Kaum Imigran, Kartun Nabi, dan Cita-Cita Prancis yang Berantakan

Rabu, 28 Oktober 2020 07:29 Reporter : Hari Ariyanti
Kaum Imigran, Kartun Nabi, dan Cita-Cita Prancis yang Berantakan Gadis muslim Prancis. thecuttingedgenews.com

Merdeka.com - Pada mulanya adalah kebencian.

Mereka bisa dengan mudah berbagi ruang kelas yang sama - remaja imigran dan guru veteran yang dikenal karena komitmennya untuk menanamkan cita-cita bangsa, dalam hubungan yang telah mengubah gelombang pendatang baru menjadi warga negara Prancis.

Tapi Abdoullakh Anzorov (18) yang besar di Prancis dari usia enam tahun dan merupakan produk sekolah negeri, menolak prinsip tersebut dalam sebuah kejahatan menyeramkan yang mengguncang Prancis. Tersinggung karena kartun Nabi Muhammad ditunjukkan di kelas saat mempelajari kebebasan berbicara oleh seorang guru, Samuel Paty (47), remaja ini menebas lehernya sepekan lalu dengan parang sebelum ditembak mati polisi.

Prancis memberikan penghormatan nasional kepada Paty. Dalam kemarahan yang menyapu negara itu, para pemimpin Prancis berjanji melipatgandakan pertahanan mereka terhadap sistem pendidikan publik yang berperan penting dalam pembentukan jati diri bangsa.

Pembunuhan tersebut telah menggarisbawahi meningkatnya tantangan terhadap sistem itu karena Prancis tumbuh lebih beragam secara ras dan etnis. Dua atau tiga generasi pendatang baru kini tengah berjuang untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Prancis.

Tetapi negara, secara luas, menolak masukan dari para kritikus, banyak di komunitas muslim, bahwa model integrasi Prancis, termasuk sekolah-sekolahnya memerlukan pembaruan atau perbaikan.

Baca Selanjutnya: Gagalnya asimiliasi budaya...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini