Isu etnis di balik terpilihnya Halimah Yacob jadi presiden Singapura

Kamis, 14 September 2017 07:07 Reporter : Pandasurya Wijaya
Halimah Yacob. ©REUTERS/Edgar Su

Merdeka.com - Halimah Yacob sore nanti akan diambil sumpahnya sebagai presiden baru Singapura di Istana Negara.

Perempuan 63 tahun itu menjadi presiden Singapura pertama dari etnis muslim melayu setelah dua kandidat lainnya dinyatakan tidak lolos persyaratan Komisi Pemilu.

"Saya presiden untuk semua orang. Meski pemilu ini sudah diatur, saya bukan presiden pesanan," kata dia kepada para pendukungnya kemarin setelah dirinya diumumkan secara resmi sebagai presiden terpilih.

Ketika Halimah sudah diketahui menjadi presiden baru Singapura, banyak rakyat Negeri Singa yang mendukung tapi ada juga yang melontarkan kritik.

Dilansir dari laman The Guardian, Rabu (13/9), kritik itu mulai tersebar di dunia maya dan jejaring media sosial sejak kemarin. Rata-rata yang melontarkan kritik berasal dari etnis mayoritas China. Di mata mereka, pengangkatan Halimah sebagai Presiden Singapura tanpa pemilihan tidak bisa diterima.

Merlion Singapura ©singaporewhisky.blogspot.com




Pemerintah Singapura memutuskan membolehkan jabatan presiden diisi oleh etnis minoritas Melayu, sebagai cara buat membina kerukunan masyarakat antar-etnis di Negeri Singa, yang penduduknya mencapai 5,5 juta orang dengan etnis mayoritas China. Namun, sebagian kalangan 'konservatif' tidak setuju dengan cara itu. Mereka merasa semestinya jabatan presiden tidak boleh diberikan begitu saja tanpa pemilihan, apalagi sudah disiapkan kandidat dari etnis tertentu.

Mantan kandidat presiden Tan Cheng Bock dalam laman Facebooknya kemarin juga mengatakan warga Singapura merasa kecewa dan marah karena keputusan pemerintah. Dia menyebut terpilihnya Halimah menjadi peristiwa pemilihan presiden paling kontroversial dalam sejarah Singapura.

"Ketika Anda merampas hak suara kami untuk memilih, maka Anda merampas suara politik kami. Kalian sama saja mengatakan suara kami tidak penting," tulis dia, seperti dilansir Today Online, Rabu (13/9).

Pemerintah tidak memberi kesempatan kepada kandidat lain untuk maju selain Haimah Yacob dan Komite Pemilihan Presiden menolak dua calon independen, Muhamad Salleh Marican dan Farid Khan Kaim Khan.

Hal ini, kata Tan, sangat kontras dengan pemilihan presiden pada 1993. Ketika itu pemerintah lebih menyukai kandidat Ong Teng Cheong, namun mantan Wakil Perdana Menteri Goh Keng Swee tetap mendorong Chua Kim Yeow untuk maju.

"Mengapa? Ini untuk mencegah terjadinya kemenangan mudah dan memberi warga hak untuk menyampaikan pilihannya," tulis Tan.

Dia sebelumnya mengajukan keberatan atas keputusan pemerintah yang ingin mengatur pemilihan presiden agar etnis melayu yang maju karena sudah lima periode Singapura tidak punya presiden dari etnis melayu. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Singapura
  2. Halimah Yacob
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.