Krisis Covid-19 India Guncang Citra Kekuatan Narendra Modi

Selasa, 4 Mei 2021 03:09 Reporter : Hari Ariyanti

Penanganan gelombang pertama

Pengamat mengatakan Modi tampil jauh lebih baik selama wabah gelombang pertama. Sejak awal pandemi, Modi kerap memakai masker dan menjaga jarak sosial.

Pada 24 Maret 2020, ketika India mencatat kurang dari 600 kasus infeksi, Modi menerapkan penguncian paling ketat di dunia dengan pemberitahuan empat jam sebelumnya. Warga dengan patuh tinggal di dalam rumah. Ketika Modi meminta warga untuk berdiri di balkon dan memukulkan panci dan wajan sebagai solidaritas untuk petugas kesehatan, jutaan orang melakukannya.

Para ahli memuji penguncian itu karena memperlambat penyebaran. Tetapi pembatasan tersebut menghancurkan secara ekonomi, membuat puluhan juta orang kehilangan pekerjaan dan membahayakan sejumlah ambisi termegah Modi, termasuk mengubah India menjadi kekuatan global. Dia takut memberlakukan penguncian kembali.

Setelah melonggarkan sejumlah pembatasan, infeksi meningkat, mencapai hampir 100.000 per hari pada September, tetapi sistem perawatan kesehatan tetap bertahan. Pada awal 2021, ketika infeksi menurun dan ekonomi mulai berjalan terhuyung-huyung, Modi dan timnya melakukan upaya bersama untuk memberi sinyal bahwa India telah kembali normal.

Banyak orang India melepaskan masker. Mereka kembali ke pasar dan bersosialisasi. Bahkan semakin banyak pembatasan dicabut. Pusat Covid-19 yang didirikan selama gelombang pertama dibongkar.

Pada Februari, pimpinan partainya menyatakan India telah "mengalahkan Covid di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Shri Narendra Modi yang mampu, sensitif, berkomitmen, dan visioner." Pada awal Maret, Harsh Vardhan, menteri kesehatan India, mengumukan India “berada di ujung pandemi Covid-19”.

Satuan tugas Covid-19 India, yang mencakup sekitar 20 profesional kesehatan, rapat setidaknya dua kali sebulan. Namun antara 11 Januari dan 15 April, gugus tugas itu tidak pernah rapat sama sekali, menurut tiga orang sumber. Dua orang mengatakan pemerintah yakin ancaman telah berlalu.

Beberapa ilmuwan prihatin dengan pernyataan resmi bahwa India, negara berpenduduk 1,4 miliar, mendekati kekebalan kawanan, atau titik di mana cukup banyak orang dalam populasi yang kebal - baik melalui vaksinasi atau melalui infeksi sebelumnya - bahwa virus tidak dapat lagi menyebar dengan mudah.

Para ilmuwan yang bersangkutan mundur, menurut ketiga sumber itu. Mereka mengatakan studi serologis tidak selalu mendukung gagasan itu. Dua orang yang akrab dengan penelitian tersebut mengatakan hasil yang dipilih pemerintah yang menyarankan gerakan menuju kekebalan kawanan.

Program vaksinasi kehilangan tenaga karena rasa puas diri mulai muncul. Pemerintahan Modi mulai mengekspor vaksin buatan India untuk mendapatkan dukungan dari tetangga yang mungkin tergoda untuk mengambil vaksin dari China, saingan regional New Delhi. Pemerintah hanya menyetujui dua vaksin untuk digunakan, keduanya dibuat di India. Kurang dari 2 persen populasi telah menerima dua dosis vaksin.

Juru bicara BJP, Rajeev Chandrasekhar mengatakan tidak ada kekurangan ketika pemerintah mengekspor vaksin dan "pemerintah secara proaktif telah memperluas produksi dan pengadaan dari sumber alternatif."

[pan]

Baca Selanjutnya: Kampanye tanpa masker...

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini