Kebijakan Erdogan bikin Turki rutin diserang teroris sepanjang 2016

Kamis, 30 Juni 2016 07:19 Reporter : Muhammad Radityo
Kebijakan Erdogan bikin Turki rutin diserang teroris sepanjang 2016 Bom di Bandara Istanbul. ©2016 REUTERS/Murad Sezer

Merdeka.com - Turki, negara dengan populasi mayoritas muslim di dua benua - sekaligus tempat khilafah Islam terbesar terakhir kali berdiri - belakangan menjadi target serangan teror bom beruntun selama enam bulan terakhir. Sebagian besar aksi pengecut itu didalangi oleh militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan kelompok pemberontak Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Insiden terbaru adalah penembakan serta peledakan bom bunuh diri di Bandar Udara Internasional Attaturk, di Kota Istambul pada Rabu (29/6) dini hari waktu setempat. Serangan oleh tiga orang teroris yang semuanya meledakkan diri itu menewaskan 41 orang serta melukai 230 lainnya. Termasuk yang tewas adalah 13 warga negara asing sedang transit di bandara tersebut.

Sepanjang Januari-Juni tahun ini, terjadi 11 kali serangan teror menimpa pelbagai wilayah Turki. Bom bunuh diri di Bandara Attaturk menjadi insiden dengan korban jiwa terbanyak.

Apa alasan Turki menjadi sasaran teror beruntun di pelbagai kota?

Analis dari Pusat Kajian Strategi dan Internasional (CSIS) Amerika Serikat, Bulent Aliriza, menyatakan faktor paling dominan dipengaruhi manuver para militan ISIS yang ingin melakukan serangan balik terhadap Turki.

Alasannya Turki membantu Koalisi Barat pimpinan Amerika Serikat menggempur basis-basis para militan khilafah di Suriah sepanjang 2015-2016. Turki mengizinkan penggunaan pangkalan udara Incirlik, sebagai basis jet tempur AS.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dianggap para militan sebagai pengkhianat karena bekerja sama dengan Amerika Serikat selaku kafir terbesar di muka bumi.

"Turki kerap terlibat dalam aksi (penyerangan ISIS) terhitung selama satu tahun dari sekarang, mereka bekerja sama dengan AS dan mencoba menangkal serangan balasan dari ISIS," kata Aliriza, dikutip dari laman USA Today.

Kondisi Bandara Ataturk Turki usai serangan bom bunuh diri (c) Reuters/Osman Orsal


Di luar itu, Turki pun sebetulnya tidak sepenuhnya murni membantu Amerika Serikat. Rezim Erdogan meyakini ISIS hanya bisa dienyahkan apabila Pemerintahan Basyar al-Assad di Suriah turut digulingkan. Pendekatan Turki berbeda dengan kebijakan AS yang masih menoleransi Asaad, serta menyerahkan operasi darat di Suriah pada koalisi Arab Saudi maupun kelompok pemberontak Sunni.

Alhasil, yang terjadi kemudian Turki bermanuver memainkan kelompok-kelompok kecil mengumpulkan faksi Sunni di Suriah. Pergerakan ini menjadi gangguan bagi pasukan khilafah ISIS. Di luar perkiraan, pasukan bersenjata ini membentuk jaringan terbangun rapi di seantero Turki mulai dari Gaziantep hingga Ankara. Sebagian membelot ke ISIS, membuat perbatasan Turki menjadi lokasi transit favorit para calon pejuang ISIS dari pelbagai negara.

Insiden bom bunuh diri di Bandara Internasional Ataturk, Istanbul semakin menegaskan perkiraan bahwa ISIS menggelar operasi besar menyasar kota-kota penting Turki. Amerika Serikat mengakui, dampak keterlibatan rezim Erdogan menyerang ISIS mulai makan korban di kalangan rakyat sipil mereka.

"ISIS sepertinya fokus berkampanye melawan Turki selama setahun terakhir," kata mantan Duta Besar AS untuk Turki James Jeffrey.

Dalam waktu bersamaan, Erdogan melakukan blunder dengan ikut menyerang kantong-kantong logistik kelompok separatis Kurdi PKK sejak Juli 2015. Warga etnis Kurdi di selatan Turki selama tiga dekade ini selalu menuntut kemerdekaan.

Rupanya, pasukan Kurdi ini dilatih oleh CIA untuk membantu menahan pergerakan ISIS di Aleppo, Suriah. Rezim Erdogan khawatir di masa mendatang, dukungan dari AS pada PKK akan menjadi modal mereka memisahkan diri, serta membentuk wilayah otonomi khusus Kurdi yang terpisah dari pengaruh Ankara.

Alhasil, pengamat intelijen Robert Baer menyatakan kondisi Turki menjadi tidak aman di nyaris semua perbatasannya. Erdogan tanpa sadar [ard] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini