Ketika Keluarga Suku Amazon Kehilangan Segalanya

Jumat, 23 Agustus 2019 15:58 Reporter : Merdeka
Ketika Keluarga Suku Amazon Kehilangan Segalanya Aktivitas Suku Mura di Hutan Amazon. ©2019 REUTERS/Ueslei Marcelino

Merdeka.com - Keluarga suku asli Amazon berjuang menyelamatkan rumah dan tanah mereka ketika api melahap sebagian wilayah hutan hujan Amazon, Brasil.

Selama dua minggu terakhir, Zonalia Santos dan tetangganya telah menghabiskan hari-hari mereka dengan berjuang menyelamatkan harta benda dan hasil panen mereka di Randonia, Brasil, akibat kebakaran hebat yang melanda kawasan Amazon.

Santos tinggal di sebuah pemukiman yang ditinggali sekitar 35 keluarga. Meskipun mereka berhasil menyelamatkan rumah mereka dari kobaran api, namun api terlanjur menyentuh hampir semua lahan kebun warga.

"Kami menghabiskan sepanjang hari untuk melawan sendiri kobaran api itu, tetapi api telah melahap padang rumput, semak, pohon kakao, kayu, tanaman kacang, atau pohon acai beri," ungkapnya.

Padahal, Santos dan keluarganya sangat bergantung pada hasil kebun kakao. Setiap bulannya, sekitar USD 100 dapat dihasilkannya dari bahan utama cokelat itu. Dia mengatakan, warga setempat masih beruntung karena api tidak sampai menghancurkan semua hasil tanam mereka, tetapi tetap saja beberapa keluarga kehilangan hampir segala yang mereka punya.

"Kerusakannya tidak dapat dipulihkan. Pada titik tertentu, ketika kami memadamkan api kami mulai menangis, karena sangat sedih," kata Santos, seperti yang dikutip oleh Aljazeera.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh INPE, pusat penelitian luar angkasa Brasil, jumlah kebakaran yang terjadi di kawasan hutan Amazon hingga bulan Agustus ini mengalami peningkatan sebesar 83 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Melalui pantauan satelit, INPE mendeteksi ada 72.843 kasus kebakaran lahan terjadi tahun ini. Dikatakan, sejumlah negara bagian seperti Amazonas, Rondonia, Acre, Para, dan Mato Grosso do Sul menjadi daerah yang turut terkena dampak kebakaran Amazon. Dikabarkan, hanya dalam kurun waktu sepekan 9.507 kebakaran baru terdeteksi di kawasan hutan hujan terluas di dunia itu.

Luasnya area yang terbakar membuat kabut asap tebal menyebar ke nyaris seluruh benua Amerika. Kondisi ini memaksa sejumlah penerbangan dibatalkan. Asap yang timbulkan pun turut berdampak pada kesehatan warga. Aljazeera menyebutkan, banyak warga yang harus dirawat di rumah sakit akibat masalah pernapasan.

"Kita tidak bisa bernapas karena asap dan kita tidak bisa tidur karena takut. Di tempat lain yang terbakar, tidak ada tempat lain untuk pergi," ungkap Santos.

Di Sao Paulo, Brasil, warga dikejutkan dengan pemandangan gelap langit mereka di siang hari. Kabut hitam menutupi Kota Sao Paulo yang berjarak 2.500 km dari kawasan hutan Amazon.

Sementara di negara bagian Amazonas, diumumkan terjadi keadaan darurat di Ibu Kota Manaus pada 9 Agustus lalu. Seminggu berselang, peringatan yang sama dikeluarkan di Acre, wilayah Brasil yang berbatasan dengan Peru.

Dalam dunia maya, ribuan orang menggunakan tagar #PrayForAmazonia untuk mengecam peristiwa kebakaran tersebut. Banyak pihak mengatakan, hebatnya kebakaran yang melanda kawasan Amazon merupakan hasil konsekuensi dari kebijakan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro.

Pemerintahan Bolsonaro dinilai memuat kebijakan yang tidak ramah bagi lingkungan. Bolsonaro dianggap tidak tegas dalam mengontrol masalah lingkungan dan mendorong aksi penebangan hutan. Bahkan, dikatakan pemerintah Brasil lebih simpati pada kelompok penebang hutan, daripada masyarakat adat yang menetap di Amazon.

Baca Selanjutnya: Awal Mula Kebakaran...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini