Lima sentimen negatif media Australia terhadap Indonesia

Rabu, 24 Februari 2016 06:02 Reporter : Muhammad Radityo
Lima sentimen negatif media Australia terhadap Indonesia The Courier Mail. ©AFP PHOTO/William West

Merdeka.com - Kedekatan emosional Indonesia dan Australia terkadang menjadi intrik tersendiri bagi kelompok media untuk saling tuding. Melalui kebebasan pers, media Australia telah acap kali melakukan tudingan sepihaknya dan membuat Indonesia terlihat kurang elok di mata dunia.

Sebagai contoh, saat Presiden Jokowi digambarkan sebagai 'tukang masak' ketika menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-20. Dalam karikatur yang dimuat koran besar Australia tertulis judul "Selamat datang di surga dunia". Wajah-wajah pemimpin dunia direkayasa serupa mereka yang tengah berpesta pantai. Namun entah mengapa hanya Presiden Jokowi yang mendapat peran tukang masak.

Contoh lainnya, media Australia kerap melontarkan sentimen mereka yang menyebut Indonesia sebagai tempat rekrut ISIS dan menyinggung perpecahan di Papua Barat.

Berikut serangkaian sentimen negatif media Australia kepada Indonesia yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber:

1 dari 5 halaman

Media Australia bikin karikatur soal penyadapan SBY-Ibu Ani

Karikatur SBY. ©www.heraldsun.com.au

Hubungan Indonesia dan Australia saat ini sedang memanas lantaran kasus penyadapan terhadap Presiden SBY , Ibu Ani dan sejumlah pejabat tinggi Indonesia oleh Australia. Tak cuma media di Indonesia saja yang ramai menulis tentang penyadapan ini. Namun media Australia juga melakukan hal yang sama.

Tak cuma menulis soal pemberitaan penyadapan, namun media Australia juga ada yang memuat karikatur lucu soal penyadapan ini.

Seperti yang dimuat di http://www.heraldsun.com.au. Media negeri kanguru tersebut hari ini membuat karikatur tentang SBY dan Ibu Ani yang tampak marah dengan kasus penyadapan tersebut.

Dalam karikatur itu, digambarkan SBY sedang menelepon Perdana Menteri Australia Tony Abbott dengan nada tinggi dan muka manyun.

"Saya mau ngomong sama Perdana Menteri Australia," kata SBY sambil memegang telepon.

Di seberang sana ada Perdana Menteri Australia Tony Abbott menerima telepon SBY . "Iya, saya sendiri yang bicara. Panggilan ini direkam untuk kepentingan perbaikan layanan dan latihan (menyadap)," jawab Abbott sambil tertawa ngakak dan mengedipkan salah satu matanya.

Ucapan Abbott itu merujuk pada pernyataannya pekan lalu (14/11). Kartunis Herald Sun menyindir pernyataan sang perdana menteri dari kubu liberal-konservatif tersebut.

Kala itu Abbott mengomentari kasus yang mengemuka baru dugaan spionase Kedutaan Australia di Jakarta. "Istilah memata-matai itu berlebihan, lebih tepat barangkali meneliti. Mencari tahu apa saja yang terjadi di Indonesia, semua negara melakukannya," kata Abbott.

Dalam gambar tersebut, SBY tampak bersama Ibu Ani yang juga tampak manyun. SBY mengenakan batik lengan panjang warna biru dengan membawa koran Jakarta Post dengan HL, "Indonesian President's Phone Tapped by Australia." Sementara Ibu Ani tampak mengenakan kebaya warna hijau, kalung mutiara dan tampak marah.

Tony Abbott sendiri tampak santai mengenakan kaos warna kuning dihiasi beberapa kata seperti, 'Axe, Co2, tax, liberal, stop the boats.

Di ujung bawah karikatur ada gambar kepala yang sedang bicara, 'rekaman bocor.'

2 dari 5 halaman

Putra Jokowi marah disebut media Australia tolak hukuman mati

Gibran Rakabuming. @Chili_Pari

Sejumlah media Australia pekan lalu memberitakan putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, 27 tahun, meminta ayahnya mengampuni terpidana mati asal Australia Andrew Chan dan Myuran Sukumaran atau yang biasa disebut Duo Bali Nine.

Media seperti Independent Australia menulis, atas nama teman-temannya di Australia, Gibran memohon agar ayahnya membatalkan hukuman mati bagi Duo Bali Nine itu.

Media itu juga menyebut Gibran adalah lulusan University of Technology, Sydney.

Teman-temannya kampusnya yang tinggal di Australia dikatakan meminta Gibran untuk menyampaikan kepada ayahnya tentang permohonan pengampunan bagi Duo Bali Nine. Independent Australia juga mengatakan Gibran menolak hukuman mati dan sudah beberapa kali beradu pendapat dengan ayahnya soal eksekusi mati Duo Bali Nine.

Namun parahnya, Independent Australia tidak menyebutkan dari mana sumber berita yang ditulis itu.

Kemarin media lain, News Corp Australia, menelusuri kebenaran berita itu dengan mendatangi perusahaan katering yang dikelola oleh Gibran di Solo, Jawa Tengah.

Ketika ditemui, Gibran mengatakan dia tidak pernah kuliah di Sydney.
Gibran membanting pintu dan memarahi koresponden News Corp yang sebelumnya mengirimkan surat elektronik buat menanyakan soal ini.

"Saya bilang langsung kepada Anda. Saya dukung hukuman mati. Dan saya kuliah di Singapura, bukan Australia. Berita itu salah," kata Gibran, seperti dilansir News.com.au, (9/3).

Dia lalu berbalik dan pergi.

3 dari 5 halaman

Media Australia bocorkan dokumen BIN soal tokoh Papua paling bahaya

dokumen BIN berisi tokoh Papua merdeka. ©theage.com

Salah satu perusahaan media terbesar di Australia, Fairfax Media, mendapatkan dokumen Badan Intelijen Negara (BIN) yang berisi daftar nama sejumlah tokoh gerakan Papua Merdeka yang paling berbahaya.

Surat kabar the Sydney Morning Herald melaporkan, Kamis (4/2), dalam daftar itu terdapat nama-nama tokoh agama Papua, aktivis politik, dan bahkan mahasiswa Papua yang tinggal di luar Papua. Kekuatan dan kelemahan tokoh-tokoh itu juga diungkap dalam dokumen BIN tersebut. Seperti kelemahan terhadap wanita dan alkohol. Selain itu dijabarkan juga strategi buat melemahkan gerakan Papua Merdeka.

Dokumen yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris ini, kata Sydney Morning Herald, menunjukkan ketakutan pemerintah Indonesia terhadap gerakan Papua Merdeka sekaligus pelanggaran hak asasi di Papua.

Dokumen BIN berbentuk presentasi yang diperoleh Fairfax itu tertanggal Maret 2014, lengkap dengan logo BIN di sebelah kanan atas.

Setelah diminta konfirmasi oleh Fairfax Media, BIN menyatakan akan mengadakan penyelidikan internal terhadap kasus ini.

"BIN tidak pernah mengeluarkan dokumen semacam itu," kata Direktur Informasi BIN Sundawan Salya. "Kami melakukan operasi intelijen dan tidak akan menggunakan dokumen terbuka seperti itu."

Selain berisi nama-nama tokoh gerakan Papua Merdeka, terdapat juga nama tokoh-tokoh Papua yang pro NKRI.

Dokumen itu memuat target "minimal" dan "maksimal" terhadap masing-masing nama dalam daftar yang harus dicapai dalam kurun waktu April hingga Oktober 2014.

Target "minimal" dari operasi BIN itu adalah nama-nama tersebut tidak lagi mengangkat isu pelanggaran berat hak asasi di Papua atau menolak kemerdekaan Papua.

Sedangkan target "maksimal"nya adalah mereka mendukung NKRI atau menyokong undang-undang otonomi khusus bagi Papua yang sebelumnya diusulkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Markus Haluk adalah salah satu nama aktivis politik yang disebut dalam daftar itu. Dalam dokumen itu dikatakan dia pernah menghadiri seminar yang membahas kemerdekaan Papua.

Kekuatannya adalah mampu menggerakkan warga Papua yang tidak berpendidikan tinggi dan membuat propaganda melalui media. Kelemahannya, kata dokumen itu, uang dan perempuan.

"Ini adalah pelecehan terhadap harga diri saya, kepribadian saya," kata Haluk kepada Fairfax Media. "Saya punya istri, saya bukan playboy. Saya tahu pemerintah Indonesia punya banyak cara buat mencapai tujuan. Strategi intelijen, strategi Jakarta untuk membunuh seorang pejuang."

Dia mengaku tidak takut atau panik.

"Perjuangan saya adalah menyelamatkan rakyat Papua. Saya tidak disponsori atau dibayar oleh siapa pun. Saya akan terus berjuang hingga kebenaran ditegakkan di Papua."

4 dari 5 halaman

Koran Australia gambarkan Jokowi tukang masak pemimpin dunia

The Courier Mail. ©AFP PHOTO/William West

Para pemimpin dunia hari ini, Jumat (14/11) berdatangan di Kota Brisbane, Australia, buat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi G-20. Tak terkecuali Presiden Joko Widodo yang setelah rampung melawat ke Myanmar, transit sejenak di Bali, kemudian langsung bertolak ke Negeri Kanguru. Rombongan RI-1 tiba pagi tadi waktu setempat.

Sambutan masyarakat Australia terhadap datangnya 20 pemimpin negara ekonomi terbesar sejagat itu cukup antusias. Semangat itu tergambar dari media massa besar di sana yang ramai-ramai memberitakan perhelatan akbar tersebut.

Namun, entah atas alasan apa, salah satu koran terbesar Australia, The Courier Mail, dalam edisi khusus hari ini menggambarkan Presiden Jokowi sebagai tukang masak.

Judul halaman depan koran itu tertulis "Selamat datang di surga dunia". Wajah-wajah pemimpin dunia diedit sedemikian rupa, dipasangkan ke badan orang-orang yang terlihat menghadiri pesta pantai.

Ambil contoh, Presiden Amerika Serikat Barack Obama digambarkan telanjang dada, hanya mengenakan celana boxer, terkesan siap bersenang-senang. Ada juga Perdana Menteri India Narendra Modi terlihat seperti usai memancing lalu memamerkan ikan besar.

Berbeda dari 19 pemimpin dunia lainnya, cuma Presiden Jokowi yang digambarkan memasak di tengah pesta. Dia mengenakan celemek sambil mengenakan peci. Dengan wajah tersenyum, Jokowi dikesankan girang melayani para pemimpin lainnya dalam pesta tersebut.

Belum diketahui respon WNI mukim Australia atas tampilan laman muka Courier Mail. Tanggapan Jokowi atas cover editan itu juga belum diketahui.

Forum G-20 berlangsung selama 15-16 November. Ini akan menjadi akhir dari tur internasional perdana Jokowi setelah dilantik sebagai presiden bulan lalu.

Pada pertemuan kali ini, para pemimpin negara utama dunia akan membahas upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi global.

Dari keterangan Kementerian Luar Negeri, Presiden Jokowi akan diminta berbicara dalam forum terhormat itu. Terutama, mengenai pengalaman menjalankan reformasi birokrasi semasa jadi pemimpin Solo dan DKI Jakarta.

Indonesia bergabung dengan G-20 pada 2008 setelah mencatatkan rekor pertumbuhan ekonomi tinggi sedunia persis di bawah China.

5 dari 5 halaman

Media Australia rekam ISIS rekrut anggota di masjid Jakarta

Pertemuan pengikut ISIS di masjid Jakarta. ©2016 Merdeka.com

Media Australia ABC, melaporkan pertemuan rahasia para pendukung kelompok teror Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), di salah satu masjid di Jakarta. Pertemuan rahasia ini ditujukan untuk merekrut militan baru agar bergabung dengan kelompok tersebut.

Masjid As-Syuhada menjadi lokasi pertemuan. Namun takmir mengaku bahwa kelompok pengajian ini cuma menyewa tempat. ABC mengklaim mereka merekam dengan jelas semua pertemuan itu.

Seorang juru kamera ABC, yang berkebangsaan Indonesia, disebutkan memperoleh akses ke pertemuan tersebut. Dia merekam dengan jelas apa yang diungkapkan dalam pertemuan tersebut, meski ada upaya untuk menghentikan gambar yang dia ambil.

"Mereka mendeklarasikan jika wilayah ISIS merupakan sebuah wilayah yang menegakkan hukum Allah sepenuhnya dan tidak ada intimidasi dari negara lain," ujar ulama garis keras, Syamsudin Uba, pada pertemuan tersebut, seperti dilaporkan ABC, Selasa (23/2).

"Dan atas dasar pengorbanan darah, mereka menyatakan diri sebagai sebuah Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)."

Syamsudin Uba sebelumnya pernah ditangkap oleh pihak keamanan Indonesia, sayangnya belum ada hukum yang membawahi perekrutan militan ISIS di Tanah Air.

"Muslim hanya butuh berkat dari Allah, di sebuah negara yang menegakkan hukum Allah sepenuhnya. Meskipun tidak disukai oleh para kafir," lanjut ulama tersebut dalam khotbahnya itu.

Dalam pertemuan tersebut, secara jelas terpampang bendera milik kelompok teror ISIS diperlihatkan kepada para jemaah. Kala itu, sang ulama tengah memperlihatkan film mengenai propaganda ISIS di Youtube.

"Ketika kalian berada di sana nanti, dengan berkat Allah, kalian tidak perlu lagi pusing membayar sewa, kalian tidak perlu membayar tagihan listrik dan air. Kalian akan mendapat makanan enak setiap bulannya. Bahkan kalian akan mendapat gaji per bulan, dan mendapat jaminan kesehatan dan perawatan medis gratis," lanjut pria dengan pakaian hitam itu. [pan]

Baca juga:
Bak film action, bus ini terobos jembatan setinggi 3 meter
Lima kisah paling memilukan bayi dibuang ibunya tapi selamat
Kekompakan manusia berselancar dengan dua ekor anjing
Penumpang sakit keras, pesawat AirAsia delay 36 jam di Bali
Narkoba setengah ton diselundupkan ke Australia pakai wadah kutang

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini