Ketimpangan Vaksin antara Negara Kaya dan Miskin Penyebab Munculnya Varian Omicron

Selasa, 30 November 2021 07:24 Reporter : Hari Ariyanti
Ketimpangan Vaksin antara Negara Kaya dan Miskin Penyebab Munculnya Varian Omicron Ilustrasi Vaksin. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Banyak negara-negara kaya di dunia tahun lalu menimbun vaksin virus corona, membeli cukup dosis untuk memvaksinasi penduduk mereka beberapa kali dan secara konsisten gagal menepati janji untuk membagi dosis vaksin dengan negara berkembang. WHO mengatakan tindakan negara-negara ini "tidak bermoral" dan "menghancurkan diri sendiri".

Tindakan semacam itu tampaknya mulai terlihat dampaknya. Varian baru virus corona yang berpotensi lebih menular muncul dari kawasan dengan tingkat vaksinasi rendah. Varian baru yang dinamai Omicron, pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, walaupun belum jelas apakah varian ini berasal dari negara itu atau apakah dibawa ke Afrika Selatan dari tempat lain di kawasan itu.

Apa yang paling diketahui para ilmuwan adalah virus itu jauh lebih mungkin bermutasi di tempat-tempat di mana vaksinasi rendah dan penularan tinggi.

"Itu mungkin muncul di negara lain dan terdeteksi di Afrika Selatan, yang memiliki kapasitas dan kemampuan sangat, sangat baik dalam mengurutkan genom, itu bisa jadi sebuah konsekuensi wabah, mungkin di beberapa wilayah sub-Sahara Afrika, di mana tidak ada pemantauan genom dalam jumlah besar berlangsung dan angka vaksinasi rendah," jelas peneliti senior kesehatan global Universitas Southampton, Michael Head, kepada CNN.

Head mneyampaikan, kemunculan varian baru adalah "konsekuensi alamiah lambannya memvaksinasi dunia."

"Kita masih punya populasi besar yang tidak divaksinasi, seperti di sub-Sahara Afrika, dan ini rentan terhadap wabah besar," ujarnya, dikutip dari laman CNN, Senin (29/11).

Head menambahkan, varian baru virus yang menyebabkan masalah di masa lalu, semuanya muncul dari tempat-tempat yang mengalami wabah besar dan tak terkendali, seperti ketika varian Alpha pertama kali terdeteksi di Inggris pada Desember tahun lalu, atau varian Delta yang pertama kali ditemukan di India pada Februari.

Varian Omicron telah menyebar ke seluruh dunia, di mana sampai Senin, telah terdeteksi di sejumlah negara seperti Afrika Selatan, Botswana, Australia, Inggris, Jerman, Italia, Kanada, dan Israel.

2 dari 3 halaman

Ketimpangan vaksin jadi pemicu

Banyak negara di dunia langsung bereaksi ketika muncul kabar ilmuwan Afrika Selatan menemukan varian baru dengan menutup perbatasan mereka bagi pelancong yang datang dari negara-negara di kawasan Afrika selatan termasuk Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe, Namibia, Lesotho, Eswatini, Mozambik, dan Malawi.

Namun para ilmuwan dan pakar kesehatan masyarakat dan lainnya telah memperingatkan bahwa kesenjangan besar angka vaksinasi antara negara maju dan negara berkembang yang menjadi persoalan.

Direktur Wellcome Trust (yayasan penelitian kesehatan), Jeremy Farrar, menyampaikan Omicron menunjukkan mengapa dunia perlu memastikan akses vaksin dan alat kesehatan masyarakat lainnya yang lebih setara.

"Varian baru adalah pengingat, jika kita memerlukannya, bahwa pandemi masih jauh dari selesai," jelasnya di Twitter.

"Ketimpangan adalah yang memperpanjang pandemi."

Menurut WHO, hanya 7,5 persen orang di negara-negara berpendapatan rendah yang telah menerima sedikitnya satu dosis vaksin Covid. Di delapan negara yang paling terdampak oleh larangan perjalanan karena varian Omicron, proporsi populasi yang telah mendapatkan sedikitnya satu dosis vaksin berkisar dari 5,6 persen di Malawi sampai 37 persen di Botswana.

Sementara itu, 63,9 persen orang di negara-negara berpendapatan tinggi telah menerima sedikitnya satu dosis vaksin. Di Uni Eropa dan AS, sekitar 70 persen orang telah menerima sedikitnya satu dosis vaksin, menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Uni Eropa dan CDC AS.

Sementara banyak alasan mengapa sebuah negara memiliki tingkat vaksinasi yang lebih rendah, keraguan terhadap vaksin masih menjadi masalah besar di banyak negara, termasuk Afrika Selatan. Head mengatakan, kurangnya akses vaksin adalah masalah utama.

"Satu yang berkontribusi terhadap hal ini adalah negara-negara yang lebih kaya menimbun vaksin melebihi dan melampaui apa yang sebenarnya kita butuhkan dan tidak menepati komitmen untuk menyumbangkan vaksin ke COVAX (program berbagi vaksin WHO) atau langsung ke negara-negara tersebut," jelasnya.

Sampai akhir bulan lalu, 537 juta dosis vaksin telah dikirimkan melalui skema COVAX ke 144 negara, proporsi kecil dari 7,9 miliar dosis vaksin yang telah disuntikkan di seluruh dunia sejauh ini.

Target WHO untuk memvaksinasi 40 persen populasi di semua negara sampai akhir 2021 dan 70 persen sampai pertengahan 2022 tampaknya jauh dari jangkauan, di mana hanya dua negara Afrika yaitu Maroko dan Tunisia yang saat ini berada dalam jalur untuk mencapai target tersebut.

3 dari 3 halaman

Keegoisan negara kaya

Dalam tulisannya di The Guardian pada Sabtu, duta besar WHO untuk dana kesehatan dunia dan mantan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown menyampaikan, kegagalan dunia untuk memberikan akses vaksin bagi penduduk di negara berkembang "sekarang kembali untuk menghantui kita. Kita telah diperingatkan sebelumnya - dan bagaimanapun inilah kita."

"Dengan tidak adanya vaksinasi massal, Covid tidak hanya menyebar tanpa hambatan di antara orang-orang yang tidak terlindungi tetapi juga bermutasi, dengan varian baru muncul dari negara-negara termiskin dan sekarang mengancam untuk melepaskan diri mereka sendiri bahkan pada orang-orang yang divaksinasi penuh di negara-negara terkaya di dunia," tulisnya.

BACA JUGA:
{news_title}

Spesialis penyakit menular Universitas KwaZulu-Natal di Durban Afrika Selatan, Dr. Richard Lessells mengatakan reaksi negara-negara kaya atas penemuan Omicron oleh ilmuwan Afrika Selatan adalah contoh keegoisan.

"Apa yang saya temukan memuakkan dan sangat menyedihkan tidak hanya larangan perjalanan yang diimplementasikan Inggris dan Eropa tapi itu reaksi satu-satunya atau reaksi yang paling kuat," jelasnya.

"Tidak ada kata-kata dukungan bahwa mereka akan memberikan negara-negara Afrika bantuan untuk membantu mengendalikan pandemi dan khususnya tidak ada yang menyinggung soal ketimpangan vaksin ini yang telah kami peringatkan sepanjang tahun dan kita sekarang melihat konsekuensinya," jelasnya.

BACA JUGA:
{news_title}
[pan]

Baca juga:
Antisipasi Varian Omicron, Sandiaga Evaluasi Daftar Negara yang Boleh Masuk RI
Sinovac Siap Produksi Vaksin Khusus Lawan Varian Omicron Jika Diperlukan
UEA Batal Gelar Konferensi Komunitas Muslim Dunia karena Takut Wabah Covid Omicron
Ada Varian Omicron, Pemprov Minta Warga DKI Lebih Waspada
Kedatangan Wisman Diperketat Cegah Varian Omicron, Koster Minta Warga Bali Bersabar
Ganjar Pastikan Varian Omicron Belum Ditemukan di Jateng
Cegah Covid-19 Varian Omicron, Puan Minta Pengawasan Karantina Ekstra Ketat

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini