Korsel Tingkatkan Angka Kelahiran, Jam Kerja Orang Tua Dikurangi

Senin, 10 Desember 2018 10:48 Reporter : Merdeka
Korsel Tingkatkan Angka Kelahiran, Jam Kerja Orang Tua Dikurangi ilustrasi ibu hamil. ©www.delhidailynews.com

Merdeka.com - Pemerintah Korea Selatan telah menghabiskan 136 triliun won (setara Rp 1,7 triliun) sejak 2005, untuk mencoba meningkatkan angka kelahiran. Namun hingga kini belum membuahkan hasil signifikan.

Dalam upaya terbaru membalikkan tren penurunan angka kelahiran, Korea Selatan pada Jumat 7 Desember, mengumumkan akan memperluas insentif kepemilikan anak hingga 300.000 won (setara Rp 3,8 juta) per bulan ke 10 persen keluarga kaya, yang saat ini dikecualikan.

Selain itu, sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Minggu (9/12), mulai akhir tahun depan, orang tua yang memiliki anak-anak di bawah usia 8 tahun, akan mendapat pengurangan satu jam kerja setiap hari, untuk merawat buah hati mereka.

Kebijakan baru itu juga menyebut pemberian hak cuti melahirkan bagi pria akan meningkat, dari yang awalnya tiga hari, menjadi 10 hari.

Ditambahkan oleh Kementerian Sosial Korea Selatan, bahwa dalam beberapa tahun ke depan, juga akan dibangun lebih banyak pusat penitipan anak dan taman kanak-kanak, guna menyelaraskan dinamika kehidupan modern yang sibuk dan pentingnya pengasuhan.

"Paket ini fokus untuk memberikan harapan kepada orang yang berusia 20-an sampai usia 40-an, dan memastikan bahwa kualitas hidup mereka tidak memburuk ketika memilih untuk menikah dan melahirkan," kata Kim Sang-hee, wakil ketua gugus tugas nasional untuk mengatasi tingkat kelahiran yang rendah.

Tingkat Kesuburan Nasional Menurun

Korea Selatan mengeluarkan sejumlah langkah pada pekan ini, untuk mencoba membalikkan salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia.

Tingkat kesuburan negara itu didasarkan pada jumlah kelahiran anak perempuan turun menjadi 0,95 pada kuartal ketiga tahun ini. Pertama kali turun di bawah batas poin 1 dan jauh di bawah 2,1, yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas kependudukan.

Akibatnya, populasi ekonomi terbesar ke 11 di dunia itu, yang berjumlah 51 juta jiwa, diperkirakan mulai menurun drastis pada 2028 mendatang.

Ada banyak penyebab, termasuk biaya membesarkan anak, jam kerja yang panjang, tempat penitipan anak yang terbatas, dan kemunduran karier bagi ibu yang bekerja, yang menanggung beban ganda dalam menanggung beban pekerjaan rumah tangga.

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo

Sumber: Liputan6.com [did]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Korea Selatan
  3. Ibu Hamil
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini