Korut Sebut Trump 'Orang Tua Plin Plan' di Tengah Ketegangan yang Meningkat

Selasa, 10 Desember 2019 11:17 Reporter : Hari Ariyanti
Korut Sebut Trump 'Orang Tua Plin Plan' di Tengah Ketegangan yang Meningkat Kim Jong Un berkunjung ke pabrik sepatu. ©2018 KCNA via REUTERS

Merdeka.com - Korea Utara (Korut) menyebut Donald Trump sebagai "orang tua yang plin plan' setelah Presiden Amerika Serikat (AS) itu berkicau bahwa pemimpin Korut, Kim Jong-un tidak ingin memutuskan hubungan khusus kedua pemimpin dan mempengaruhi pemilihan presiden AS dengan sikap bermusuhan.

Pejabat senior Korut, mantan negosiator nuklir, Kim Yong-chol mengatakan dalam sebuah pernyataan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan AS karena tidak ada ruginya dan menuduh pemerintah Trump berusaha mengulur waktu menjelang akhir dari batas waktu yang ditetapkan oleh Kim bagi Washington untuk menyelamatkan perundingan nuklir.

Pada Minggu, Trump berkicau: "Kim Jong-un terlalu pintar dan telah banyak kehilangan, semuanya sebenarnya, jika dia bertindak dengan sikap bermusuhan. Korea Utara, di bawah kepemimpinan Kim Jong-un, memiliki potensi ekonomi yang luar biasa, tetapi harus melakukan denuklirisasi seperti yang dijanjikan."

Trump mengacu pada pernyataan samar yang dikeluarkan kedua pemimpin selama KTT pertama mereka di Singapura pada Juni tahun lalu yang menyerukan semenanjung Korea bebas-nuklir tanpa menjelaskan kapan atau bagaimana itu akan terjadi.

Trump menambahkan bahwa Kim "tidak ingin membatalkan hubungan istimewanya dengan Presiden Amerika Serikat atau mengganggu Pemilihan Presiden AS pada bulan November."

Kim Yong-chol mengatakan kicauan Trump jelas menunjukkan bahwa dia adalah orang tua menjengkelkan yang tidak sabaran.

"Trump memiliki banyak hal yang tidak dia ketahui tentang (Korut). Kami tidak akan rugi apa-apa lagi. Meskipun AS dapat mengambil apa pun lebih dari kami, itu tidak pernah bisa menghilangkan rasa hormat yang kuat, kekuatan dan kebencian terhadap AS dari kami," jelasnya, dilansir dari laman The Guardian, Selasa (10/12).

Kim Yong-chol mengunjungi Washington dan bertemu Trump dua kali tahun lalu, saat mengatur KTT dengan Kim Jong-un.

1 dari 1 halaman

Negosiasi nuklir tersendat setelah KTT Kim-Trump pada Februari di Vietnam gagal ketika pihak AS menolak tuntutan Korut untuk meringankan sanksi. Kim mengatakan pihaknya akan mencari "cara baru" jika AS mempertahankan sanksi dan tekanan, dan mengeluarkan batas waktu untuk tercapaianya kesepakatan. Trump dan Kim bertemu untuk ketiga kalinya pada Juni di perbatasan Korut dan Korsel, dan sepakat melanjutkan perundingan.

Pernyataan Kim Yong-chol itu muncul beberapa hari setelah wakil menteri luar negeri pertama Korea Utara, Choe Sun-hui, mengeluarkan ancaman serupa terhadap Trump setelah ia berbicara dalam KTT NATO di London mengenai kemungkinan tindakan militer terhadap Korut dan menyebut Kim dengan julukan 'Rocket Man'.

Pada hari Minggu, Akademi Pertahanan Nasional Korut mengatakan telah dilakukan 'uji coba penting' di fasilitas roket jarak jauh di pantai barat negara itu, memunculkan spekulasi Korut dapat menguji mesin roket baru untuk kendaraan peluncuran satelit atau rudal jarak jauh berbahan bakar padat.

Penasihat keamanan nasional Trump, Robert O'Brien, mengatakan kepada CBS jika Korut melanjutkan uji coba nuklir, akan menjadi kesalahan besar bagi Korut.

"Itu tidak akan berakhir baik bagi mereka jika mereka melakukannya," kata O'Brien. [pan]

Baca juga:
Korut Kirim 'Hadiah Natal' Untuk AS Melalui Situs Uji Coba Rudal
Korut Hentikan Perundingan Denuklirisasi dengan AS
Tiga Kali Pertemuan Tanpa Hasil, Kim Jong-un Sudah Malas Bertemu Trump
Makna Terselubung di Balik Kim Jong-un Naik Kuda Putih ke Gunung Paektu
Ini Alasan Jokowi Soal Perlunya Perdamaian di Semenanjung Korea
Peluncuran Rudal Korut Jadi Tontonan Warga Seoul

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini