Junta Thailand kerahkan pasukan di Bangkok buat kekang protes

Minggu, 8 Juni 2014 20:32 Reporter : Vincent Asido Panggabean
Junta Thailand kerahkan pasukan di Bangkok buat kekang protes demo anti-kudeta thailand. ©REUTERS/Erik De Castro

Merdeka.com - Junta militer Thailand telah mempersiapkan lebih dari 6.000 tentara dan polisi untuk dikerahkan di Ibu Kota Bangkok pada hari ini guna mengekang protes-protes dan mencegah oposisi menggunakan kudeta 22 Mei untuk memperoleh momentum.

Militer menindak tegas para pembangkang pro-demokrasi dan para pendukung sejak menggulingkan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra pada bulan lalu, berusaha untuk membungkamkan kecaman dan menekan serta menghentikan protes-protes, seperti dilansir kantor berita Reuters, Ahad (8/6).

Kehadiran pasukan keamanan yang banyak di titik-titik rawan di kota-kota terbesar Thailand sejak kudeta itu membatasi para pemrotes pada pertemuan-pertemuan kecil, yang seriang dikoordinasikan melalui media sosial dan sebagian besar di sekitar pusat-pusat perbelanjaan.

"Pihak berwenang memperkuat penjagaan pada lima lokasi yang mungkin jadi tempat protes di Bangkok hari ini," kata wakil komandan kepolisian Somyot Poomanmoung.

Tempat-tempat itu termasuk bandara internasional utama negara itu dan daerah pusat perkotaan sekitar Istana Raja, serta lokasi-lokasi di mana protes-protes sebelumnya dilakukan. Istana itu merupakan salah satu dari tempat-tempat di Bangkok yang menarik bagi para wisatawan.

"Kami mengharapkan protes tidak akan memicu aksi kekerasan dan akan berahir secara damai," kata Somyot.

"Panglima militer dan pemimpin kudeta Jenderal Prayuth Chan-ocha telah memerintahkan pasukan keamanan menghindari konfrontasi" lanjut dia.

Dia menjelaskan polisi akan memotret para pemerotes, mengidenttifikasi mereka dan kemudian mengeluarkan surat perintah penangkapan.

Somyot mengatakan pasukan Thailand pada hari ini berjumlah 27 kompi angkatan darat dan 15 kompi polisi. Tentara dalam jumlah yang sama juga dikerahkan sepekan lalu.

Kudeta militer Thailand pada Mei lalu adalah ledakan terakhir dalam konflik sepuluh tahun antara kelompok pendukung kerajaan yang berpusat di Bangkok dan para pendukug Yingluck dan abangya mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawtra yang berpangkalan di pedesaan.

Thaksin, yang digulingkan dalam sebuah kudeta pada tahun 2006 dan tinggal di pengasingan sejak dihukum tahun 2008 karena terlibat korupsi, mendapatkan dukungan dari penduduk miskin di pedesaan dengan kebijakan-kebijakanya yang merakyat dan memegang kekuasaan dibelakang layar pemerintahan adik perempuannya itu.

Yingluck menjadi perdana menteri sampai 7 Mei lalu, ketika sebuah pengadilan menghukum dia bersalah karena menyalahgunakan kekuasaan dan dia kemudian mengundurkan diri.

Militer menggulingkan sisa-sisa pemerintahnya pada 22 Mei dalam sebuah kudeta dengan mengatakan pihaknya harus memulihkan ketertiban setelah enam bulan aksi protes antipemerintah yang kadang-kadang keras dan membawa ekonomi negara itu di ambang resesi.

Thailand telah berada tanpa pemerintah yang berfungsi secara layak sejak Desember ketika Yingluck membubarkan parlemen dan menyerukan pemilu pada Februari lalu dalam usaha menghentikan protes-protes antipemerintah. Tetapi para pemrotes mengganggu pemunguan suara itu dan kemudian pemilu dibatalkan, dan pemerintahan sementara Yingluck terpaksa berjalan pincang.

Prayuth kemarin mengumumkan dirnya sebagai kepala badan yang mempertimbangkan permohonan-permohonan investasi, sebuah jabatan yang biasanya dipegang perdana menteri. [fas]

Topik berita Terkait:
  1. Kudeta Militer Thailand
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini