Mantan Penasihat Keamanan Sebut Kim Jong-un Tertawakan Trump Soal Hubungan Keduanya

Selasa, 23 Juni 2020 10:07 Reporter : Pandasurya Wijaya
Mantan Penasihat Keamanan Sebut Kim Jong-un Tertawakan Trump Soal Hubungan Keduanya Donald Trump dan Kim Jong-un di Singapura. AP Photo/Evan Vucc

Merdeka.com - Bekas penasihat keamanan nasional Amerika Serikat John Bolton mengatakan, menurut dia pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pastilah tertawa-tawa mendengar penilaian Trump tentang hubungan kedua pemimpin negara itu.

Bolton mengatakan hal itu dalam wawancara dengan ABC News, pertama kali sebelum peluncuran bukunya 'The Room Where It Happened' hari ini. Buku Bolton itu berisi memoarnya selama bertugas di Gedung Putih dan mengungkap banyak sisi negatif Trump.

Ketika jurnalis Martha Raddatz bertanya apakah Trump benar-benar percaya Kim Jong-un menyukainya," Bolton menjawab dia tidak melihat jawaban lain.

"Saya pikir Kim Jong-un pasti tertawa-tawa mendengar ini," kata Bolton. "Surat yang diperlihatkan Trump kepada wartawan ditulis oleh seseorang di kantor propaganda Partai Pekerja Korea Utara.

"Tapi presiden (Trump) menganggap surat itu sebagai bukti bahwa mereka punya ikatan pertemanan yang kuat," kata dia seraya mengatakan pertemanan tidak masuk hitungan dalam konteks diplomasi internasional, seperti dilansir laman the Times of Israel, Senin (22/6).

1 dari 2 halaman

Tak hanya itu, Bolton juga menyebut Trump tidak layak jadi presiden dan dia berharap Trump hanya menjabat satu periode.

"Saya berharap sejarah akan mengingat dia sebagai presiden satu periode yang tidak membuat negeri ini jatuh ke dalam jurang. Kita masih bisa tahan kalau dia hanya satu periode," ujar Bolton.

Dia menuturkan tidak akan memilih Trump atau pun kandidat kuat dari Demokrat, Joe Biden, pada pilpres AS November mendatang. Bolton mengatakan dia akan "menulis salah satu nama tokoh Republik di kertas suara."

Pemerintahan Trump berusaha mencegah penerbitan buku Bolton namun Jaksa Agung AS Sabtu kemarin menolak pencegahan itu dengan alasan sudah terlambat untuk melakukan itu.

"The Room Where It Happened" karya Bolton memuat kisah penuturannya selama 17 bulan bekerja dengan Trump di gedung Putih hingga September lalu dia dipecat sang presiden.

2 dari 2 halaman

Dalam wawancara, Bolton mengatakan dia mengundurkan diri, bukan dipecat. Menurut dia, hal terakhir yang membuat dia mundur adalah ketika Trump mengundang Taliban ke Camp David untuk membahas perdamaian Afghanistan.

Buku Bolton yang disebut Trump sebagai "fiksi" ini juga menceritakan tentang permohonan Trump kepada Presiden China Xi Jinping agar membantunya untuk memenangkan kembali pilpres AS.

Bolton juga memperkuat dugaan soal kasus pemakzulan Trump tahun lalu ketika dia menekan Ukraina untuk mengorek keburukan Biden supaya dia gagal maju sebagai capres. [pan]

Baca juga:
Kampanye Trump Sepi, Disebut-Sebut Lantaran TikTok dan K-Pop
Sebut Anak-Anak Lebih Kuat dari Orang Dewasa, Trump Minta Sekolah Dibuka Kembali
Joe Biden Ungguli Trump dalam Jajak Pendapat Pilpres AS
Facebook Hapus Iklan Kampanye Trump karena Memuat Simbol yang Pernah Dipakai Nazi
Gerakan Black Lives Matter Diprediksi Bisa Menentukan Hasil Pilpres AS 2020
Pendukung Partai Republik Dirikan Komite Aksi Dukung Joe Biden, Ingin Trump Kalah

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini