Kuburan Massal Berisi 643 Mayat Diduga Korban Penculikan Ditemukan di Irak

Senin, 16 Desember 2019 15:15 Reporter : Hari Ariyanti
Kuburan Massal Berisi 643 Mayat Diduga Korban Penculikan Ditemukan di Irak Milisi Popular Mobilisation Units di Irak.. ©AFP/Getty via The Independent

Merdeka.com - Kuburan massal berisi 643 mayat warga sipil ditemukan di dekat wilayah tempur ISIS di Irak. Mayat di dalam kuburan massal itu diyakini warga Sunni yang dilaporkan menjadi target milisi Irak.

Biro kantor berita Arab Saudi, Alarabiya melaporkan, sumber-sumber resmi telah mengkonfirmasi mayat tersebut, ditemukan di sepanjang sisi jalan 5 kilometer utara Fallujah, milik suku Al Muhamdah - sebuah kelompok yang menghilang pada tahun 2016 dan belum pernah terlihat lagi sejak saat itu.

Wilayah itu diyakini berada di bawah kontrol tentara Irak di bawah bendera Unit Mobilisasi Populer (PMU), juga dikenal sebagai Hashd al-Shaabi, sebuah milisi yang dituduh AS dan Israel didukung Iran.

Milisi termasuk di antara pasukan yang berhasil mengusir ISIS dari negara itu - dan merupakan kunci untuk pertempuran Fallujah di mana mereka bertempur bersama pasukan negara Irak untuk membebaskan kota dari ISIS pada tahun 2016.

Namun segera setelah pembebasan wilayah itu, Amnesty International mengatakan setidaknya 643 pria dan anak lelaki telah menghilang dari wilayah tersebut dalam serangkaian penculikan oleh orang-orang yang diidentifikasi sebagai bagian dari PMU.

Amnesty menyebut warga sipil ditahan di lokasi yang disebut 'rumah kuning', dimana mereka disiksa dan ditahan tanpa makanan dan air. Korban yang selamat mengatakan mereka dipukul di kepala dan badan, dan dituduh bergabung dengan ISIS.

"Mereka tidak memberikan apapun untuk kami minum pada hari pertama; pada hari kedua mereka membawa botol kecil untuk 10 orang. Mereka mengangkut sekitar 300 orang dengan truk; kondisinya kotor dan menjijikkan," kata salah seorang korban selamat kepada Amnesty, seperti dilansir dari The Independent, Senin (16/12).

"Saya menduga itu sebelumnya digunakan untuk mengangkut hewan sebelum kami. Mereka memborgol kami setiap dua orang. Satu orang pria langsung meninggal saat itu, saya pikir karena kehausan dan lemas. Yang lain dibawa pergi dan kemudian saya mendengar suara tembakan. Kemudian saya juga mencium aroma terbakar," lanjutnya.

1 dari 1 halaman

Menyusul akhir dari pertempuran melawan ISIS di wilayah tersebut, kelompok itu telah berusaha untuk menjadi bagian dari negara Irak - dengan tujuan petinggi PMU semakin bergeser dari militer ke politik.

Tetapi kecaman internasional terhadap kelompok itu terus berlanjut. Sementara kelompok yang didominasi Syiah terdiri dari banyak faksi, sejumlah milisi di bawah bendera bersumpah setia kepada pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.

Pada bulan Juli, Perdana Menteri Adil Abdul-Mahdi, yang baru-baru ini mengundurkan diri, mengundang PMU untuk bergabung dengan militer Irak setelah AS mendesak kelompok itu untuk melakukan demobilisasi. [pan]

Baca juga:
Pimpinan Militer Inggris Sebut ISIS Belum Kalah dan Peringatkan Ancaman Teror
Reaksi Militan ISIS Saat Bertemu Korbannya
Pengakuan-pengakuan Mengerikan Milisi ISIS Perkosa dan Habisi Tawanan
Konvoi Pasukan Turki Diserang Bom di Suriah
Polisi Irak Tangkap Wakil Pemimpin ISIS di Sebuah Apartemen
Donald Trump Temui Anjing Pemburu Baghdadi, Disambut Bak Pahlawan

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Irak
  3. Penculikan
  4. Ekstremis ISIS
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini