Kisah Militan ISIS Berdarah Arab Israel yang Tak Diakui Negaranya (Bagian 2)

Kamis, 19 Desember 2019 07:24 Reporter : Hari Ariyanti
Kisah Militan ISIS Berdarah Arab Israel yang Tak Diakui Negaranya (Bagian 2) Mohammed Khalid, militan ISIS yang merupakan warga Arab Israel.. ©The National

Merdeka.com - Mohammed Khalid, pemuda keturunan Arab Israel tiba-tiba kabur dari rumahnya di kota Umm Al Fahm di Israel. Dia terbang ke Turki menuju Suriah dan menjadi anggota ISIS. Kini dia ditahan di penjara Kurdi Irak, tak diakui Israel. Jurnalis The National, Jack Moore mendatangi dan mewawancarai Khalid di penjara. Ini lanjutan kisahnya.

Saat diwawancara, Khalid meminta wajahnya jangan ditayangkan dalam bentuk foto maupun tayangan video. Di penjara tersebut, Khalid ditahan di ruangan isolasi karena dinilai berbahaya bagi tahanan lainnya.

Belum jelas kenapa dia tiba-tiba bersedia diwawancara. Sementara anggota ISIS asal Maroko dan Yordania sebelumnya menolak permintaan wawancara.

Dalam wawancara tersebut dia membeberkan perjalannya dari sebuah kota di Israel utara menuju ke wilayah garis depan ISIS di Suriah.

Orang tua Khalid adalah dokter kalangan menengah bangsa Arab. Ayahnya adalah seorang komunis.

Saat remaja, Khalid suka menggambar pemandangan. Dia suka hewan, hobi bernyanyi dan main bowling.

"Dia tetap menjadi orang yang paling baik yang pernah saya temui," kata saudaranya, Tala.

Dia juga anak kesayangan ibunya. Mereka kerap mendaki, jalan-jalan bersama.

"Saya bahagia; waktu itu baik-baik saja. Kehidupan saya baik-baik saja," kata Khalid.

Dia dan juga saudaranya yang lain memiliki sepeda, mobil, dan komputer masing-masing.

1 dari 4 halaman

Saya Temukan Apa yang Saya Inginkan, yang Saya Yakini

apa yang saya inginkan yang saya yakini rev1

Setelah lulus dari SMA Al Shamila, dia melanjutkan kuliah ke Universitas Technion di Haifa, Israel, setelah sebelumnya sempat berkunjung ke St Petersburg, setelah lulus SMA.

Semua berubah setelah dia kembali ke Israel. Khalid mulai salat di masjid setempat, berkumpul dengan teman baru yang tak dikenal orang tuanya.

Sebelum menjadi religius, Khalid biasa mengisap shisha dan tidak berpuasa pada bulan Ramadan. Dia juga kerap mengambil diam-diam botol whiskey ayahnya dan diminum bersama teman-temannya.

Saat ditanya kenapa dia berubah menjadi religius, dia mengatakan selama ini mencari sesuatu untuk mengisi kekosongannya dalam hidup. Keluarganya meyakini Khalid berubah dan menjadi radikal setelah bergaul dengan teman-teman barunya. Keluarganya menduga Khalid telah dicuci otaknya.

"Saya temukan apa yang saya inginkan, apa yang saya yakini," ujarnya.

Sebelum terdaftar sebagai mahasiswa teknik di Technion, ia menonton khotbah-khotbah para ekstremis paling terkenal di dunia, di YouTube. Mereka termasuk mantan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, Abu Musab Al Zarqawi pemimpin Al Qaeda di Irak, dan Abu Mohammad Al Adnani, mantan juru bicara ISIS.

Setelah setahun, dia berhenti kuliah. Hubungan dengan ayahnya pun memburuk.

Universitas Technion mengkonfirmasi kehadiran Khalid kepada The National tetapi tidak akan membocorkan informasi lebih lanjut untuk mencegah pelanggaran "hak privasi" mahasiswa mereka saat ini atau sebelumnya.

Setelah kembali ke rumah, Khalid mengambil pekerjaan sampingan di supermarket dan toko roti lokal. Tetapi, pada akhirnya, ini tidak berhasil menjauhkannya dari kehidupan yang dipilihnya.

2 dari 4 halaman

Menuju Suriah

rev1

Khalid berangkat ke Adana, Turki bersama dua orang temannya sebelum diselundupkan ke Suriah utara. Di Suriah, mereka bergabung dengan Liwa Al Tawhid, kelompok pemberontak yang mengkoordinasikan serangan dengan mantan afiliasi Al Qaeda, Jabhat Al Nusra. Khalid, yang saat itu berusia 23 tahun, mengatakan ia dan teman-temannya ingin memerangi kaum Shiah, khususnya rezim Bashar Al Assad, karena kejahatannya terhadap Muslim Sunni sejak perang saudara dimulai.

Dia kemudian menuju Aleppo dan mengikuti latihan tempur sebelum bergabung dengan ISIS. Dia tinggal di Sheikh Najar dan Al Bab, kota-kota di timur laut Aleppo, sebelum menuju selatan ke Homs.

Selama hampir empat tahun, ia menjadi pejuang garis depan ISIS dan - karena ia bisa bahasa Rusia - sebagai penerjemah dan manajer untuk kontingen kelompok Chechnya dan Dagestani, yang terkenal karena kebrutalan mereka. Khalid mengatakan dia membantu mereka membeli barang-barang dari pasar di Raqqa - kota timur yang pernah menjadi ibukota ISIS - dan bekerja sama dengan anggota ISIS berbahasa Arab.

Ketika ISIS kehilangan wilayah, Khalid bergerak ke timur. Mulai di Hama, ia akan pindah ke kota kuno Palmyra, lalu Raqqa, sebelum menjalani hari-hari terakhir kebebasannya di provinsi timur Deir Ezzor. Keluarganya mengatakan dia diyakini telah menikah di tahun pertamanya di Suriah, dan mengkonfirmasi kepada mereka di telepon bahwa dia memiliki dua anak kecil. Keberadaan mereka tidak diketahui dan Khalid tidak menyebut mereka dalam wawancara.

Dalam serangan Desember 2017, Amerika tiba di Humvees. Dia kehabisan amunisi, sehingga menyerah kepada pasukan AS. Dia mengatakan itu adalah operasi besar yang dia pikir targetnya adalah pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi.

3 dari 4 halaman

Kenapa Orang Arab Israel Bergabung dengan ISIS?

arab israel bergabung dengan isis rev1

Sekitar 60 orang Arab Israel bergabung dengan ISIS, sebagian kecil dari 1,6 juta orang Arab yang tinggal di negara itu. Ini juga angka yang jauh lebih rendah daripada jumlah rekrutmen asing dari Eropa dan tempat lain di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Para ahli mengatakan banyak orang Arab Israel atau Palestina yang memiliki pandangan ekstrem lebih cenderung memilih dalam perjuangan melawan pendudukan Israel, daripada organisasi teroris internasional.

Menurut pejabat anti-terorisme, dua faktor utama yang menyebabkan sejumlah kecil orang Arab Israel bergabung dengan ISIS: identitas dan perlakuan pemerintah Israel.

Sebagian besar pendukung ISIS di antara populasi Arab Israel mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Arab atau Palestina. Mereka sama sekali tidak mempertimbangkan untuk menjadi orang Israel sebagai bagian dari identitas mereka," kata Aviv Oreg, mantan kepala bidang ekstrimisme global militer Israel.

Tapi Khalid mengatakan alasannya meninggalkan Israel bukan karena negara atau pemerintahnya, meskipun warga negara kelas dua di negara itu telah lama mengeluhkan diskriminasi yang meluas.

"Terpinggirkan? Iya. Tapi saya tidak peduli tentang itu," katanya.

4 dari 4 halaman
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini