Kunjungi pengungsi Rohingya, peraih Nobel Perdamaian desak Suu Kyi mengundurkan diri

Senin, 26 Februari 2018 14:55 Reporter : Ira Astiana
Kunjungi pengungsi Rohingya, peraih Nobel Perdamaian desak Suu Kyi mengundurkan diri Aung San Suu Kyi angkat bicara soal Rohingya. ©REUTERS/Soe Zeya Tun

Merdeka.com - Tiga peraih Nobel Perdamaian mengunjungi kamp pengungsian warga Muslim Rohingya, di Bangladesh. Mereka adalah Shirin Ebadi dari Iran, Tawakkol Karman dari Yaman, dan Mairire Maguire Irlandia Utara.

Selama kunjungan tersebut, ketiganya berusaha untuk mengungkap kekerasan yang dialami oleh para pengungsi dan menilai situasi para pengungsi secara keseluruhan. Mereka juga mewawancarai para perempuan yang menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual dari pasukan militer Myanmar.

Setelah mendengar laporan terperinci tentang penyiksaan brutal para pengungsi Rohingya di tangan tentara Myanmar, Maguire menyampaikan pendapatnya sambil berusaha menahan air mata.

"Ini adalah pembantaian terhadap orang-orang Rohingya yang tidak bersalah. Ini adalah kebijakan genosida dari militer Myanmar dan pembersihan etnis Rohingya," kata Maguire, dikutip dari laman Asia Correspondent, Senin (26/2).

Dalam pernyataan yang sama, ketiganya juga mengungkapkan kekecewaan terhadap Aung San Suu Kyi sebagai sesama peraih Nobel Perdamaian. Mereka mendesak agar Suu Kyi mengundurkan diri jadi jabatan sebagai pemimpin de facto Rohingya.

"Kami juga menyampaikan seruan kepada saudara perempuan kami, Aung San Suu Kyi untuk bangun. Jika tidak, dia akan menjadi salah satu pelaku kejahatan ini. Kalau dia tidak bisa menghentikan semuanya, maka dia harus mengundurkan diri sekarang juga," ujar Karman.

Mereka juga menambahkan bahwa tentara Myanmar harus dibawa ke Pengadilan Internasional (ICJ) untuk menghadapi konsekuensi atas tindakan mereka dan mengajak masyarakat internasional untuk 'bangun' serta melakukan tindakan lebih berarti untuk membantu warga Rohingya. [frh]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini