Ketakutan Amerika akan damainya dua Korea

Selasa, 18 September 2018 07:24 Reporter : Pandasurya Wijaya
Ketakutan Amerika akan damainya dua Korea Kim jong un dan Moon Jae-in di desa Panmunjom. ©Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters

Merdeka.com - Presiden Korea Selatan Moon Jae-in hari ini akan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Pyongyang. Pertemuan ini akan menjadi yang ketiga kalinya bagi kedua pemimpin. Dalam pertemuan ini keduanya punya tujuan sama: merampungkan pernyataan politik untuk mengakhiri Perang Korea tahun ini.

Menurut para pengamat, deklarasi semacam itu, meski bukan kesepakatan damai yang mengikat, bisa membuat Korut menggencarkan kampanye untuk penarikan mundur pasukan Amerika Serikat di Korea Selatan. Karena alasan itu dan alasan lain, AS merasa keberatan dengan deklarasi semacam itu.

Perang Korea 1950-1953 memang tidak pernah berakhir dengan kesepakatan damai. Perang itu bahkan hanya berstatus gencatan senjata setelah pasukan AS membela Korsel melawan pasukan Korut dan China. Kondisi ini membuat Semenanjung Korea secara teknis masih dalam keadaan perang meski pertempuran sudah berakhir sejak 65 tahun lalu.

Selama beberapa dekade Korut selalu menuntut kesepakatan damai dalam negosiasinya dengan Washington untuk mengakhiri program senjata nuklirnya. Ketika bertemu Kim April lalu pada pertemuan pertama, Moon sepakat untuk mendorong AS dan mungkin juga China, untuk bergabung dalam deklarasi berakhirnya perang antar dua Korea tahun ini supaya bisa melangkah ke tahap perjanjian damai.

"Deklarasi itu akan menjadi pernyataan yang memperlihatkan niat bersama untuk mengakhiri pertikaian dan hidup saling berdampingan secara damai," kata Moon Juli lalu, seperti dilansir laman the New York Times, Senin (17/9).

Menurut pemerintah Korsel, deklarasi berakhirnya perang itu bisa mendorong Korut untuk merampungkan proses denuklirisasi. Menurut pejabat Korsel yang baru-baru ini bertemu pemimpin Korut, Kim mengatakan dia bersedia melakukan denuklirisasi di periode pertama kepemimpinan Presiden Donald Trump tapi dengan syarat Washington juga mengambil langkah sebaliknya dengan bergabung dalam deklarasi berakhirnya perang.

Namun Washington berkukuh Korut sering kali curang dalam negosiasi sebelum-sebelumnya. AS meminta Korut mengambil langkah konkret dalam proses denuklirisasi semisal menyerahkan daftar lengkap senjata nuklir untuk diverifikasi.

Dalam lawatan tiga harinya ke Pyongyang yang dimulai hari ini, Moon punya tujuan utama yakni mempersempit jurang perbedaan pandangan antara Washington dan Pyongyang.

Moon mengatakan kedua pihak meminta dia menjadi sosok 'pemimpin negosiasi'.

Menurut para pengamat, jika Moon berhasil menjembatani perbedaan itu maka itu akan menjadi awal dari pertemuan kedua antara Trump dan Kim. Tapi jika dia gagal maka kondisi di Semenanjung Korea bisa kembali memanas. [pan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini