Koran Korea Utara Serukan Mobilisasi Massa Atasi Kekeringan Lahan Pertanian

Rabu, 15 Mei 2019 16:40 Reporter : Hari Ariyanti
Koran Korea Utara Serukan Mobilisasi Massa Atasi Kekeringan Lahan Pertanian kekeringan di korea utara. ©NK News

Merdeka.com - Koran ternama di Korea Utara pada Selasa (14/5) memperingatkan sektor pertanian di negara itu sedang mengalami kerusakan parah karena penurunan curah hujan rata-rata. Koran itu juga menyerukan mobilisasi massa untuk memerangi kerusakan tanaman yang disebabkan kekeringan yang sedang berlangsung.

Dalam sebuah artikel yang dimuat di halaman depan organ partai yang berkuasa, Rodong Sinmun, media pemerintah Korut melaporkan curah hujan diperkirakan jauh lebih rendah daripada rata-rata pada akhir Mei.

"Dilaporkan perkiraan fenomena kekeringan (di seluruh negeri)," bunyi artikel itu, dilansir dari laman NK News, Rabu (15/5).

Koran itu juga menyoroti upaya di Provinsi Hwanghae Selatan, bagian barat negara itu dan di daerah lain untuk mengamankan pasokan air dan memastikan tanaman tidak terpengaruh kondisi cuaca yang buruk.

"Perjuangan yang keras dalam menerapkan langkah-langkah untuk mencegah kerusakan akibat kekeringan sedang dilakukan," tulis Rodong Sinmun.

"Rancangan terburuk tidak dapat mengalahkan energi massa yang dipenuhi tekad yang luar biasa dan dimobilisasi sepenuhnya dengan kemauan untuk beraksi atau mati. Para pejabat dan pekerja di sektor pertanian yang mempertahankan medan pertempuran utama dalam konstruksi ekonomi sosialis, harus menghargai tanggung jawab mereka dengan sungguh-sungguh, dan menyerbu untuk melindungi ladang pertanian dari kerusakan akibat kekeringan," lanjutnya.

Selama akhir pekan, KCTV melaporkan, curah hujan rata-rata hampir setengahnya dalam beberapa bulan pertama tahun 2019 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Rata-rata curah hujan nasional pada periode Januari-Mei diperkirakan akan dicatat sebagai yang terendah sejak pengamatan cuaca dimulai," kata siaran pada Sabtu malam yang disorot Kantor Berita Korea Selatan Yonhap.

Koran partai ini pada bulan Februari juga mendesak warga memobilisasi semua upaya untuk mengamankan pasokan air, memperingatkan warga tengah berlomba melawan waktu di tengah penurunan besar dalam curah hujan rata-rata.

"Sekarang bukan saatnya menunggu salju dan hujan sambil memandang ke langit," kata surat kabar itu dalam sebuah artikel yang juga dimuat di halaman depannya. "Mengamankan air adalah masalah serius, yang berpacu dengan waktu," lanjutnya.

Liputan media pemerintah juga terbit sehari setelah pernyataan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Masyarakat (IFRC), memperingatkan kekeringan yang dilaporkan telah dimulai pada awal musim semi, dapat memperburuk masalah kelaparan, kekurangan gizi dan masalah kesehatan bagi ribuan warga Korut.

"Kami sangat prihatin tentang dampak kekeringan ini pada anak-anak dan orang dewasa yang sudah berjuang untuk bertahan hidup," kata Mohamed Babiker, yang mengepalai operasi IFRC.

Seorang pakar menilai artikel yang terbit pada Selasa itu penting karena koran partai itu mengakui kerusakan, meskipun kontras dengan liputan media pemerintah selama kekeringan yang lebih parah melanda di masa lalu.

Analis dari NK Pro, Minyoung Lee menilai, bahasa yang digunakan tentang kerusakan saat ini lebih halus dibandingkan dengan tahun-tahun terakhir kekeringan yang signifikan pada 1999-2001 dan 2012.

"Fokus tulisan ini adalah tentang mencegah kerusakan kekeringan, bukan tentang kerusakan sendiri," ujarnya.

Namun menyusul laporan bulan lalu oleh Program Pangan Dunia PBB (WFP) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) yang mengklaim 10,1 juta warga Korut rawan pangan, artikel itu kemungkinan akan memperkuat kekhawatiran meningkatnya krisis kemanusiaan di Korut.

"Meskipun beberapa data FAO-WFP mungkin tidak jelas dan tidak tepat, survei itu dan sekarang artikel ini di Rodong Sinmun tentang kekeringan sangat mengkhawatirkan," kata Peter Ward, seorang penulis dan peneliti tentang ekonomi Korea Utara dan analis yang berkontribusi pada NK Pro.

"Kami tidak benar-benar tahu seberapa buruk situasi di negara pada umumnya, dan seberapa buruk itu mungkin terjadi. Ini tidak terlihat seburuk akhir 1990-an, tetapi strategi terpadu jangka panjang untuk membantu menyelesaikan masalah kerawanan pangan Korea Utara yang berada di atas politik sangat penting," pungkasnya. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Korea Utara
  2. Kekeringan
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini