"Jika Maut Memiliki Suara, Begitulah Bunyinya"

Senin, 24 Januari 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti
"Jika Maut Memiliki Suara, Begitulah Bunyinya" Letusan gunung berapi bawah laut Tonga. ©2022 Tonga Geological Services/via REUTERS

Merdeka.com - "Muncul di radio - sebuah peringatan tsunami untuk seluruh Tonga - Saya tidak bisa menjelaskan rasanya. Melihat putriku meringkuk di kursi penumpang, menangis, bertanya apakah kami akan baik-baik saja, bertanya dengan keluarga lainnya."

"Rasanya benar-benar seperti film horor kiamat tapi lebih buruk, jauh lebih buruk."

Tevita Fukofuka berada di ibu kota Tonga, Nuku'alofa pada 15 Januari, hari ketika gunung api Hunga-Tonga Ha'apai meletus dan menyala dalam ingatannya. Ayah muda dan PNS di pemerintah daerah itu membuka Facebook dan mengunggah sebuah pesan emosional pekan lalu, 24 jam setelah negaranya mengalami cobaan yang sangat mengerikan.

Letusan pertama terdengar dari gunung itu sekitar pukul 18.00 waktu setempat.

"Saya pikir itu letusan ban truk besar atau semacamnya," kenang Tevita.

"Saya melihat sekeliling jalan kebingungan, kemudian ledakan kedua; saya pikir terdengar seperti ledakan meriam dari dekat. Tapi ledakan ketiga jauh lebih keras dan terdengar seperti di atas kepala saya; saya tahu itu gunung api itu dan suatu hal sangat buruk." lanjutnya, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (23/1).

Mobil-mobil mulai memenuhi jalanan ketika warga segera menuju daerah pedalaman, menjauhi pulau. Tapi Tevita belum bisa mengikuti warga lainnya. Dia berputar arah dan mungkin hanya mobilnya satu-satunya yang berjalan melawan arah ketika dia harus ngebut untuk menjemput putrinya, Lote si'i, yang baru saja dia antar ke tempat kerabatnya.

"Saya sangat bingung karena gunung api itu berada jauh di Ha'apai; sangat jauh," ujarnya.

Gunung api itu berada sekitar 61 kilometer di seberang laut dari pulau utama Tongatapu.

"Baru saja saya bertemu putri saya, ada ledakan paling keras. Rasanya seperti surga retak terbuka, dan dunia meledak di dalam telinga saya. Saya belum pernah mendengar suara sekeras itu sepanjang hidup saya."

"Jika maut memiliki suara, begitulah bunyinya," cetusnya.

Ketika suara itu bergema di kepalanya, segala yang ada di sekelilingnya berguncang hebat.

"Mobil, rumah, bumi - segalanya bergetar. Saya melihat ke langit dan melihat ratusan burung terbang ke segala arah. Saya merasa takut tapi berusaha tidak menunjukkannya. Putriku melompat ke dalam mobil, gemetar, dan menangis. Saat saya ngebut ke pom bensin, saya berusaha meyakinkannya bahwa segalanya akan baik-baik saja."

2 dari 3 halaman

Hujan abu dan kerikil

dan kerikil rev1

Saat itu, Tevita dan warga Tonga lainnya tidak tahu NASA memperkirakan ledakan vulkanik itu setara dengan 5 juta sampai 6 juta ton TNT – dan 500 kali lebih kuat dari ledakan nuklir di Hiroshima. Mereka juga tidak pernah membayangkan erupsi itu akan menyebabkan tsunami di seluruh Samudera Pasifik itu.

Ketika Tevita dan Lote akhirnya bergabung dengan lautan mobil yang memadati jalanan kota, berhimpitan satu sama lain, satu-satunya pikiran yang terlintas di kepala mereka adalah bertahan hidup.

“Kemudian terdengar suara hujan abu belerang yang memekakkan telinga.. kerikil, abu dan debu,” kenang Tevita.

“Kami bisa mendengarnya terhempas di atap mobil kami dan rumah-rumah di sepanjang jalan. Langit menjadi benar-benar gelap. Kepadatan awan abu yang berasal dari gunung berapi itu mengubah siang menjadi malam.”

Antara hujan kerikil dan abu, suara ledakan gunung api dan peringatan tsunami berdering di radio, suasana seluruhnya terasa sureal.

Tevita berusaha tetap tenang; jika dia bisa sampai ke Tofoa atau Pea, dia akan cukup jauh ke pedalaman, pikirnya. Melalui serangkaian telepon dari anggota keluarga lainnya yang panik, dia tahu kendaraan mereka masih tertinggal sangat jauh di belakangnya – terjebak dalam gelombang kendaraan dari seluruh negeri yang berusaha menyelamatkan diri dan sanak keluarga.

Melihat dua kecelakaan mobil di sepanjang jalan, Tevita memutuskan untuk berhenti di area parkir di sebelah toko perlengkapan rumah. Toko itu memiliki beranda dengan atap tempat dia dan putrinya bisa berlindung jika hujan abu semakin parah.

“Teman saya, Jonathan, menelepon saya tepat ketika saya memarkir mobil saya dan menyuruh saya mengemudi ke Tonga Water Board, yang berada di bukit yang dekat. Saya segera mulai bergerak lagi. Tangki bahan bakar kami hampir kosong dan saya berdoa semoga kami berhasil. Jarak dari tempat saya ke puncak bukit hanya sekitar 120 meter, tapi kami butuh satu jam dalam antrean panjang. Wiper mobil semua orang bergerak dengan kecepatan penuh, mencoba membersihkan abu agar bisa melihat. Rasanya seperti kami akan buta.”

NASA telah memperkirakan gumpalan abu dan gas gunung berapi itu melesat ke stratosfer setinggi 30,5 km, dengan beberapa bagian mencapai sejauh 55 km.

Tanpa koneksi internet, Tevita berusaha tetap berhubungan dengan keluarga melalui SMS dan telepon. Stasiun radio lokal, 90FM, ajaibnya masih mengudara. Di puncak bukit Water Board, para pemuda mengarahkan ratusan mobil dalam kegelapan disertai angin dan hujan debu. Mereka mengenakan masker dan kaos oblong sebagai penutup kepala agar mereka tetap bisa bernapas.

“Seorang anak laki-laki khususnya mengenakan kaleng pencuci plastik di kepalanya. Melihatnya akhirnya membuat putri saya tersenyum, dan saya merasa agak lega ketika kami menemukan tempat parkir.”

3 dari 3 halaman

Seluruh kota diliputi warna kelabu

Satu demi satu keluarga menghubungi Tevita memberi kabar bahwa mereka aman. Namun, belum ada kabar dari orang tuanya. Ketakutan melandanya, dia bertanya pada Lote apakah tidak apa-apa mereka keluar dari mobil untuk mencari kakek dan neneknya.

"Dia menampakkan wajah keberanian dan mengatakan 'ya'. Lalu dia menjadikan baju yang ditemukan di mobil sebagai masker. Saya menutup kepala dengan jaket saat kami berpegangan tangan dan tersandung dalam kegelapan. Orang tua saya tidak berada di tempat penampungan, tetapi kami melihat sekitar seratus perempuan dan anak-anak di dalam. Syukurlah, saudara perempuan saya akhirnya menghubungi orang tua saya malam itu juga.”

Saat malam semakin larut, Tevita melihat temannya Jonathan mendekati mobilnya, membawa apel untuk Lote dan rokok untuknya – kemewahan kecil yang terasa seperti anugerah di dunia yang porak poranda itu.

“Kami mencoba tidur dengan ratusan orang di sekitar kami di mobil mereka. Kami mendengar orang-orang menyanyikan himne di tempat penampungan. Lote bersikeras agar radio tetap menyala untuk menemani kami. Saya khawatir dengan aki mobil, tetapi 90FM terus memperbarui informasi – dan itu membuat kami merasa lebih aman, lebih tenang.”

Terkunci di dalam mobil mereka, mereka masih tidak yakin apakah letusan sudah berakhir.

Di kejauhan, gunung berapi purba itu terus bergemuruh keras sepanjang malam. Setelah beberapa jam tidur dengan susah payah, Tevita terbangun tepat setelah matahari terbit dan mendapati sekitar setengah dari kendaraannya hilang.

“Saya perhatikan bahwa abu yang jatuh telah berhenti, jadi saya membangunkan putri saya dan mencoba mengikis sebanyak mungkin abu dari kaca depan mobil agar bisa pulang. Stasiun radio mengatakan bahwa aktivitas gunung berapi telah menurun dalam tiga jam sebelumnya, tetapi peringatan tsunami masih ada. Ada juga kekurangan air minum di banyak daerah.”

“Kami perlahan-lahan pulang ke rumah dengan rasa tidak percaya. Seluruh kota menjadi kelabu karena hujan abu.”

Beberapa hari sebelum letusan 15 Januari, Badan Geologi Tonga telah memperingatkan akan adanya erupsi dan potensi tsunami, menginstruksikan penduduk untuk menjauh dari pantai. Ahli vulkanologi sekarang yakin kesiapan itu yang kemungkinan menyebabkan ribuah nyawa selamat.

Untuk saat ini, Hunga Tonga-Hunga Ha'apai nampaknya telah senyap. Warga Tonga saling bantu mengatasi kerusakan dan membersihkan jalan-jalan, dengan bantuan internasional dari Australia, Selandia Baru dan Jepang mulai mendarat di negara itu. [pan]

Baca juga:
Penyelamatan Hewan Terdampak Tumpahan Minyak di Peru
Pasca Letusan Gunung, Kabel Internet Bawah Laut di Tonga Terputus
Enam WNI di Tonga Selamat Usai Erupsi Gunung Berapi dan Tsunami
Pria Tonga Dijuluki Aquaman karena Berenang 27 Jam Setelah Tersapu Tsunami
Kerusakan Pantai Tonga Akibat Terjangan Tsunami
CEK FAKTA: Hoaks, Video Ini Rekaman Meletusnya Gunung Berapi Bawah Laut di Tonga

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini