Kemuakan Terhadap Elit Politik Membuat Kaum Muda Irak Memberontak

Sabtu, 5 Oktober 2019 07:37 Reporter : Pandasurya Wijaya
Kemuakan Terhadap Elit Politik Membuat Kaum Muda Irak Memberontak Demonstrasi di Irak. ©2019 REUTERS

Merdeka.com - Rakyat Irak selama ini memendam amarah kepada pemerintah. Kaum laki-laki dan perempuan kemudian menggalang aksi unjuk rasa lewat media sosial. Mereka sudah muak dengan elit politik dan sepakat turun ke jalan pada 1 Oktober lalu.

Di jalanan mereka diterjang peluru, meriam air, dan tembakan gas air mata. Kondisi kian mencekam. Irak baru saja lepas dari perang berdarah melawan kelompok ISIS.

Laman AP melaporkan, Jumat (4/10), perlawanan aparat terhadap unjuk rasa membuat demonstran di seluruh negeri marah. Bentrokan dengan aparat keamanan hingga kemarin sudah merenggut lebih dari 30 nyawa. Ratusan lainnya juga luka.

Gejolak di Irak ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah. Kedua pihak adalah sekutu dari pemerintah Irak. Ribuan tentara AS hingga kini masih bercokol di Irak dan begitu pula milisi yang didukung Iran. Sejumlah kalangan sudah khawatir Irak akan menjadi ajang pertempuran perpanjangan tangan dari kedua pihak itu.

1 dari 2 halaman

Siapakah Demonstran yang Turun ke Jalan?

Mereka adalah kaum muda berusia 20-an tahun yang sudah muak dan frustrasi dengan elit yang berkuasa dan meraup keuntungan dari minyak Irak selama bertahun-tahun. Mereka yang berunjuk rasa juga adalah ratusan lulusan universitas, baik perempuan dan laki-laki yang kini sulit mendapat pekerjaan, demikian pula dengan para pengajar, orang sepuh dan aktivis sosial.

Mereka turun ke jalan dengan menggalang tagar dalam bahasa Arab yang berarti 'Saya demo demi hak'. Massa memenuhi jalanan di Ibu Kota Baghdad dan beberapa kota lainnya. MEreka membawa bendera Irak. Tuntutan mereka juga termasuk soal pengangguran, dan terutama korupsi yang merajalela. Irak termasuk negara yang ada di peringkat ke-11 sebagai negara paling korup menurut Indeks Korupsi Dunia. Bank Dunia mengatakan pengangguran di Irak mencapai lebih dari 20 persen.

Demo yang terjadi spontan dan tanpa dikomando terjadi di Baghdad dan beberapa kawasan di sekitarnya. Unjuk rasa terjadi di wilayah mayoritas dihuni penganut Islam Syiah dan sejumlah warga Sunni juga ikut terlibat. Irak didominasi kaum Syiah, begitu pula dengan pemerintahnya.

2 dari 2 halaman

Mengapa Sekarang?

Tekanan hidup sudah ada sejak perang melawan ISIS dinyatakan berakhir pada 2017 atau bahkan jauh sebelum itu. Setelah pertempuran berakhir, sebagian besar wilayah Irak hancur dan puluhan ribu warga mengungsi tanpa tempat tinggal memadai dan tidak punya rumah lagi untuk kembali. Layanan listrik dan penyediaan air sejak itu bertambah buruk.

Dalam beberapa tahun belakangan memang sudah ada sejumlah unjuk rasa, terutama di saat-saat pertengahan tahun ketika di musim panas ketika listrik dan air dalam kondisi terparah. Kota Basra di selatan Irak musim panas lalu berkecamuk oleh demo setelah ribuan orang sakit karena air yang tercemar.

Perang melawan ISIS juga berpengaruh kepada milisi dukungan Iran yang biasa disebut Pasukan Mobilisasi Populer. Mereka bertempur bersama tentara Irak dan kini menjadi bagian dari kekuatan angkatan bersenjata Irak.

Perdana Menteri Adil Abdul-Mahdi yang baru berkuasa tahun lalu menjanjikan untuk memberantas korupsi tapi dia gagal membawa perubahan berarti. Dia juga tidak mampu mengendalikan para milisi dan banyak warga frustrasi dengan pemerintah yang mereka lihat semakin tunduk kepada Iran. [pan]

Baca juga:
Rekaman Suara Terbaru Baghdadi Serukan Pembebasan Muslimah ISIS di Kamp Penahanan
Melacak Rute Pasokan Senjata AS yang Jatuh ke Tangan ISIS
Leo, Singa di Irak yang Sering Bermain dengan Manusia
Tak Ada Manusia, Hewan-hewan Ini Pun Jadi 'Pengantin Bom' ISIS dan Taliban
ISIS Pasangi Sapi dengan Rompi Bom untuk Meneror Warga Irak

Topik berita Terkait:
  1. Irak
  2. Demonstrasi
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini