“Militer Tidak Memiliki Rasa Kemanusiaan, Mereka Bisa Membunuh Kami Kapan Saja”

Selasa, 8 Juni 2021 07:00 Reporter : Hari Ariyanti
“Militer Tidak Memiliki Rasa Kemanusiaan, Mereka Bisa Membunuh Kami Kapan Saja” Pelatihan militer yang dilaksanakan kelompok pemberontak etnis Partai Progresif Nasional Karenni (KN. ©Kantarawaddy Times via AFP

Merdeka.com - Tidak ada yang tersisa di desanya Mi Meh.

Setelah militer mulai melancarkan serangan udara tanpa pandang bulu dan menembaki kota Demoso di negara bagian Kayah tenggara Myanmar, juga dikenal sebagai Karenni, semua orang melarikan diri ke hutan.

Dengan hanya pakaian di punggungnya dan terpal kecil sebagai alas, Mi Meh dan warga lain dari desanya mendirikan kemah. Ketika diwawancara Al Jazeera pada 27 Mei, dia kehabisan makanan dan air, pakaiannya basah kuyup oleh hujan lebat dan dia belum mandi lebih dari seminggu.

Tapi kekhawatiran terbesar bagi Mi Meh adalah keselamatannya.

“Pesawat sering terbang di atas kepala,” katanya.

“Kami ada banyak perempuan dan anak-anak di sini. Saya sangat khawatir karena (militer) tidak memiliki kemanusiaan. Mereka bisa membunuh kami kapan saja.”

Al Jazeera menggunakan nama samaran untuk Mi Meh, yang seperti beberapa orang yang diwawancarai untuk artikel ini, berbicara dengan syarat anonim karena militer terus menangkap dan membunuh mereka yang mengkritik atau menentangnya.

Kota asal Mi Meh adalah salah satu di antara beberapa kota di Kayah dan Negara Bagian Shan yang berdekatan di mana penduduk setempat baru-baru ini terpaksa mengungsi. Menurut perkiraan PBB, antara 85.000 hingga 100.000 orang dari Demoso, Loikaw dan kota Hpruso di Negara Bagian Kayah dan Pekon dan Hsiseng di Negara Bagian Shan meninggalkan rumah mereka dalam 10 hari setelah 21 Mei, ketika pertempuran pecah antara militer Myanmar atau Tatmadaw dan kelompok perlawanan sipil yang menamakan dirinya Pasukan Pertahanan Rakyat Karenni (KPDF).

KPDF merupakan satu dari belasan pasukan pertahanan sipil yang muncul sejak akhir Maret, sementara konflik selama puluhan tahun antara organisasi etnis bersenjata dan Tatmadaw juga telah muncul kembali. Dalam dua bulan pertama setelah kudeta militer 1 Februari, jutaan orang turun ke jalan menuntut kembalinya pemerintahan sipil, tetapi penggunaan teror yang terus menerus oleh Tatmadaw – sejauh ini telah menewaskan 849 warga sipil dan menangkap lebih dari 5.800 – telah mendorong peningkatan jumlah perlawanan bersenjata.

“Karena pasukan rezim Burma (Tatmadaw) menculik dan membunuh warga sipil tak berdosa secara sewenang-wenang, tidak ada pilihan lain bagi rakyat selain membela diri dengan cara apa pun yang bisa mereka dapatkan,” kata seorang pemimpin komunitas lokal di Kayah kepada Al Jazeera, dikutip Senin (7/6).

“Mereka (pasukan pertahanan sipil) tidak memiliki daya tembak seperti pasukan rezim Burma, tetapi mereka memiliki kemauan dan tekad untuk melawan kejahatan.”

Baca Selanjutnya: Senjata rakitan sendiri...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini