Kisah Para Pengawal Kepala Negara, Selamatkan Presiden dari Tembakan

Kamis, 21 Februari 2019 07:24 Reporter : Pandasurya Wijaya
Kisah Para Pengawal Kepala Negara, Selamatkan Presiden dari Tembakan penembakan reagen. ©stuff.co.nz

Merdeka.com - Setiap kepala negara sudah seharusnya mendapat pengawalan dari aparat keamanan. Itu juga yang terjadi terhadap Presiden Joko Widodo yang belum lama ini diberitakan blusukan ke kampung nelayan di Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah. Sejumlah personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) bertugas mengawal Jokowi dalam berbagai kegiatan presiden di mana pun dan kapan pun.

Kisah-kisah para pengawal kepala negara berikut ini tak kalah menarik untuk disimak dan cukup mendebarkan untuk diikuti. Berikut uraiannya yang dihimpun merdeka.com dari berbagai sumber:

1 dari 3 halaman

Penembakan Presiden Ronald Reagen

penembakan reagen. ©stuff.co.nz

30 Maret 1981. Agen Secret Service Jerry Parr menemani Presiden Amerika Serikat Ronald Reagen menuju Hotel Hilton tempat dia akan berpidato. Reagen baru 69 hari menjabat presiden AS. Parr ketika itu menjadi kepala pasukan pengawal presiden bersama 66 anggota lainnya yang bertugas menjaga keamanan dalam acara tersebut. Sejak 1972 pasukan Secret Service sudah 110 kali mengantar presiden dan wakilnya berpidato di hotel kondang itu. Tak seorang pun tewas. Luka pun tidak. Tugas itu akan menjadi kegiatan rutin jelang pidato kepala negara.

Ketika Reagen keluar dari ruang VIP, Parr dan beberapa agen lain berjalan dalam formasi mengelilingi sang presiden. Polisi berpakaian preman juga berjaga di sisi jalan. Tak jauh dari mereka ada tali pembatas yang menghalangi khalayak mendekat ke presiden. Reagen tersenyum dan melambaikan tangan menyapa warga di sekelilingnya.

Apa yang terjadi kemudian mengejutkan dunia.

John Hinckley, Jr melepaskan enam tembakan dalam waktu 1,7 detik. Peluru pertama mengenai juru bicara Gedung Putih James Brady. Peluru kedua melukai petugas polisi Thomas Delahanty. Peluru ketiga menghantam jendela gedung di seberang jalan. Peluru keempat mengenai agen Tim McCarthy ketika dia memasang badan buat melindungi sang presiden. Peluru kelima mengenai kaca antipeluru mobil limosin sang presiden. Peluru keenam, yang terakhir, mengenai sisi pelindung limosin dan memantul mengenai ketiak kiri Presiden Reagen ketika Jerry Parr mendorongnya masuk ke dalam mobil. Tiga detik dari peluru pertama dilepaskan limosin Reagen melaju kencang meninggalkan lokasi dengan membawa sang presiden dan agen Parr di kursi belakang. Tak seorang pun, bahkan Reagen sendiri, menyadari dia tertembak.

Demikian kisah yang disampaikan Jerry Parr dalam buku In The Secret Service.

2 dari 3 halaman

Pengawal Soekarno Berlumuran Darah

Soekarno. ©AFP PHOTO/STR

Dulu, Presiden Soekarno mempunyai pengawal khusus. Mereka disebut Detasemen Kawal Pribadi (DKP), anggotanya berasal dari satuan polisi istimewa yang kini disebut Brimob.

Kesetiaan mereka teruji menyelamatkan Soekarno dari berbagai percobaan pembunuhan. Demi sang presiden, anggota DKP siap jadi tameng hidup.

Bulan Januari 1962, Presiden Soekarno dijadwalkan berpidato di Makassar. Hari sudah beranjak malam, ketika rombongan presiden menuju gedung pertemuan. Rombongan presiden pun melaju. Iring-iringannya dibuka sepeda motor sebagai voor rijders, lalu diikuti satu jip kawal pribadi (DKP), baru mobil RI-1. Setelah itu di belakangnya satu jip DKP, dan ditutup motor kawal belakang.

Ketika memasuki jalan Tjendrawasih yang sepi dan gelap. Tiba-tiba terdengar ledakan. Mobil Presiden digranat. Untungnya serangan itu meleset.

Ajudan Soekarno , Mayor Bambang Widjanarko menceritakan kisah itu dalam buku 'Sewindu Dekat Bung Karno ' yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2010.

Bambang memerintahkan Soekarno tiarap. Saat seperti itu, protap keselamatan presiden semua dipegang ajudan. Di sekeliling mobil, anggota DKP bersiaga. Mereka menjadi tameng melindungi Soekarno . Jika para penyerang sudah menempatkan penembak jitu, bisa dibayangkan rombongan Soekarno akan menjadi sasaran empuk. Untung sekali lagi, penyerang hanya melemparkan granat tanpa diikuti serangan lain.

Setelah kondisi dirasa aman, rombongan meneruskan perjalanan menuju Gedung Olahraga Makassar. Soekarno berpidato membakar semangat rakyat seolah-olah tak terjadi apa-apa dalam peristiwa itu.

Tapi DKP makin merapatkan penjagaan. Ketika Soekarno hendak kembali ke gubernuran, Bambang dan DKP mengatur siasat. Wali Kota Makassar duduk di dalam mobil kepresidenan. Tak lupa dia diminta mengenakan kopiah seperti Soekarno .

Sementara itu Soekarno menumpang mobil di belakang iring-iringan itu. Tak ada serangan saat kembali. Soekarno pun selamat sampai gubernuran.

Cerita heroik soal anggota DKP ini juga dikisahkan Komandannya AKBP Mangil. Saat itu Soekarno melaksanakan Salat Idul Adha di Istana.

"Saya duduk enam langkah di depan bapak. Di samping saya duduk Inspektur Polisi Soedio. Kami berdua menghadap ke arah umat. Sedangkan tiga anak buah, Amon Soedrajat, Abdul Karim dan Susilo pakai pakaian sipil dan berpistol duduk di sekeliling bapak," cerita Mangil dalam buku Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan & Petualang yang ditulis wartawan Senior Julius Pour, terbitan Kompas.

Tiba-tiba saat rukuk, seorang pria bertakbir keras. Dia mengeluarkan pistol dan menembak ke arah Soekarno . Refleks, semua pengawal berlarian menubruk Soekarno . Amoen melindungi Soekarno dengan tubuhnya. Sebutir peluru menembus dadanya. Amoen terjatuh berlumuran darah.

Pistol menyalak lagi. Kali ini mengenai menyerempet kepala Susilo. Tapi tanpa menghiraukan luka-lukanya, Susilo menerjang penembak gelap itu. Dua anggota DKP membantu Susilo menyergap penambak yang belakangan diketahui bernama Bachrum. Pistol milik Bachrum akhirnya bisa direbut DKP.

Soekarno berhasil diselamatkan. Begitu juga dengan dua polisi pengawalnya. Untungnya walau terluka parah, Amoen dan Susilo selamat.

3 dari 3 halaman

Pengawal Raja Salman Tidak Tidur Dua Hari

Raja Salman di Istana Bogor. ©2017 Biro Pers Setpres

Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud ke Indonesia menjadi euforia tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Persiapan fasilitas dan pelayanan untuk Raja Salman dilakukan semaksimal mungkin tanpa cacat baik dari Indonesia ataupun pengawal dari pihak kerajaan.

Kepala protokoler Masjid Istiqlal, Abu Hurairah sempat berbincang dengan salah satu pengawal Raja Salman. Sejak pertama kali menginjak kaki di Indonesia pengawal tersebut mengaku belum tidur sama sekali.

"Tadi saya lihat pengawal beliau belum tidur dua hari, melayani raja," ujar Abu, Kamis (2/3/2017).

Pengawal tersebut menjelaskan keperluan raja saat berada di negara lain termasuk di Indonesia harus dipersiapkan dengan matang. Namun demikian, tugasnya dalam mengawal Raja Salman tidak dilanjutkan saat keluarga raja berlibur ke Bali. Kesempatan itu nantinya dipakai para pengawal untuk beristirahat melepas lelah.

"Dia bilang nanti di Bali saya akan balas dendam untuk happy-happy," tukasnya.

Seperti diketahui, Raja Salman berkunjung ke Indonesia selama 9 hari, 3 hari pertama raja beserta rombongan menghabiskan waktu di Jakarta. Pada hari pertama, Rabu (1/3) Raja Salman tiba di Bandara Halim Perdanakusumah dengan membawa perlengkapan fasilitasnya selama berlibur di Indonesia. Hari kedua, sosok yang dijuluki penjaga dua kota suci ini mengunjungi DPR dan Masjid Istiqlal. Keesokan harinya rombongan kerajaan direncanakan berbelanja ke pusat perbelanjaan.

6 hari terakhir, Raja Salman beserta keluarga terbang dengan pesawat pribadi ke pulau Dewata, Bali. Persiapan liburan bagi keluarga itupun sudah jauh jauh hari dilakukan. Selepas berlibur di Bali, rencananya keluarga kerajaan akan terbang ke Jepang, China, lalu kembali ke Arab Saudi.

[pan]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini