Kelompok Pemberontak Myanmar Klaim Rebut Markas Militer di Perbatasan Thailand

Rabu, 28 April 2021 11:02 Reporter : Pandasurya Wijaya
Kelompok Pemberontak Myanmar Klaim Rebut Markas Militer di Perbatasan Thailand Militer Myanmar. ©The Irrawaddy

Merdeka.com - Salah satu kelompok pemberontak Myanmar yang paling vokal, Serikat Nasional Karen (KNU), kemarin mengatakan mereka menyerang dan menguasai sebuah pangkalan militer di perbatasan Thailand.

KNU sudah memerangi militer Myanmar di perbatasan selatan selama beberapa pekan terakhir.

Kemarin bentrokan senjata terjadi di Negara Bagian Karen dekat Sungai Salween, di kawasan perbatasan. Warga Thailand di perbatasan melaporkan mereka mendengar suara tembakan dan ledakan berasal dari wilayah Myanmar.

"Tentara kami menguasai kamp militer Birma," kata Kepala Urusan Luar Negeri KNU Padoh Saw Taw Nee kepada kantor berita AFP, seperti dilansir laman France 24, Selasa (28/4). Kontak senjata terjadi sekitar pukul 05.00.

"Kami bisa mendengar dari sisi lain, kami mendengar suara tembakan," kata Hkara, warga etnis Karen yang lama menetap di Mae Sam Laeo, di perbatasan Thailand.

"Kami melihat lima atau enam tentara Birma menyisir sungai dan lalu kami melihat KNU menembaki mereka tapi saat itu terlalu gelap."

Bulan lalu KNU menyerbu sebuah pangkalan militer dan junta membalas dengan beberapa kali serangan udara di malam hari--serangan udara pertama di Negara Bagian Karen dalam 20 tahun terakhir.

2 dari 2 halaman

Sejumlah pendudukan desa sudah mengungsi meninggalkan rumah mereka menuju kota lain karena takut serangan balasan dari militer Myanmar, kata Hkara.

"Tidak ada yang berani bertahan. Mereka sudah lari duluan pagi ini ketika kontak senjata terjadi," kata dia kepada AFP.

Bentrokan senjata kian sering terjadi pada beberapa pekan terakhir, membuat lebih dari 24.000 warga mengungsi, termasuk 2.000 orang yang menyeberangi perbatasan untuk mencari perlindungan ke Thailand.

Diperkirakan sekitar sepertiga dari wilayah Myanmar, terutama di perbatasan, dikuasai oleh sejumlah kelompok pemberontak yang memiliki pasukan sendiri.

Kelompok KNU sebelumnya cukup keras mengecam kudeta militer dan mengatakan mereka menampung sekitar 2.000 orang penentang kudeta yang melarikan diri dari perkotaan.

Aparat keamanan hingga kini sedikitnya sudah membunuh lebih dari 750 warga sejak kudeta 1 Februari, menurut kelompok pembela hak asasi manusia setempat. [pan]

Baca juga:
Aktivis Myanmar Serukan Warga Jangan Bayar Listrik dan Anak Tidak Usah Sekolah
ASEAN Disebut Ubah Pernyataan Rilis Terkait Myanmar, Hapus Soal Tahanan Politik
Awalnya Belajar dari Indonesia, Tapi Kemudian Militer Myanmar Berpaling ke Thailand
Aktivis Myanmar Kecam Kesepakatan ASEAN dengan Junta Militer, Siap Lanjutkan Demo
Pemerintah Bayangan Myanmar Sambut Baik Seruan Penghentian Kekerasan oleh Militer

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini