Kisah Pengantin Perempuan Pakistan Diduga Dijual ke China sebagai Budak Seks

Rabu, 15 Mei 2019 13:57 Reporter : Hari Ariyanti
Kisah Pengantin Perempuan Pakistan Diduga Dijual ke China sebagai Budak Seks Ilustrasi Human Trafficking. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Pernikahan antara seorang perempuan Kristen Pakistan dan pria Kristen asal China enam bulan lalu di Kota Faisalabad, bagian timur Pakistan, memiliki pertanda sebagai pasangan yang sempurna. Pengantin perempuan berusia 19 tahun dan pengantin pria 21 tahun. Perempuan ini adalah pakar kecantikan terlatih dan prianya seorang pengusaha kosmetik.

Keluarga pengantin perempuan tak memiliki cukup uang tapi pengantin pria dengan ramah menawarkan diri menanggung seluruh biaya pernikahan.

Prosesi pernikahan berlangsung sesuai adat Pakistan. Orang tua pengantin perempuan begitu bahagia, merasa suami putrinya yang berasal dari China menghormati tradisi setempat.

Ada acara lamaran resmi, dilanjutkan dengan upacara henna, dan terakhir 'baraat', di mana prosesi berlangsung di rumah pengantin perempuan, disertai pengucapan janji pernikahan dan pengantin perempuan meninggalkan rumahnya untuk memulai hidup baru dengan suaminya.

Namun dalam waktu satu bulan, perempuan itu, yang hanya ingin dikenal sebagai Sophia untuk melindungi identitasnya, kembali ke rumah orang tuanya. Dia lolos dari apa yang sekarang dia yakini sebagai penipuan perempuan Pakistan untuk dibawa ke dalam kehidupan perbudakan seksual di China.

Saleem Iqbal, aktivis hak asasi manusia yang telah melacak pernikahan semacam itu, mengatakan ia percaya setidaknya 700 perempuan, kebanyakan Kristen, menikahi pria China hanya dalam waktu satu tahun. Apa yang menimpa para perempuan ini tidak diketahui tetapi Human Rights Watch mengatakan mereka berisiko mengalami perbudakan seksual. Demikian dilansir dari BBC, Rabu (15/5).

Dalam beberapa pekan terakhir, puluhan warga negara China dan perantara lokal Pakistan, termasuk setidaknya satu pastor Katolik, ditangkap sehubungan dengan dugaan pernikahan palsu. Badan Investigasi Federal Pakistan (FIA) mengatakan kepada BBC, geng penjahat China memperdagangkan perempuan Pakistan dengan dalih perkawinan ke dalam perdagangan seks. Disebutkan satu geng berpura-pura sebagai insinyur yang mengerjakan proyek pembangkit listrik sambil mengatur pernikahan dan mengirim perempuan Pakistan ke China dengan bayaran mulai dari USD 12.000 hingga USD 25.000 untuk setiap perempuan.

Perempuan-perempuan Kristen Pakistan - yang sebagian besar berasal dari masyarakat miskin dan terpinggirkan - terlihat menjadi sasaran utama para pedagang manusia, yang membayar orang tua mereka ratusan atau ribuan dolar.

China menyangkal perempuan Pakistan diperdagangkan untuk prostitusi. Dalam pernyataannya, otoritas China menuding sejumlah laporan media memalsukan fakta-fakta dan menyebarkan rumor.

Kendati demikian, otoritas China mengakui pekan ini ada lonjakan perempuan Pakistan yang mengajukan visa tahun ini - dengan 140 aplikasi pada tahun ini, jumlah yang sama dengan tahun 2018. Seorang pejabat dari kedutaan China di Islamabad mengatakan kepada media lokal telah memblokir setidaknya 90 aplikasi.

Ketimpangan Masyarakat

Meningkatnya kasus dugaan perdagangan perempuan dari Pakistan ke China terjadi di tengah gelombang masuknya puluhan ribu warga China ke Pakistan. China berinvestasi miliaran dolar dalam Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan (CPEC), jaringan pelabuhan, jalan, kereta api, dan proyek-proyek energi. Kedua negara adalah sekutu dekat dan kebijakan visa-on-arrival (VoA) untuk warga negara China juga telah mendorong pengusaha dan profesional yang tidak terkait langsung dengan CPEC membanjiri Pakistan.

Beberapa pemuda China diyakini mendatangi Pakistan untuk mencari istri. Para peneliti mengatakan, warisan kebijakan satu anak di China selama satu dekade, disertai referensi sosial lebih memilih anak laki-laki menciptakan masyarakat yang tidak seimbang di mana jutaan pria sulit mendapatkan istri.

Selama bertahun-tahun ini telah memicu perdagangan perempuan dari beberapa negara Asia yang miskin, termasuk Vietnam, Myanmar dan Kamboja - di mana para aktivis mengatakan banyak perempuan dijanjikan pekerjaan di China tetapi kemudian dijual untuk menikah. Tampaknya akses mudah ke Pakistan telah menciptakan titik perdagangan baru.

Sebuah Rumah di Lahore

Sophia mulai merasa tidak nyaman dengan pernikahannya sebelum hal itu terjadi. Dia harus menjalani tes medis sebelum dilamar secara resmi dan perantara kemudian mendorong agar pernikahan segera terjadi.

"Keluarga saya merasa tidak nyaman dengan cara yang tergesa-gesa ini, tetapi dia mengatakan pria China itu akan membayar semua biaya pernikahan kami," katanya. Keluarga pun menyerah.

Sepekan kemudian, dia mendapati dirinya berada di sebuah rumah di Lahore bersama dengan pengantin baru lainnya yang tengah menunggu dokumen perjalanannya diproses. Para perempuan Pakistan ini menghabiskan waktu belajar bahasa Mandarin.

Pada titik itulah dia mendengar suaminya bukan penganut Kristen, dan ternyata tak tertarik menikah dengannya. Mereka jarang berkomunikasi karena kendala bahasa tapi dia berulang kali minta dilayani di ranjang.

Dia memutuskan pergi setelah berbicara dengan temannya yang lebih dulu pindah ke China karena pernikahan. Dia mengatakan kepada Sophia bahwa dia dipaksa berhubungan seks dengan kawan suaminya.

Namun ketika Sophia mengonfirmasi hal ini kepada perantara pernikahan, dia geram. Perantara ini mengatakan orang tua Sophia harus mengganti biaya pernikahan, termasuk biaya kepada pastor yang telah memimpin upacara pernikahan. Orang tua Sophia menolak membayar dan pergi ke Lahore menyelamatkan anaknya. Si perantara ini kemudian mengalah.

Meskipun razia polisi belakangan ini difokuskan pada perdagangan gadis-gadis Kristen yang miskin, BBC menemukan komunitas Muslim juga ada yang mengalami kasus serupa.

Seorang perempuan Muslim dari lingkungan miskin di Lahore yang pergi ke China bersama suaminya pada bulan Maret mengungkapkan, dia kerap menghadapi penganiayaan fisik berulang-ulang karena menolak tidur dengan tamu suaminya.

"Keluarga saya cukup religius, jadi mereka menyetujui lamaran itu karena dibawa oleh ulama dari madrasah yang berlokasi di lingkungan kami," kata perempuan yang menyebut dirinya sebagai Meena.

"Tapi begitu di China, saya menemukan bahwa suami saya bukan seorang Muslim. Bahkan dia tidak menganut agama apa pun. Dia mengolok-olok saya ketika saya salat," lanjutnya.

Ketika dia menolak berhubungan seks dengan pria yang ditunjuk suaminya, dia dipukuli dan diancam.

"Dia mengatakan telah membeli saya dengan uang dan saya tidak punya pilihan selain melakukan apa yang dia minta untuk saya lakukan; dan jika saya tidak melakukannya, maka dia akan membunuh saya dan menjual organ tubuh saya untuk mendapatkan kembali uangnya," kisahnya.

Meena diselamatkan pada awal Mei oleh pihak berwenang China atas permintaan pejabat Kedutaan Besar Pakistan atas permintaan keluarganya. Pejabat FIA di Faisalabad, Jameel Ahmed Mayo, menyampaikan kepada BBC bahwa perempuan yang dianggap tidak "cukup baik" untuk perdagangan seks berisiko diambil organ tubuhnya.

FIA belum memberikan bukti untuk menguatkan tuduhan itu dan Beijing dengan tegas membantah praktik seperti itu terjadi.

"Menurut penyelidikan oleh Kementerian Keamanan Publik China, tidak ada prostitusi paksa atau penjualan organ manusia bagi perempuan Pakistan yang tinggal di China setelah menikah dengan warga China," terang Kedutaan Besar China di Islamabad dalam sebuah pernyataan.

Namun, lanjutnya, penyelidikan bersama dengan pihak berwenang Pakistan sedang berlangsung.

"Kami tidak akan pernah membiarkan sejumlah penjahat merusak persahabatan antara China dan Pakistan atau melukai perasaan persahabatan dua orang," tutup pernyataan itu. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini