Jaksa Agung dapat info WN Brasil pura-pura gila sebelum dieksekusi

Rabu, 4 Maret 2015 14:39 Reporter : Putri Artika R
Jaksa Agung dapat info WN Brasil pura-pura gila sebelum dieksekusi Jaksa Agung HM Prasetyo. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Selain dua warga negara Australia, pemerintah Indonesia dalam waktu dekat berencana menghukum mati warga Brasil bernama Rodrigo Gularte. Keluarga dan kuasa hukum terpidana mati itu bulan lalu melansir keterangan psikiater. Disebutkan bahwa pria 37 tahun itu tidak bisa dieksekusi karena mengidap depresi akut sejak muda.

Jaksa Agung H.M Prasetyo menyatakan pihaknya sudah memeriksa klaim tersebut. Dari informasi yang dia terima, ada indikasi pernyataan keluarga Gularte dibuat-buat.

"Kesaksian beberapa penghuni lain (di Lapas Nusakambangan), bahwa si napi yang bersangkutan tidak apa-apa," ujarnya saat ditemui di Kantor Presiden, Rabu (4/3).

Kendati demikian, Kejaksaan Agung tetap mengirim tim untuk melakukan observasi ulang terhadap kondisi kejiwaan Gularte, sesuai permintaan keluarga dan tim pengacara. Psikiater independen dipanggil untuk memberikan evaluasi tambahan.

Namun, Prasetyo meyakini bahwa klaim sakit jiwa WN Brasil itu dilakukan semata untuk menunda proses eksekusi regu tembak. "Jadi biasalah itu. Berusaha untuk ulur-ulur waktu. Cari alasan dan sebagainya," kata politikus Partai Nasional Demokrat ini.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung menegaskan bahwa semua orang, gila ataupun tidak, bisa dihukum mati. Undang-Undang hanya mengecualikan eksekusi regu tembak untuk perempuan hamil dan anak di bawah 18 tahun.

Sementara itu, keluarga Gularte menyatakan hasil tes empat psikiater asal Indonesia dan Brasil, positif menunjukkan bahwa dia mengidap paranoid schizophrenia. Angelita Muxfeldt, sepupu Gularte, meminta perawatan medis.

"Saya mengatahui kesalahan yang dibuatnya serius. Saya mengerti apa yang dilakukan Presiden Jokowi adalah yang terbaik untuk negara ini. Tapi seharusnya Rodrigo mendapatkan pengobatan berkala di rumah sakit," ungkap Angelica.

Gularte dicokok petugas bea cukai pada 31 Januari 2004 di Bali, karena membawa heroin enam kilogram di papan seluncurnya. Dia divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang dan grasinya pernah ditolak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kejaksaan Agung pekan ini segera mengeksekusi 11 terpidana mati. Mayoritas adalah warga negara asing, termasuk duo Bali Nine yang baru saja diterbangkan ke Cilacap.

Gularte menyusul WN Brasil lain yang sudah ditembak mati Januari lalu, yakni Marco Archer Cardoso Moreira (53 tahun). Eksekusi Marco memicu penarikan dubes Brasil untuk Indonesia.

Presiden Brasil Dilma Roussef turut mengecam Indonesia karena tidak mengampuni warganya. Lebih dari seabad tak ada warga Negeri Samba yang dihukum mati di manapun di muka bumi sejak 1889. [ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini