Kisah Lima Hari yang Menentukan Arah Pandemi, Setahun Setelah Wuhan Ditutup

Rabu, 27 Januari 2021 07:23 Reporter : Hari Ariyanti
Kisah Lima Hari yang Menentukan Arah Pandemi, Setahun Setelah Wuhan Ditutup Pasar Ikan di Wuhan. ©HECTOR RETAMAL/AFP

Merdeka.com - Setahun lalu pemerintah China menutup total atau lockdown Kota Wuhan. Beberapa minggu sebelumnya para pejabat menyatakan wabah itu dapat dikendalikan. Namun nyatanya virus telah menyebar ke seluruh kota dan sekitar China.

Ini adalah cerita lima hari masa kritis awal wabah di kota itu.

Sampai 30 Desember, beberapa orang dibawa ke rumah sakit di pusat kota Wuhan, sakit dengan demam tinggi dan pneumonia. Kasus pertama yang diketahui yaitu seorang kakek berusia sekitar 70 tahunan yang mulai sakit pada 1 Desember. Banyak dari mereka terkait dengan pasar hewan, Huanan Seafood Market, dan dokter mulai curiga penyakit itu bukan pneumonia biasa.

Sampel dari paru-paru yang terinfeksi dikirim ke perusahaan pengurutan genetik untuk mengidentifikasi penyebab penyakit tersebut, dan hasil awal mengindikasikan virus corona yang mirip dengan SARS. Otoritas kesehatan setempat dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China telah diinformasikan, tapi tak ada yang disampaikan ke publik.

Walaupun saat itu tak ada yang tahu, antara 2.300 dan 4.000 orang kemungkinan terinfeksi, menurut model terbaru MOBS Lab di Universitas Northeastern Boston. Wabah itu juga diperkirakan bertambah dua kali lipat setiap beberapa hari. Ahli epidemiologi mengatakan pada awal wabah ini, setiap hari dan bahkan setiap jam sangatlah penting.

30 Desember 2019: Peringatan Virus

Sekitar pukul 16.00 pada 30 Desember, kepala Departemen Kedaruratan di Rumah Sakit Pusat Wuhan memegang hasil tes dari lab pengurutan genetik Capital Bio Medicals yang berlokasi di Beijing.

Dia berkeringat dingin saat membaca laporan tersebut, menurut salah satu wawancara kepada media China, dikutip dari BBC, Selasa (26/1).

Di bagian atas laporan itu tertulis kalimat peringatan: “SARS VIRUS CORONA”. Dia melingkarinya dengan warna merah terang, dan meneruskannya ke rekannya melalui aplikasi pesan WeChat.

Dalam satu jam setengah, gambar dengan lingkaran merah itu sampai ke seorang dokter di Departemen Oftalmologi rumah sakit itu, Li Wenliang. Li kemudian membagikan kabar itu dengan ratusan kelompok kelas universitasnya, menambahkan peringatan, “Jangan sebarkan pesan ini ke luar grup ini. Minta keluarga kalian dan orang yang kalian sayangi melakukan pencegahan.”

Dalam beberapa jam kemudian, tangkapan layar pesan Li itu menyebar luas di dunia maya. Di seluruh China, jutaan orang mulai membicarakan SARS di dunia maya.

Ternyata petugas pengurutan genetik membuat kesalahan - ini bukan SARS, tetapi virus corona baru yang sangat mirip dengan SARS. Tapi ini saat yang kritis. Berita tentang kemungkinan wabah menjadi luput.

Komisi Kesehatan Wuhan menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi di rumah sakit kota tersebut. Hari itu, pejabat dari Komisi Kesehatan Nasional di Beijing tiba, dan sampel paru-paru dikirim ke setidaknya lima laboratorium pemerintah di Wuhan dan Beijing untuk mengurutkan virus itu secara paralel.

Ketika pesan yang menunjukkan kemungkinan kembalinya SARS mulai tersebar di media sosial China, Komisi Kesehatan Wuhan mengirim dua perintah ke rumah sakit. Mereka menginstruksikan agar rumah sakit melaporkan semua kasus langsung ke Komisi Kesehatan, dan meminta pihak rumah sakit tidak mempublikasikan apapun tanpa izin.

Dalam 12 menit, perintah ini bocor di dunia maya.

Informasi yang berbahasa Mandarin itu tak lama menyebar ke dunia yang lebih luas berkat ahli epidemiologi veteran Marjorie Pollack.

Wakil editor ProMed-mail, sebuah organisasi yang mengirimkan peringatan tentang wabah penyakit di seluruh dunia, menerima surel dari seorang kontak di Taiwan, menanyakan apakah dia mengetahui apa yang dibicarakan di media sosial itu.

Pada Februari 2003, ProMed yang pertama kali mengabarkan soal SARS. Sekarang, Pollack merasa déjà vu.

“Reaksi saya waktu itu: ‘Kita dalam bahaya’,” ujarnya kepada BBC.

Tiga jam kemudian, dia selesai menulis catatan darurat, meminta lebih banyak informasi terkait wabah baru itu. Catatan itu dikirim ke sekitar 80.000 pelanggan ProMed dalam waktu satu menit sampai tengah malam.

Baca Selanjutnya: Menolak wawancara...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini