Kematian Seorang Pria Muslim Jadi Pertanda Isu Sektarian Masih Menghantui India

Kamis, 27 Juni 2019 07:29 Reporter : Pandasurya Wijaya
Kematian Seorang Pria Muslim Jadi Pertanda Isu Sektarian Masih Menghantui India demo di india menolak pengeroyokan massal. ©Amit Dave/Reuters

Merdeka.com - Seorang pria muslim yang diduga mencuri sepeda motor dipukuli massa Hindu di India hingga tewas. Dia diikat di sebuah tiang lampu dan dilaporkan dipukuli selama 12 jam dan dipaksa meneriakkan yel-yel yang memuji dewa Hindu. Sebuah video yang memperlihatkan penganiayaan itu beredar viral.

Pemukulan yang terjadi di Distrik Seraikela-Kharsawan, sebelah timur Negara Bagian Jharkhand itu bisa terlihat berlangsung cukup lama karena sebagian cuplikan memperlihatkan terjadi pada siang hari dan di bagian terjadi pada malam hari.

Polisi memang akhirnya melerai dan membawa korban, Tabrez Ansari, 24 tahun, untuk ditahan. Namun belum sampai empat hari kemudian, Sabtu lalu, petugas kemudian membawa Ansari ke rumah sakit dan perawat kemudian menyatakan dia meninggal tidak lama setelah tiba di rumah sakit.

Dilansir dari laman the New York Times, Rabu (26/6), pemukulan ini menjadi pertanda ada ketegangan antara mayoritas penduduk Hindu dengan minoritas muslim. Yang menjadi salah satu alasan mengapa video itu begitu cepat tersebar bukanlah karena pemukulan itu--yang selama ini memang sering terjadi di India--tapi karena massa berusaha memaksa korban meneriakkan slogan yang biasa diucapkan Partai Bhraratiya Janata (BJP) seperti 'Hidup Dewa Ram' dan "Hidup Hanuman'.

Dalam video itu Ansari terlihat menangis dan mengharap ampunan ketika dipukuli dengan kayu dan dipaksa mengulang ucapan slogan itu.

Karthik S, polisi di Seraikela-Kharsawan dalam wawancara mengatakan Ansari sudah berangsur membaik ketika diberi pertolongan pertama. Namun Karthik tidak bisa mengingat apa yang terjadi selama empat hari kemudian sampai dia meninggal.

Polisi mengatakan 11 penduduk desa sudah ditangkap. Selain itu ada laporan juga menyebut dua petugas keamanan diberi sanksi.

Sejak Parlemen baru mulai bekerja pekan lalu, memaksa warga muslim menyanyikan nama Dewa Ram cukup sering terjadi. Apalagi ketika Perdana Menteri Narendra Modi dari Partai BJP menyerukan anggota parlemen muslim diambil sumpah dengan mengucapkan 'Hidup Dewa Ram'. Seorang anggota parlemen muslim, Asaduddin Owaisi menanggapi seruan itu dengan mengucapkan 'Allahu Akbar'.

Di Negara Bagian Bengal, Kepala Menteri Mamata Banerjee yang dikenal sekuler, mengkritik pemaksaan lagu itu. Partai BJP kemudian mengancam akan membanjiri dia dengan kartu pos ucapan 'Hidup Dewa Ramp' dari pendukung-pendukungnya.

Dalam laporan tahunan 2019, Komisi Kebebasan Beragama Internasional di Amerika Serikat menemukan isu sektarian meningkat di India sejak Modi berkuasa dan memenangkan pemilu kedua kalinya dengan kemenangan pada bulan Mei.

Komisi AS menyebut India termasuk negara dengan kebebasan beragama paling buruk, satu kelompok dengan Afghanistan, Azerbaijan, Kuba, dan beberapa negara termasuk Republik Afrika Tengah, Rusia, dan Suriah.

"Pada 2018, kondisi kebebasan beragama di India terus mengalami penurunan," kata laporan itu. "Berbagai kelompok nasionalis di India menyebarkan ideologi 'Hindutva' atau 'Ke-Hindu-an'. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. India
  2. Konflik Sektarian
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini