“Rahim Orang Tigray Seharusnya Tidak Pernah Melahirkan"

Jumat, 23 April 2021 03:00 Reporter : Hari Ariyanti
“Rahim Orang Tigray Seharusnya Tidak Pernah Melahirkan" Seorang perempuan Tigray, Ethiopia, menggendong anaknya. ©Mohamed Nureldin Abdallah/Reuters

Merdeka.com - Akberet (nama samaran) tahu dia tidak lagi aman.

Pejuang Amhara yang bertanggung jawab di kampung halamannya di Humera dan wilayah konflik lainnya di Tigray barat baru saja memerintahkan warga Tigray atau disebut Tigrayan di lingkungannya untuk meninggalkan rumah dalam waktu 24 jam.

“Para pria milisi yang telah meneror kami selama berbulan-bulan, mengatakan kepada kami bahwa kami tidak diizinkan lagi tinggal di sana, karena kami orang Tigray,” jelas perempuan 34 tahun dan ibu tiga anak itu.

“Mereka memerintahkan kami untuk pergi dengan tangan kosong. Mereka mengatakan semua harta benda yang kami punya milik Amhara, bukan untuk kami,” lanjutnya, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (22/4).

Pasukan Amharan memasuki Tigray barat dari wilayah Amhara yang berdekatan untuk mendukung pasukan federal Ethiopia pada November tahun lalu, ketika Perdana Menteri Abiy Ahmed memerintahkan serangan pada Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Sejak saat itu, warga etnis Amhara, kelompok etnis terbesar kedua di Ethiopia, mengambil alih beberapa kawasan di wilayah itu – mereka mengklaim tanah di wilayah itu secara historis merupakan milik mereka.
Akberet tidak membuang-buang waktu setelah menerima ultimatum tersebut.

Esok pagi, pada 8 Maret, dia melarikan diri dari rumahnya berjalan kaki, anaknya yang baru berusia enam bulan dia ikat ke punggungnya, dan dua putranya – berusia empat dan tujuh tahun – dan adik laki-lakinya yang berusia 14 tahun berada di belakangnya.

Sekitar tujuh jam kemudian, saat mereka tiba di sebuah jembatan di Sungai Tekeze yang digunakan pasukan Amhara sebagai perbatasan informal antara apa yang mereka sebut Amhara saat ini dan Tigray, empat milisi Amhara menghentikan mereka. Para pria Amhara itu memisahkan Akberet dengan anak-anaknya dan adiknya dan membawanya ke sebuah rumah petani yang terbengkalai, hanya beberapa meter.

Empat pria itu secara bergiliran memperkosanya. Setelah selesai, para pria itu memasukkan batang besi panas ke vaginanya yang membakar rahimnya.

“Saya memohon agar mereka berhenti,” ujarnya kepada Al Jazeera.

“Saya meminta mereka, menangis, mengapa mereka melakukan itu pada saya. Apa salah saya kepada kalian?”

“Kamu tidak melakukan hal buruk pada kami,” kata pria tersebut kepadanya.

“Masalah kita adalah dengan rahimmu. Rahimmu melahirkan Woyane (istilah buruk untuk menyebut TPLF). Rahim seorang Tigray seharusnya tidak pernah melahirkan.”

Setelah pria milisi itu pergi, Akberet ditinggalkan tak sadarkan diri. Adiknya datang menjemputnya, dan dengan bantuan beberapa orang yang telantar, dia dibawa ke sebuah kota di wilayah timur.

“Pemerkosaan itu membuatnya mandul,” kata seorang dokter yang merawatnya di sana mengonfirmasi ke Al Jazeera.

Saat ini pendarahannya telah berhenti, tapi Akberet saat ini sedang dalam proses penyembuhan di rumah seorang kerabat, tidak bisa berjalan, dan harus tetap melebarkan kakinya. Dia juga kesulitan tidur pada malam hari.

Baca Selanjutnya: Ratusan korban pemerkosaan...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini