Hot Issue

Ketar Ketir Warga Beijing Hadapi Gelombang Baru Wabah Covid

Kamis, 28 April 2022 03:03 Reporter : Hari Ariyanti
Ketar Ketir Warga Beijing Hadapi Gelombang Baru Wabah Covid Tes Covid-19 di Beijing. ©REUTERS/Tingshu Wang

Merdeka.com - Ibu kota China, Beijing, meluncurkan program tes Covid-19 massal untuk 21 penduduknya. Ini salah satu upaya pemerintah setempat ketika dihadapkan dengan meluasnya wabah virus corona dan untuk menghindari lockdown seluruh kota.

Beijing melaporkan 33 kasus infeksi Covid baru pada Selasa, sehingga total infeksi mencapai 80 sejak Jumat. Jumlahnya memang kecil, tapi pemerintah yang mengikuti kebijakan nol Covid cemas wabah semakin meluas sebagaimana yang terjadi di kota komersial Shanghai, yang memberlakukan lockdown ketat selama berminggu-minggu.

Warga di Bejing selatan, di mana dilaporkan 1.600 kasus infeksi baru dan 52 kematian pada Selasa, semakin frustrasi dengan ketidakmampuan pemerintah memenuhi keperluan dasar warga selama penutupan kota itu.

Sejumlah video bermunculan di media sosial, menunjukkan warga berdiri di dekat jendela sembari memukup panci dan wajan dengan penuh kemarahan, atau memainkan "Apakah kalian mendengar orang-orang bernyanyi?", sebuah lagu protes dari musikal Les Miserables, menggunakan terompet dan seruling.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (27/4), Beijing mulai melakukan tes Covid massal di distrik terpadat Chaoyang pada Senin pagi. Pemerintah telah mendata 10 distrik lainnya dan satu zona ekonomi untuk pelaksanaan wajib tes Covid pekan ini, mencakup total 20 juta orang, sementara 16 juta orang yang dijadwalkan dites pada Selasa.

Wartawan Al Jazeera, Katrina Yu, yang melaporkan dari Beijing mengatakan penduduk kota itu diwajibkan melakukan tiga kali tes.

"Setelah hasil tiga putaran tes itu dikumpulkan di akhir pekan, kami memperkirakan pemerintah akan membuat keputusan pada Minggu apakah akan ada lockdown atau pembatasan lebih luas yang diterapkan di Beijing. Tapi orang-orang sangat gelisah," jelasnya.

2 dari 3 halaman

"Punic-buying"

Kecemasan warga berujung panic buying di beberapa wilayah, termasuk Chaoyang. Orang-orang mengantre panjang di supermarket dengan troli dan tas belanja yang penuh barang belanjaan. Warga tetap menyerbu supermarket kendati media pemerintah berusaha meyakinkan masyarakat pasokan barang kebutuhan tersedia dalam jumlah besar.

Warga takut terjadi lockdown tiba-tiba seperti di Shanghai dan warga harus berjuang keras mendapatkan pasokan makanan dan perawatan kesehatan.

"Situasi di Shanghai tak bisa terbayangkan, dan banyak orang berpikir itu absurd, sebuah kota metropolis modern mengalami situasi seperti itu," kata salah seorang warga Beijing kepada AFP.

"Saya yakin situasi kami tidak akan seburuk itu, tapi jujur saja, kami juga membeli beras, mi, biji-bijian, dan minyak," lanjut pegawai HRD yang menyebut namanya Zhao itu.

"Kami membuat persiapan untuk setidaknya satu sampai dua minggu."

3 dari 3 halaman

Khawatirkan perekonomian

Penduduk Beijing lainnya yang tinggal di Chaoyang mengatakan, dia diminta tinggal di rumah selama 14 hari pada Senin setelah salah satu tetangganya positif Covid. Dia mengaku merasa sedikit cemas.

"Saya khawatir kalau kami butuh obat atau barang lainnya nanti," ujarnya, yang meminta tak disebutkan namanya.

"Kami tidak tahu bagaimana mereka akan memperhitungkan masa karantina, dan tidak ada yang menjawab pertanyaan kami."

Untuk saat ini, sekolah, toko, dan perkantoran masih buka. Tapi Kuil Lama akan ditutup untuk wisatawan mulai Rabu, sedangkan Teater Nasional Beijing akan tutup selama sisa April ini.

Pemerintah juga meminta warga tidak meninggalkan ibu kota dan mencegah kumpul-kumpul pada libur Hari Buruh 30 April-4 Mei.

Warga dan para pengusaha juga mengkhawatirkan perekonomian jika lockdown diberlakukan.

"Kalau kami tidak bisa berangkat kerja, tidak akan ada pendapatan," kata staf di sebuah pusat kebugaran di Chaoyang, Dewei (31). [pan]

Baca juga:
China Temukan Subvarian Baru dari Omicron
Kesalnya Warga Shanghai karena Rumah Mereka Dipagari Tinggi Tanpa Alasan
Dua Hari Berturut Angka Kematian Covid-19 di Shanghai Bertambah
China Laporkan Tiga Kasus Kematian Covid-19 dalam Gelombang Wabah Terbaru
Warga China Cemas, Covid-19 Menular Melalui Partikel Udara yang Terhirup
Kisah Warga China yang Alami Lockdown Covid-19, Terjebak di Restoran hingga WC Umum
China Habiskan Dana Rp270 Triliun untuk Vaksinasi Covid-19

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini