Lecehkan pegawai, Dinas Intelijen Kanada digugat Rp 368 miliar

Senin, 17 Juli 2017 13:26 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Intelijen Kanada. ©Reuters

Merdeka.com - Dinas Intelijen Kanada (CSIS) sedang diguncang masalah. Mereka digugat oleh lima karyawannya karena selalu menjadi sasaran perundungan lantaran tempat bekerja mereka sarat dengan budaya diskriminatif terhadap ras, muslim, hingga homofobia.

Dilansir dari laman The Guardian, Senin (17/7), kelimanya menggugat CSIS sebesar CAD 35 juta, atau setara lebih dari Rp 368 miliar. Gugatan sejumlah 54 halaman itu sudah didaftarkan ke pengadilan federal setempat.

Menurut kuasa hukum para penggugat, John Phillips, mereka melakukan hal itu karena pengalaman lima karyawan senior yang identitasnya dirahasiakan. Kemudian, masing-masing dari mereka mulai mengumpulkan bukti-bukti secara mandiri dan bersama-sama buat mendukung argumen hukum. Mereka menyatakan selama bertahun-tahun CSIS membudayakan diskriminasi dan pelecehan secara formal atau tidak, yang mulanya hanya berupa ejekan, kemudian berbuntut ancaman balas dendam hingga nekat melukai.

"Mereka adalah para pegawai yang amat memahami CSIS. Mereka adalah orang-orang yang kita perlukan saat berurusan dengan keamanan negara. Mewakili kaum minoritas menjadi sangat penting, dan bisa jadi petaka bagi warga Kanada kalau kita tidak bisa mempertahankan keberadaan mereka," kata Phillips.

Dari pengakuan dan bukti-bukti dikumpulkan para penggugat, para petinggi kerap mengejek, melecehkan, hingga mengancam anak buahnya. Padahal di sana ada sekitar 3300 pekerja. Ketika dilawan, para penyelia merasa tindakan mereka lazim.

Contohnya adalah dari pengakuan seorang pekerja yang penyuka sesama jenis. Dia mulai bekerja di markas CSIS di Kota Toronto sejak sepuluh tahun lalu. Dia memiliki pasangan seorang muslim. Sejak atasannya tahu kalau dia gay, lelaki itu selalu menjadi bahan cemoohan. Sang atasan kerap menjulukinya bocah gay, banci, hingga homo saat bekerja sehari-hari.

Pernah suatu waktu dia membawa pasangannya yang seorang muslim ke acara sosial. Atasannya yang juga ada di acara itu mendadak mengatakan kalau seluruh muslim adalah teroris. Ketika ditanya kenapa dia bisa berkomentar seperti itu, dia kembali menjawab dengan pernyataan sama. Bahkan, dia dikirimi surel dari atasannya berisi tulisan, 'Awas, jangan sampai iparmu menggorok lehermu saat kamu tidur karena kamu homo'.

Nuansa anti-Islam juga sangat kentara di dalam CSIS. Seorang intelijen perempuan yang merupakan muslimah memutuskan mengenakan jilbab sekitar 2004. Sejak itu, sikap atasan dan sejawatnya berubah. Bahkan, penyelianya mengharuskan dia melapor terlebih dulu jika berurusan dengan kaum muslim lain di luar pekerjaan. Termasuk mesti menjelaskan ketika dia hendak salat di masjid, sekedar mengikuti pengajian, atau kegiatan sosial lain.

Seorang muslimah lain sudah berkarir 22 tahun di CSIS menyatakan tempat kerjanya memang tidak ramah terhadap orang Islam. Menurut dia, orang-orang di sana selalu punya prasangka buruk dan tidak pernah percaya terhadap muslim. Mereka seolah mereka dipinggirkan dan hanya diperlukan sekedarnya.

Kemudian, di dalam berkas gugatan itu juga mencantumkan tentang bagaimana orang-orang di CSIS tidak suka dipimpin perempuan, apalagi yang berkulit hitam. Intelijen perempuan berkulit hitam itu mengaku karirnya cemerlang, tetapi rekan kerjanya selalu menganggapnya tidak berprestasi.

"Sebelum memutuskan mengajukan gugatan, mereka khawatir bakal ada pembalasan. Mereka mengambil langkah berani dengan melakukan ini," ujar Phillips.

Phillips menambahkan, kelima penggugat sebenarnya sudah harus pensiun, tetapi masa kerja mereka diperpanjang. Mereka mengaku akibat dampak perlakuan di tempat kerjanya mereka mengalami stres, cemas berlebihan, dan depresi.

Atas gugatan itu, Direktur CSIS David Vigneault, menyangkalnya dan mengatakan kalau para pegawai di lembaga itu saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

"Saya menekankan, sebagai organisasi, CSIS tidak membiarkan pelecehan, diskriminasi, atau perundungan dengan alasan apapun. Para pegawai selalu diminta melaporkan bentuk pelecehan, tanpa harus khawatir akan dibalas oleh atasan," kata David.

Pengadilan federal menetapkan waktu 30 hari bagi CSIS buat menanggapi gugatan itu. [ary]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.