Kisah mendebarkan Angkatan Laut Thailand saat operasi penyelamatan bocah dalam gua

Jumat, 13 Juli 2018 07:41 Reporter : Pandasurya Wijaya
Gua Tham Luang. ©Thai Navy Seal/Handout via REUTERS

Merdeka.com - Ketika Kapten Angkatan Laut Thailand Anand Surawan diberitahu soal sekelompok remaja tim sepak bola hilang dalam gua dia menyangka pencarian mereka akan mudah.

Pukul 02.45 pada 24 Juni lalu komandan Angkatan Laut itu berada di luar mulut gua Tham Luang di Distrik Mae Sai. Dia sedang mendengarkan laporan seorang petugas tentang 12 bocah dan pelatihnya yang kemungkinan terjebak di dalam gua.

Saat itu sudah beberapa jam sejak mereka hilang, hanya meninggalkan jejak sepeda, sepatu, dan sepatu bola.

"Saya tidak begitu bisa membayangkan seperti apa di dalam gua itu. Saya kira akan ada sedikit cahaya," kata dia kepada wartawan dari berbagai belahan dunia dalam jumpa pers di Chiang Rai dua hari lalu.

"Kami tahu ke arah mana mereka berjalan. Pencarian mereka tidak akan sulit."

Tapi begitu dia melangkahkan kaki ke dalam gua, tugas itu menjadi sangat menakutkan. Di depan matanya adalah pemandangan gelap total yang menelan ke-13 anak itu dan terowongan dalam gua membentang sejauh 10 kilometer.

"Waktu itu gelap gulita. jarak dari mulut gua sampai ke pertigaan terowongan hampir tiga kilometer. Personel kami harus mendaki dinding gua berbatu dan menyusup ke dalam celah sempit. Dinding gua berlumpur, menandakan gua itu baru saja banjir."

Hari pertama Angkatan Laut Thailand masuk ke dalam gua mereka harus melewati air keruh yang pekat, tebing berbatu, dan menyelam dalam air gelap. Mereka mencari anak-anak itu dari pukul 05.00 hingga 16.00, tanpa ada cahaya dari matahari.

Pada saat itu air mulai naik, awalnya 3 sentimeter per jam, kemudian menjadi 8 sentimeter dan 13 sentimeter. Potensi derasnya banjir bandang memaksa mereka bergegas kembali.

Tak lama kemudian banjir memenuhi terowongan tempat mereka berada. Di sana sebelumnya diyakini ada jejak tangan dan kaki dari anak-anak yang hilang itu.

"Kami mengabari gubernur Chiang Rai, kami butuh pompa air," kata kapten Angkatan Laut itu. "Kami tidak yakin apakah nantinya ada tempat bagi kami untuk naik ke permukaan di sepanjang rute 3-4 kilometer ke depan."

Ketika air mulai dipompa keluar pencarian dilanjutkan.

Petugas kemudian memasang tali pemandu dari terowongan ketiga sampai ke pertigaan ketika dua penyelam Inggris--John Volanthen dan Rick Stanton--sudah kehabisan tali beberapa ratus meter di depan.

Ketika Volanthan naik ke permukaan dia melihat sekelompok bocah duduk dan berdiri di sebuah tepian. Mereka adalah 13 orang yang mereka cari.

"Mereka meninggalkan terowongan ketiga dan menemukan anak-anak itu lalu kembali untuk mengabari kami," kata Anand. "Mereka butuh waktu 5,5 jam untuk bolak-balik. Kemudian kami pun mengirimkan empat penyelam Angkatan Laut."

Empat penyelam pertama ditugaskan membawa makanan dan selimut bagi anak-anak itu. Mereka kemudiaan diikuti tiga penyelam lagi termasuk petugas medis Pak Loharnshoon. Masing-masing dari mereka membawa tangki oksigen.

Kedua tim ini tidak bisa saling berkomunikasi selama 23 jam sebelum tiga penyelam kembali ke terowongan ketiga, tempat pusat komando dibuat.

Ketiga penyelam itu kemudian dibawa ke rumah sakit karena kondisi mereka cukup parah. Sisanya, menurut sang kapten, tidak bisa kembali karena sudah kehabisan tangki oksigen.

"Mereka yang kembali hanya punya sisa sedikit oksigen dan melaporkan kondisi di sana. Bagi seorang komandan, ini cukup membuat stres ketika kita mengirimkan anak buah tapi kita tidak tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati."

Namun Anad mengatakan dia tidak bisa meninggalkan ke-13 anak itu. Operasi penyelamatan itu kemudian berakhir sukses setelah lebih dari dua pekan anak-anak itu terjebak dalam gua. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini