Korupsi di Israel era Netanyahu lebih masif dan merajalela

Rabu, 15 November 2017 07:07 Reporter : Pandasurya Wijaya
netanyahu dan istrinya. ©Reuters

Merdeka.com - Jajak pendapat Juli lalu di Israel menyatakan mayoritas warga masih akan memilih Benjamin Netanyahu sebagai perdana menteri meski jika dia terbukti korupsi.

Stasiun televisi Channel 10 TV belum lama ini menggelar survei serupa yang menyimpulkan, jika pemilihan umum dilakukan hari ini maka Netanyahu akan meraih 28 persen suara, lebih unggul dari pesaing utamanya Avi Gabbay dan Yar lapid yang masing-masing hanya mendapat 11 persen suara.

Akiva Eldar, pengamat dan penulis kolom, menanggapi tetap populernya nama Netanyahu meski dia dituduh korupsi dan polisi mengatakan sudah punya cukup bukti buat mendakwanya.

"Tahap selanjutnya yang tidak akan lama lagi adalah, warga Israel akan kembali memilih pelaku kriminal sebagai pemimpin dan mempertaruhkan nasib mereka di pundaknya," kata Eldar, seperti dilansir laman Middle East Monitor, Selasa (14/11).

Meski begitu Eldar seharusnya tidak usah terkejut karena praktik korupsi, penyuapan, dan penyalahgunaan wewenang tidak aneh dalam dunia politik, seperti juga di Israel.

Penulis kolom Alex Roy di The Times of Israel mengatakan, "Fakta bahwa Netanyahu masih punya kans untuk kembali jadi perdana menteri memperlihatkan betapa sudah korupnya kita."

Roy menulis, Israel sudah menjadi negara yang terbiasa dengan koruptor karena setiap perdana menteri sebelumnya, selama 25 tahun belakangan, pernah dituntut kasus rasuah.




Tapi korupsi di era Netanyahu berbeda dengan para pendahulunya. Perdana Menteri sebelumnya, Ehud Olmert, melakukan korupsi dengan gaya lama. Pada 2006 dia dinyatakan bersalah karena menerima suap ketika menjadi wali kota Yerusalem. Pada 2012 dia didakwa menyalahgunakan kepercayaan dan menerima suap. Ketika itu dia sudah menjadi perdana menteri. Pada 2015 dia divonis penjara enam tahun karena korupsi. Tuntutan korupsi di masa lalu hanya menyangkut pada satu dua orang saja. Korupsi 'berjemaah' masih amat terbatas.

Namun di era Netanyahu korupsi berjalan seperti operasi mafia, massif di hampir semua lini kehidupan, baik di jajaran pegawai negeri, perwira militer, pengacara, dan konglomerat.

Netanyahu tersangkut kasus 'File 1000' yang menyatakan dia dan istrinya menerima hadiah uang dalam jumlah banyak dari produser ternama Hollywood, Arnon Milchan, sebagai imbalan atas bantuannya selagi menjabat perdana menteri.

Ada lagi 'File 2000' atau skandal Yisrael Hayom. Dalam kasus ini Netanyahu membuat kesepakatan rahasia dengan penerbit harian 'Yedioth Ahronoth, Arnon Mozes. Dalam kesepakatan itu Yedioth setuju menyetop pemberitaan yang mengkritik kebijakan Netanyahu dan sebagai imbalannya mereka dijanjikan surat kabar saingan, 'Yisrael Hayom', akan diturunkan penjualannya.

Koran Yisrael hayom adalah milik taipan Sheldon Adelson, pengusaha pro Israel asal Amerika. Adelson adalah teman dekat Netanyahu dan sekutu kuatnya. Namun sejak muncul kasus ini, Yisrael Hayom berbalik menyerang Netanyahu.

Setelah File 1000, File 2000, masih ada lagi File 3000, yakni kasus pembelian kapal selam Jerman. Para pejabat militer yang merupakan orang dekat Netanyahu terlibat dalam pembelian kapal selam Jerman bernilai miliaran dolar Amerika. Namun pembelian itu sebetulnya tidak perlu dan dana pembelian itu mengalir secara rahasia ke sejumlah rekening pribadi.

Korupsi di masa Netanyahu tidak melibatkan dia sendirian saja tapi berlapis-lapis, meliputi jaringan yang luas di tataran pejabat pemerintah.


[pan]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.