudal balistik dan drone. Beijing tidak pernah menandatangani MTCR dan karenanya tidak kesulitan membantu Turki mengembangkan program rudal balistiknya dan menjual drone bersenjata ke Irak, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Drone Wing Loong II buatan China yang terakhir telah digunakan secara luas dalam konflik di Libya dan Yaman.

Saat ini, pemerintahan Trump berencana untuk mengkaji ulang MTCR yang berpotensi dapat membalikkan larangan Washington atas penjualan drone bersenjata.

"Mengesampingkan perjanjian itu akan memungkinkan kontraktor pertahanan AS General Atomics Aeronautical Systems Inc dan Northrop Grumman Corp masuk ke pasar baru yang saat ini didominasi oleh penawaran yang kurang canggih dari China dan Israel, yang tidak berpartisipasi dalam MTCR," jelas laporan Reuters.

3 dari 5 halaman

Tanpa Ikatan

rev2

Yordania berusaha menjual armadanya yaitu pesawat "Rainbow" CH-4B CH-4B buatan China setelah mengoperasikannya lebih dari dua tahun. Amman dilaporkan "tidak senang dengan kinerja pesawat dan ingin pensiunkan mereka." Ini menunjukkan, jika AS memiliki pasar untuk menjual drone, banyak negara Timur Tengah akan dengan mudah memilih untuk membeli drone Amerika daripada dari negara lain.

Satu-satunya rudal balistik Arab Saudi diperoleh dari China. Saudi diam-diam membeli rudal DF-3A di akhir 1980-an. Kemudian pada 2007 juga diam-diam membeli DF-21 yang lebih akurat dan canggih.

Rudal-rudal ini dipamerkan untuk pertama kalinya pada 2014. Negara tetangganya, Qatar juga membeli rudal balistik SY-400 jarak pendek buatan China, yang diarak oleh militer Qatar pertama kalinya pada 2017.

Berbeda dengan AS, Rusia dan China memiliki sedikit syarat bagaimana penggunaan perangkat keras yang diekspor. Sementara itu Washington mengimplementasikan perjanjian penggunaan akhir pada perangkat keras yang dijualnya, Beijing dan Moskow memiliki lebih banyak pendekatan 'tanpa ikatan'.

Salah satu contoh yang dapat ditunjukkan adalah komentar baru-baru ini oleh duta besar Rusia untuk Turki, Alexei Yerhov tentang S-400 yang dibeli Turki.

"Katakanlah saya seorang distributor mobil dan Anda ingin membeli kendaraan dari saya. Kami mendapat uang dan menjual kendaraan kepada Anda. Kendaraan itu jadi milik Anda. Apakah Anda pergi ke pantai, memuat kentang atau memasang senapan mesin di atasnya, bergabung dengan perang, itu adalah hak alamiah Anda untuk menyimpannya di garasi," kata Yerhov kepada CNN Turki.

4 dari 5 halaman

Contoh Kasus Irak

irak rev2

Untuk alasan yang sama, Irak kembali sebagai importir signifikan senjata Rusia. Pengalamannya mengoperasikan F-16 Fighting Falcons yang dibuat di AS dan tank tempur utama M1A1 Abrams mungkin meyakinkan Baghdad bahwa membeli senjata dari Rusia atau China tanpa ikatan akan jauh lebih menguntungkan.

F-16 sejauh ini merupakan jet paling canggih yang telah dioperasikan Irak di era pasca-2003. Ke-36 pejuang dikirim selama perang melawan ISIS dan melakukan pemboman terhadap kelompok itu, meskipun tidak sebanyak pesawat pengangkut An-32 buatan Rusia yang digunakan Irak sebagai pembom atau pesawat serang Su-25 Frogfoot buatan Rusia dan Iran. Selain itu, F-16 membutuhkan lebih banyak perawatan dan suku cadang.

Selama meningkatnya ketegangan Iran-AS di Irak pada Januari, personil AS dievakuasi dari Pangkalan Udara Balad di Irak. Sejak itu, armada F-16 Irak telah mendarat dan tidak dapat lagi melaksanakan patroli dua mingguan di Provinsi Anbar, Irak untuk mencari gerilyawan ISIS yang melintasi perbatasan Irak-Suriah. Seorang pejabat senior Irak bahkan mengatakan program F-16 negara itu "hampir mati" hanya lima tahun setelah Baghdad menerima pengiriman pesawat-pesawat tempur tersebut.

5 dari 5 halaman

Beralih ke China atau Rusia

china atau rusia rev2

Irak juga mengalami masalah serupa saat mengoperasikan armada M1 ketika melanggar perjanjian penggunaan akhir di mana mereka dipasok. Paramiliter Syiah Irak yang didukung Iran diketahui mengoperasikan beberapa tank.

Pabrikan tank, General Dynamics, segera menangguhkan dukungan perawatan hingga semua tank pulih. Akibatnya, banyak tank tak bisa hidup.

Sejak saat itu Irak mengimpor tank T-90 dari Rusia alih-alih mencari lebih banyak M1. Di masa depan, pasukan lapis baja mungkin memiliki lebih banyak perangkat keras dari Rusia daripada Amerika.

Bahkan sebelum dua insiden ini, Irak memutuskan untuk membeli helikopter tempur Rusia modern daripada Apache AH-64 Amerika. Beberapa faktor kemungkinan berkontribusi pada keputusan ini mulai dari harga, pengalaman Irak sebelumnya dalam mengoperasikan perangkat keras Rusia, dan relatif mudahnya mempertahankan helikopter-helikopter itu dibandingkan dengan buatan Amerika.

Rusia juga tidak mempersulit bagaimana penggunaan helikopter setelah penyelesaian transaksi. Dalam beberapa tahun terakhir, Baghdad telah berulang kali ingin membeli S-400 untuk meningkatkan pertahanan udaranya yang terbatas.

Pernyataan McKenzie terkait penjualan senjata AS secara efektif mencegah sekutu AS di Timur Tengah beralih ke China atau Rusia untuk memenuhi pasokan senjata mereka dalam beberapa hal cukup sederhana. Beberapa pihak berargumen menentang penangguhan penjualan senjata AS ke Arab Saudi terkait perangnya di Yaman, misalnya, dengan memperkirakan Riyadh dapat dengan mudah 'beralih ke' China atau Rusia untuk senjata serupa.

Namun jika AS memberikan sanksi berat kepada Arab Saudi dan menahan pemeliharaan dan dukungan teknis untuk persenjataan lengkapnya yang besar di AS, akan membutuhkan waktu bertahun-tahun di Riyadh dan miliaran dolar untuk mengganti secara memadai persenjataan yang ada saat ini dari perangkat keras yang sebagian besar dibuat oleh Amerika dan buatan Inggris.

Semua contoh ini dengan kuat menunjukkan bahwa sementara Amerika Serikat akan menjadi penjual senjata terbesar di Timur Tengah dalam waktu dekat, penjualan senjata tidak selalu merupakan jaminan bahwa China dan Rusia tidak akan dapat memperoleh bagian mereka sendiri di pasar yang menguntungkan itu. [pan]

Baca juga:
Balas Dendam Iran dan Misi Mengakhiri Keberadaan Amerika Serikat di Timur Tengah
Bersiap Hadapi Balasan Iran, Pangkalan Militer AS di Seantero Timur Tengah Siaga Satu
Memahami Sejarah Singkat 65 Tahun Konflik Iran-AS
Presiden Erdogan Tolak Tawaran Rencana Perdamaian Timur Tengah Usulan AS
Pentagon Bantah Akan Kirim 10.000 Tentara Tambahan ke Timur Tengah
Buat yang Masih Bingung, Ini Penjelasan Sederhana Tentang Perang di Afghanistan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini