Marak Penembakan Massal, Betapa Mudahnya Beli Senjata di AS

Rabu, 25 Mei 2022 12:23 Reporter : Pandasurya Wijaya
Marak Penembakan Massal, Betapa Mudahnya Beli Senjata di AS Penembakan dekat sekolah dasar di Texas. ©2022 REUTERS/Marco Bello

Merdeka.com - Penembakan di sekolah dasar Robb Elementary, Uvalde, Negara Bagian Texas, hari ini menandai peristiwa penembakan massal di sekolah ke-30 di tahun ini. Sedikitnya 19 siswa dan 2 orang dewasa tewas dalam kejadian ini.

Belum dua pekan lalu, seorang remaja kulit putih melepaskan tembakan di sebuah supermarket di lingkungan komunitas kulit hitam di Buffalo, New York, hingga menewaskan 10 orang. Pihak berwenang menyebut tindakan remaja laki-laki itu bermotif kebencian rasial.

Sehari setelah insiden Buffalo, penembakan kembali terjadi di sebuah gereja di California pada Minggu (15/5), menewaskan satu orang dan melukai lima orang.

Penembakan di Texas hari ini adalah salah satu insiden penembakan di sekolah yang terburuk peristiwa di SMU Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, Februari 2018 yang menewaskan 17 orang.

Seiring maraknya kasus penembakan di AS, orang kini bertanya-tanya, seberapa mudahnya seseorang bisa membeli senjata api di Negeri Paman Sam?

Orang Amerika bisa membeli senjata dengan mudah hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Di negara lain, proses pembelian senjata bisa makan waktu berbulan-bulan.

Senjata api dapat ditemukan di ratusan toko di AS, mulai dari partai besar seperti Walmart, hingga skala yang lebih kecil seperti Ken's Sporting Goods & Liquor Store. CNN mengatakan, tidak sulit mengakses senjata api di AS.

Puluhan pameran senjata hampir setiap akhir pekan digelar di seluruh negara bagian Amerika Serikat. Tak jarang, sejumlah orang juga membeli senjata api dari tetangga atau bahkan anggota keluarganya.

Pemeriksaan latar belakang pembeli hanya dilakukan di toko. Sesuai prosedur, pembeli akan diminta untuk mengisi formulir Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak Federal.

Informasi yang dibutuhkan dalam formulir tersebut meliputi data pribadi seperti nama, alamat, tempat tanggal lahir, ras, dan kewarganegaraan.

Selain data pribadi, adapula sejumlah pertanyaan yang perlu diisi, di antaranya soal catatan kriminal.

"Apakah Anda pernah dihukum karena kejahatan ringan atau kekerasan dalam rumah tangga?" salah satu butir pertanyaan dalam formulir tersebut.

2 dari 2 halaman
marak penembakan massal, betapa mudahnya beli senjata di as

Formulir itu juga menanyakan riwayat pelanggaran hukum terkait narkotika dan ganja. Hingga mempertanyakan, "Apakah Anda seorang buronan pengadilan."

Toko penjual senjata kemudian menghubungi FBI guna memeriksa kebenaran informasi yang tertulis dalam formulir pembeli, melalui sistem yang dikenal dengan nama NICS. Dengan sistem itu, pemeriksaan latar belakang hanya membutuhkan waktu beberapa menit.

Jika seseorang pernah mendapat hukuman karena tindak pidana, atau telah tercatat dalam pengadilan, maka ia tidak akan lulus pemeriksaan NICS.

"Lebih dari 100 juta cek semacam itu telah dilakukan dalam satu dasawarsa terakhir, dengan lebih dari 700.000 penolakan," kata FBI di situs resminya pada data 2019 silam.

Jika dibandingkan, jumlah penolakan yang pernah dilakukan FBI tidak sampai 1 persen dari total penjualan senjata api resmi.

Meski penjualan senjata api dapat dipantau oleh sistem FBI, namun penjualan senjata api ilegal masih banyak ditemukan. Dalam sebuah pameran senjata api, pembeli tidak harus mengisi formulir pemeriksaan latar belakang.

Sebuah situs pameran senjata api, gunshows-usa, mencantumkan 29 acara yang bertepatan dengan hari ayah. Namun, jangan harap pameran itu akan ditemukan di New York, Chicago, dan Washington, D.C. Pasalnya, undang-undang senjata api di sana jauh lebih ketat.

Di tahun 2013, Presiden Obama bersama anggota senat merumuskan aturan untuk memperketat syarat kepemilikan senjata. Namun, aturan itu tidak juga berhasil disahkan.

Upaya untuk memperketat syarat kepemilikan senjata dilakukan, setelah kasus penembakan massal di Sandy Hook. Peristiwa yang terjadi di sebuah sekolah dasar itu menewaskan 26 anak dan guru.

Obama kembali mengusulkan perbaikan aturan kepemilikan senjata, setelah peristiwa penembakan di sebuah gereja, Charleston pada Juni 2015. Serangan gereja itu disebut bersifat rasial. Pelaku yang seorang kulit putih membunuh sembilan orang kulit hitam.

"Pada titik tertentu, kita sebagai pemerintah harus memperhitungkan fakta bahwa kekerasan massal semacam ini tidak terjadi di negara maju lainnya," ujar Obama dalam sebuah pidato kala itu. [pan]

Baca juga:
Penembakan Massal di Sekolah Texas, 18 Siswa dan Seorang Guru Tewas
Pelaku Penembakan di Texas Tembak Neneknya Sebelum Berangkat ke Sekolah
Penembakan Texas, Joe Biden Perintahkan Pasang Bendera Setengah Tiang Selama 4 Hari
Gagalnya Aparat Keamanan AS Cegah Penembakan Massal yang Direncanakan Berbulan-Bulan
Rentetan Kasus Penembakan Massal Paling Mematikan di AS

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini