Ketika nuklir Korut bikin Amerika Serikat melunak dengan China

Selasa, 21 Maret 2017 07:14 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Ketika nuklir Korut bikin Amerika Serikat melunak dengan China Peluncuran roket Korea Utara. ©REUTERS/KCNA

Merdeka.com - Nuklir Korea Utara sepertinya semakin membuat Amerika Serikat ketar-ketir, terlebih usai Pyongyang mengancam Washington akan menembakkan rudal mereka. Misil itu disebut bisa menghancurkan AS dalam sekali tembak.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat bercuit di akun Twitter, dan meremehkan nuklir milik Korut. "Korea Utara menyatakan itu (rudal balistik) dalam tahap akhir pengembangan senjata nuklir dan mampu mencapai negara bagian AS, namun hal tersebut tidak akan terjadi!" cuit Trump di Twitter.

Tak hanya itu, Trump juga sempat menyalahkan China karena Beijing seperti mendukung Korea Utara melakukan uji coba nuklir. "China telah mengambil sejumlah besar uang dan kekayaan dari Amerika Serikat dalam perdagangan satu sisi, namun tidak membantu Korea Utara agar lebih bagus lagi," serunya.

Namun sepertinya China mulai gerah dengan kelakuan Korut, apalagi mereka sempat melakukan uji coba rudal dekat perairan China.

Melihat gelagat tersebut, AS yang tadinya 'sebal' dengan Beijing, sepertinya harus mengalah demi mendapatkan sekutu untuk menjegal Korut. Kini, kedua negara sepakat bekerja sama mencari solusi baru menghadapi ambisi rudal dan nuklir Korut.

Trump kemudian mengutus Menteri Luar Negeri Rex Tillerson ke China dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Wang Yi. Keduanya setuju bekerja sama membujuk Pyongyang agar menghentikan penggunaan senjata nuklir.

"Kami memiliki pandangan yang sama bahwa ketegangan di Semenanjung Korea saat ini yang cukup tinggi, dan sudah mencapai level yang membahayakan. Kami berkomitmen untuk melakukan segala yang kami bisa untuk mencegah konflik itu pecah," ungkap Tillerson usai bertemu dengan Wang, seperti dikutip Reuters, Minggu (19/3).

Tillerson menilai komunitas internasional perlu cara baru menghadapi ancaman nuklir Korut. Sebab menurutnya, upaya denuklirisasi Korut yang telah berjalan hampir dua dekade ini tak kunjung membuahkan hasil yang memuaskan.

Saat bertandang ke Seoul, mantan bos ExxonMobil itu bahkan menekankan bahwa cara militer bisa dipertimbangkan jika Pyongyang terus-menerus mengancam AS dan sekutunya di kawasan menggunakan propaganda nuklirnya.

Tillerson juga mendesak China, sekutu dekat Korut, untuk lebih berkontribusi dalam meredam ambisi nuklir Korut. Bahkan, Washington tak segan menjatuhkan sanksi finansial bagi sejumlah perusahaan dan bank China jika masih kedapatan berbisnis dengan negara paling terisolasi itu.

Beijing kerap kesal lantaran sering dikaitkan dan ditekan Washington untuk mengendalikan teman dekatnya itu. Walaupun begitu, saat bertemu Tillerson, Wang menggambarkan pertemuan keduanya berjalan "produktif dan pragmatis."

Wang mengatakan, negosiasi dan pemetaan sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru terhadap Korut juga terus berjalan dan berharap segera dirampungkan. Dan komunitas internasional itu harus tetap berkomitmen mengedepankan cara diplomatik daripada cara militer untuk menghadapi Korut. [tyo]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini