“Keluargaku Alami Kebiadaban Terburuk pada Zaman Saat Hak-Hak Binatang Pun Dihormati"

Selasa, 23 Maret 2021 07:29 Reporter : Hari Ariyanti
“Keluargaku Alami Kebiadaban Terburuk pada Zaman Saat Hak-Hak Binatang Pun Dihormati" Penduduk wilayah Oromia, Ethiopia. ©Katy Migiro/Reuters

Merdeka.com - Tibebu Girma tak bisa mengambil risiko lebih lama lagi. Pria 30 tahun ini sangat mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.

Tibebu, seorang petani di zona Qellem Wollega, wilayah Oromia, Ethiopia, selama ini hidup dari hasil menanam jagung dan menjualnya ke pasar tradisional di dekat desanya.

Tetapi rangkaian serangan mematikan terbaru yang menargetkan warga sipil etnis Amhara meyakinkannya, inilah saatnya berkemas dan pergi bersama istri dan anak laki-laki mereka yang masih bayi ke manapun yang lebih aman.

“Mereka bahkan tidak membedakan perempuan dan anak-anak,” kata Tibebu kepada Al Jazeera melalui telepon, dikutip Senin (22/3).

“Kami tidak aman di sini,” lanjutnya.

Sedikitnya 12 orang, termasuk anak tujuh tahun, dibacok sampai tewas dalam dua serangan keji pada 25 Februari di desa Boka dan Nehlu, bagian timur Oromia, seperti yang diceritakan sejumlah sumber kepada Al Jazeera. Di antara warga sipil yang terbunuh adalah paman Tibebu, Teshome Beyene dan Tadesse Muluneh, yang bekerja sebagai petani di area tersebut.

“Mereka bahkan tidak akan membiarkan kami sembuh,” kata Tibebu.

“Ada lagi pembunuhan di area yang sama pekan ini,” lanjutnya.

Menurut media pemerintah Ethiopia, 42 orang tewas dalam dua serangan berbeda pada 6 Maret dan 9 Maret yang menargetkan warga sipil Amhara di daerah Horo Guduru Waleg, Oromia.

Berlokasi sekitar 200 kilometer barat ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, Horo Guduru Welega adalah kawasan yang dihuni orang yang datang dari kelompok etnis Oromo dan Amhara, yang jika digabungkan membentuk sekitar dua pertiga dari 110 juta populasi negara tersebut.

Sayd Hassen kehilangan istrinya, Mulu Mekonnen, juga tidak anaknya dan seorang keponakan yang keempatnya berusia antara 10 dan 15 tahun. Mereka ditembak mati bersama sedikitnya 20 orang lainnya ketika desa mereka Dachin Gefersa diserang pada 9 Maret.

“Keluargaku mengalami kebiadaban terburuk pada zaman di mana bahkan hak-hak binatang pun dihormati,” ujar Sayd (56).

“Apa kejahatan yang telah dilakukan anak-anakku? Menjadi Amhara berarti mengorbankan nyawa mereka.”
Sayd mengungkapkan, para pembunuh menggeledah rumah keluarganya dan mengambil pakaian, uang, dan hewan ternak. Dia saat ini berlindung di sebuah sekolah bersama ratusan orang lainnya yang juga telantar akibat serangan tersebut.

“Hidup sebagai seorang pengemis di manapun yang akan akan lebih baik daripada tinggal di sini,” ujarnya.

“Para pembunuh keluargaku masih berada di luar sana.”

Baca Selanjutnya: Tak ada yang menghentikan mereka...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini