Lukisan, Puisi, & Lagu Jadi Senjata Baru Perlawanan Rakyat Myanmar Terhadap Militer

Jumat, 19 Februari 2021 07:23 Reporter : Hari Ariyanti
Lukisan, Puisi, & Lagu Jadi Senjata Baru Perlawanan Rakyat Myanmar Terhadap Militer Protes kudeta militer di Myanmar. ©Sai Aung Main/AFP

Merdeka.com - Malam-malam sejak kudeta mengembalikan Myanmar ke kekuasaan militer pada 1 Februari, simbol spektral unjuk rasa bersinar di sisi sebuah bangunan berlumut.

Di mana cahaya berikutnya akan muncul di Yangon, kota terbesar di negara itu, merupakan sebuah misteri. Tapi, tiba-tiba, gambar yang diproyeksikan muncul dalam kegelapan. Tiga jari terangkat dalam pose memberontak. Burung merpati perdamaian. Wajah Daw Aung San Suu Kyi yang tersenyum, yang pemerintahannya digulingkan dalam kudeta militer.

Proyeksi tersebut merupakan gagasan dari pembuat film yang ingin tetap anonim karena militer memburu mereka yang berani menentangnya.

Dipersenjatai dengan kuas cat, puisi, dan mars unjuk rasa, kelas-kelas kreatif memberikan semangat imajinatif dan semangat pemberontakan kepada kebangkitan rakyat Myanmar yang telah membuat para jenderal militer lengah.

Selama unjuk rasa harian di sejumlah kota besar negara itu, atmosfernya kerap terasa seperti karnaval budaya. Seniman graffiti menyemprotkan pesan-pesan yang mengolok-olok Jenderal Senior Min Aung Hlaing, kepala angkatan darat yang memimpin kudeta. Para penyair mendeklamasikan bait-bait kemarahan. Serikat kartunis berbaris membawa gambar tokoh-tokoh. Penari jalanan berputar-putar dengan bebas.

Pada Rabu, unjuk rasa terbesar sejak demo dimulai di Yangon, ratusan ribu orang berkumpul di pusat distrik, membawa poster dan tulisan yang didesain untuk generasi Instagram.

“Jika kita melihat sejarah perlawanan di Myanmar, kita cukup agresif dan konfrontatif, dengan sejarah pertumpahan darah ini,” jelas Ko Kyaw Nanda, seorang desainer grafis yang karya seninya untuk unjuk rasa mengontraskan kepala babi hijau (tentara) dengan sepatu hak merah delima (Aung San Suu Kyi).

“Dengan pendekatan baru ini, risikonya lebih kecil bagi orang-orang, dan lebih banyak orang dapat bergabung,” lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Kamis (18/2).

2 dari 5 halaman

Mosaik perlawanan

rev1

Militer Myanmar, yang memerintah negara itu selama enam dekade, menangkap lebih dari 450 orang sejak kudeta, menurut sebuah kelompok yang menelusuri tahanan politik. Rezim baru secara drastis mencabut kebebasan sipil, dan sejarah panjang kekerasan pemberangusan orang yang berbeda pendapat bertahan.

Pada Rabu malam di kota Mandalay, tentara menyisir seluruh wilayah perumahan pegawai kereta api yang mogok kerja, menembakkan sejumlah peluru. Sedikitnya satu orang dikonfirmasi terluka, tapi senjata kediktatoran tak menyurutkan unjuk rasa damai, yang membawa meme-meme bernada humor dan karya seni lainnya.

“Jika anak muda turun ke jalan lalu mengapa aku tidak bisa?” kata pensiunan PNS, Daw Nu Nu Win, yang ikut demo pada Rabu.

“Saya ingin seluruh bangsa keluar dari kediktatoran,” lanjutnya.

Para seniman yang memuat karya seni mereka di media daring menggratiskan karya mereka untuk dicetak para pengunjuk rasa, seperti stiker dan desain kaos. Salah satu yang paling populer adalah koleksi hormat tiga jari dari film “The Hunger Games”. Setiap jari digambar oleh seninam berbeda, sebuah mosaik perlawanan.

3 dari 5 halaman

Tangkal iblis

rev1

Saat dia menyaksikan unjuk rasa dimulai, seorang desainer grafis lepas yang menggunakan nama artistik Kuecool memutuskan ingin berkontribusi. Meskipun dia pernah mengilustrasikan sebuah buku tentang feminisme, dia tak pernah menganggap dirinya terlalu politis selama bertahun-tahun bekerja di sebuah agen humas.

Penggulingan pemerintahan terpilih oleh militer, yang selama ini tidak disukainya, mengejutkannya. Dia mulai menggambar hingga larut malam.

Salah satu gambarnya sekarang sering digunakan dalam gerakan unjuk rasa: seorang perempuan muda dalam sarung tradisional membawa wajan dan sutil. Latar belakangnya berwarna merah tua, warna khas partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD),  yang digulingkan dari kekuasaan kendati meraih dua kemenangan besar dalam pemilihan umum.

Setiap malam pada pukul 20.00, kota-kota di seluruh Myanmar diwarnai dengan hiruk pikuk orang yang memukul panci, wajan, sutil, dan apa pun yang membuat keributan. Tujuannya adalah untuk menangkal iblis.

4 dari 5 halaman

Revolusi hip-hop

hop rev1

Penguasa militer Myanmar sejak lama terancam dengan seni, memenjarakan penyair, aktor, pelukis, dan rapper.

Di antara puluhan orang yang ditangkap bersama  Aung San Suu Kyi dalam serangan fajar kudeta adalah seorang pembuat film, dua penulis, dan seorang penyanyi Reggae. Seorang seniman grafiti yang karyanya  meramaikan unjuk rasa di Yangon selama dua pekan terakhir mengatakan dia melarikan diri dari polisi. Begitu pula dua penyair. Pada Rabu, surat perintah penangkapan dikeluarkan untuk aktor, sutradara dan penyanyi.

Ko Zayar Thaw adalah anggota Generation Wave, grup hip hop yang menantang mantan penguasa junta melalui liriknya yang nakal. Setelah menjalani hukuman lima tahun penjara karena kegiatan aktivismenya, dia bergabung dengan NLD pada 2012.  Zayar Thaw memenangkan kursi parlemen di sebuah distrik yang merupakan basis kuat militer.

“Seninam hip-hop telah menjadi sebuah budaya revolusi, jadi dalam generasi kami, kami protes lewat lagu,” ujarnya.

“Sekarang semua jenis seniman terlibat karena mereka tak ingin kehilangan nilai demokrasi.”

5 dari 5 halaman

Terinspirasi Hong Kong dan Thailand

kong dan thailand rev1

Gejolak artistik di Myanmar saat ini terinspirasi gerakan unjuk rasa regional lainnya. Di Hong Kong, unjuk rasa berlangsung berbulan-bulan pada 2019 lalu.  

Anak-anak muda yang ikut demo memeriahkan aksi mereka dengan kartun lucu dan menghias dinding dengan kertas warna-warni yang disebut Tembok Lennon di Praha, di mana seni dan pesan perbedaan pendapat melawan komunisme berkembang biak. Dimotivasi oleh inkarnasi oposisi sebelumnya, para pengunjuk rasa Hong Kong mempopulerkan penggunaan payung kuning melawan meriam air dan mengubahnya menjadi meme.

Kemudian, gerakan demokrasi Hong Kong menyemangati para demonstran pro-demokrasi di Thailand, yang menggelar aksi massa selama berbulan-bulan tahun lalu. Didorong oleh kekuatan imajinasi di Hong Kong, para pengunjuk rasa Thailand, yang menentang perdana menteri yang memimpin kudeta militer tahun 2014, mengerahkan rakit bebek karet tiup untuk menangkal meriam air. Mereka mempopulerkan penggunaan hormat tiga jari "The Hunger Games", yang pada awalnya berusaha dilarang mantan junta Thailand dengan menerapkan status daruratnya. Namun larangan itu tak didengar.

Beberapa hari setelah kudeta di Myanmar, dokter, yang melancarkan gerakan pembangkangan sipil yang sekarang telah memaksa sekitar 750.000 orang untuk berhenti bekerja, mengacungkan tiga jari mereka sebagai protes. Selain itu, banyak juga poster unjuk rasa dalam bahasa Inggris, untuk menarik perhatian internasional.

“Saya terinspirasi oleh bagaimana pengunjuk rasa Hong Kong dan Thailand menggunakan kreativitas dan humor dalam protes mereka,” kata Kyaw Nanda.

Arus protes mengalir ke dua arah. Pekan lalu, sebuah kelompok pemuda Thailand mengadopsi kampanye panci dan wajan dari Myanmar untuk melakukan protes di Bangkok.

“Di kawasan itu, ada perjuangan untuk demokrasi, hak asasi manusia dan keadilan,” kata U Aye Ko, seorang pelukis di Myanmar yang karya seninya bertema politik.

“Gerakan ini di luar masalah satu bangsa. Kami semua telah bergabung bersama dalam perlawanan menentang penindasan.” [pan]

Baca juga:
Militer Myanmar Jamin Pemilu Baru, Demonstran Tutup Layanan Kereta Api
Dakwaan Baru Bagi Aung San Suu Kyi: Melanggar Aturan Pembatasan Covid-19
Junta Militer Myanmar Kembali Blokir Internet untuk Halangi Pengunjuk Rasa
Menengok Dampak Gejolak Politik Myanmar ke Ekspor Indonesia
Pengacara: Penahanan Aung San Suu Kyi Diperpanjang Sampai 17 Februari

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Myanmar
  3. Kudeta Militer Myanmar
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini