Masa depan Amerika di tangan Donald Trump

Kamis, 10 November 2016 06:06 Reporter : Pandasurya Wijaya
Masa depan Amerika di tangan Donald Trump Kegembiraan pendukung Donald Trump. ©REUTERS

Merdeka.com - Donald Trump akhirnya memastikan kemenangan dalam pemilu Amerika Serikat yang digelar kemarin. Setelah perolehan electoral votenya melebihi 270, pria 70 tahun itu akhirnya akan menjadi presiden ke-45 Amerika usai mengalahkan Hillary Clinton yang diusung Partai Demokrat.

Trump selama masa kampanye dikenal sebagai sosok yang temperamental, rasis, dan bahkan cabul. Masa depan seperti apa yang bisa diharapkan dari sosok seperti itu? Apa yang akan dialami warga Amerika di bawah kepemimpinan Trump? Simak ulasan di bawah ini:

1 dari 4 halaman

Warga muslim akan merasa tertekan

Ilustrasi perempuan muslim di Amerika. csmonitor.com

Yang paling orang ingat, di masa kampanyenya Sang Raja Properti itu pernah mengatakan akan melarang warga muslim masuk ke Amerika.

Muslim yang dilarang masuk itu mencakup mahasiswa, turis, sampai pengusaha yang sedang ada urusan di AS. Gagasan ini adalah respon Trump terhadap penembakan massal di California, yang dilakukan pasangan suami istri muslim.

Sejak lama, sosok Trump dituding anti-Islam. Imam Besar Masjid New York, Shamsi Ali pernah menjabarkan tendensi Islamofobia itu ketika mengkritik pertemuan Setya Novanto dengan Trump pada September lalu.

Pernyataan Trump soal larangan masuk umat muslim mengundang kecaman. Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, mengatakan Trump tidak pantas menjadi bakal capres setelah melontarkan gagasan diskriminatif tersebut.

Sesama bakal capres dari Partai Republik ikut menyerang Trump. Salah satunya Mantan Gubernur Florida, Jeb Bush, lewat akun Twitternya. "Rencana kebijakan (Trump) tidak serius. Beliau memiliki persoalan mental," tulis Jeb.

2 dari 4 halaman

Warga imigran Latin akan makin sulit bekerja di AS

Donald Trump. © yahoo.com

Trump mengungkapkan dia ingin membangun "tembok raksasa" antara Amerika dan Meksiko agar imigran gelap tak masuk termasuk migran Suriah. Trump mengatakan warga Meksiko yang masuk ke Amerika sebagian besar adalah penjahat.

"Mereka membawa obat bius, penjahat dan mereka adalah pemerkosa," katanya. Ia mengatakan Meksiko harus membayar tembok raksasa itu dan menurut analisa BBC bernilai antara USD 2,2 miliar sampai USD 13 miliar.

Tak kurang koresponden senior stasiun televisi Fox News Geraldo Rivera mengatakan, para pendukung partai Republik hanya mau mendukung 'orang gila' macam Trump bagi capres mereka.

3 dari 4 halaman

Kelompok militan akan lebih mudah meneror AS

ISIS dan Trump. ©algarve24.pt

Pada Agustus lalu Para perekrut kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mendoakan kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump agar memenangkan pemilihan umum dan menjadi presiden Negeri Paman Sam.

Menurut laporan majalah Foreign Affairs yang diperoleh dari pesan berantai dalam aplikasi Telegram, diketahui para anggota kelompok militan itu lebih suka Trump jadi presiden AS. Alasannya kalau Trump jadi presiden maka mereka akan lebih mudah merekrut orang untuk bergabung menjadi jihadis.

"Saya berdoa kepada Allah agar menyerahkan Amerika kepada Trump. Keuntungan yang diperoleh jika Trump berhasil ke Gedung Putih adalah prioritas bagi para jihadis apa pun alasannya," demikian bunyi salah satu komentar anggota ISIS dalam aplikasi pesan berantai itu.

Para perekrut ISIS memandang, pendapat Trump yang ingin memaksa seluruh muslim agar datanya terdaftar dan mengawasi seluruh masjid akan membuat perekrutan menjadi lebih mudah dan lebih gampang meradikalisasi calon korban.

Mereka meyakini Trump adalah tipe pemimpin irasional dan meledak-ledak yang akan membuat dia lebih mudah diprovokasi dan dengan demikian akan melemahkan AS.

4 dari 4 halaman

Trump ditakutkan akan menjadi diktator

Donald Trump. ©2012 Merdeka.com

Pengamat politik dan penulis New York Magazine Andrew Sullivan menilai kemenangan Trump akan membuat AS menjadi negara yang dipimpin seorang diktator.

Dalam majalah New York edisi awal bulan ini, Sullivan menulis, 'Ketika demokrasi sudah mencapai tahap terjauhnya, seperti yang dibilang Plato, 'sosok seorang yang akan menjadi tiran akan merebut kesempatannya'. Dan kesempatan itu, kata Sullivan, yang terjadi di Amerika Serikat sekarang.

"Dia sangat-sangat tertarik dengan kekuasaan. Dan itu bukanlah cara Amerika. Bukan watak demokrasi. Itu adalah watak anti-demokrasi. Dan menurut saya, ada unsur dalam budaya Amerika yang menurut Washington sudah rusak. Maka dari itu mereka ingin menghancurkannya sekalian dan menggunakan Trump untuk melakukannya," ujar Sullivan.

Penulis asal Inggris itu mengatakan Trump bukan saja politikus yang berbahaya tapi dia juga mengancam keberlangsungan demokrasi ala Amerika.

"Pemahaman dia (Trump) tentang bagaimana meraih kekuasaan bertentangan dengan cara Amerika. Rakyat Amerika meyakini kekuasaan seharusnya tersebar dan maka dari itu tidak boleh ada raja. Sedangkan Trump, menurut dia, berbagi kekuasaan, atau diawasi, diperiksa oleh lembaga lain, atau bahkan oleh pers, adalah sebuah kutukan."

Jika, orang macam Trump naik jadi presiden, ujar Sullivan, maka sama saja rakyat Amerika sedang menciptakan krisis konstitusi. Dia akan menjadi diktator.

  [pan]

Baca juga:
Keresahan Indonesia saat Donald Trump menang Pilpres AS
Donald Trump jadi Presiden AS, ini komentar MUI
Trump hapus berita pelarangan Muslim masuk AS dari situs resmi
Aksi unjuk rasa di seantero AS tolak Donald Trump jadi presiden
Girangnya Setya Novanto dan Fadli Zon saat Trump jadi Presiden AS

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini