Mahasiswa Bangladesh Dipukuli hingga Tewas karena Kritik Pemerintah di Media Sosial

Kamis, 10 Oktober 2019 15:46 Reporter : Merdeka
Mahasiswa Bangladesh Dipukuli hingga Tewas karena Kritik Pemerintah di Media Sosial abrar fahad. ©Facebook

Merdeka.com - Abrar Fahad, 21 tahun, mahasiswa Universitas Teknologi dan Mesin Bangladesh (BUET), ditemukan tewas di asramanya beberapa hari setelah ia mengkritik pemerintah di media sosial.

Beberapa mahasiswa yang merupakan anggota dari Liga Awami dikaitkan dengan kasus kematian tersebut.

Organisasi Liga Chhatra Bangladesh (BCL), yang merupakan bagian dari Liga Awami, sebelumnya diketahui terlibat dalam beberapa kasus terkait kekerasan dan pemukulan mahasiswa. Pada 2018, aktivis BCL juga terlibat dalam proses pemukulan dalam aksi unjuk rasa.

Dilansir dari BBC, Rabu (9/10), setelah menelaah rekaman CCTV, pihak kepolisian mengatakan bahwa penyelidik mengidentifikasi sembilan orang keluar dari asrama Fahad. Setidaknya, lima orang di antaranya merupakan aktivis BCL. Para pelaku diduga memukuli Fahad hingga tewas di dalam asramanya.

Wakil Komisaris Polisi Dhaka Munstasirul Islam telah membenarkan kematian Abrar Fahad. Menurut salah satu media lokal, anggota BCL melakukan investigasi serta pemukulan terhadap Abrar Fahad mengenai sebuah partai Islam. Hal tersebut terkait tulisannya di media sosial yang mengkritik pemerintah tentang masalah perjanjian berbagi air dengan India.

Pada Selasa, 8 Oktober 2019, polisi menangkap 13 orang tersangka dan semuanya merupakan mahasiswa BUET. Enam orang tersangka lainnya masih dalam proses pencarian.

Pemerintah Bangladesh telah berjanji untuk bertanggung jawab atas kematian mahasiswa tersebut.

Setelah kasus tersebut terkuak, para mahasiswa di Dhaka melakukan unjuk rasa untuk membela keadilan bagi Abrar Fahad. Aksi protes yang berlangsung selama dua hari, terus meminta hukuman mati bagi para tersangka. Sejumlah alumni dan dosen juga turut serta dalam aksi demonstrasi tersebut.

"Hal ini jelas tidak bisa diterima, bahwa seorang mahasiswa meninggal karena kekerasan," ujar AKM Masud, ketua Asosiasi Pengajar BUET.

Menurut dia kematian Abrar Fahad merupakan bukti pihak berwenang gagal dalam menjamin keamanan mahasiswa.

Reporter: Benedikta Miranti Tri Verdiana

Sumber: Liputan6.com [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini