Israel Pasang Alat Pengintai di Dekat Gedung Putih untuk Mata-matai Trump

Jumat, 13 September 2019 07:21 Reporter : Pandasurya Wijaya
Israel Pasang Alat Pengintai di Dekat Gedung Putih untuk Mata-matai Trump Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu. Reuters

Merdeka.com - Tiga mantan pejabat Amerika Serikat kemarin mengatakan kepada Politico, dalam dua tahun terakhir sejumlah ponsel pengintai dipasang oleh Israel di dekat Gedung Putih dan beberapa lokasi penting lainnya di sekitar Washington. Menurut laporan itu, pemasangan ponsel pengintai itu bertujuan memata-matai Presiden Donald Trump.

Namun tidak seperti insiden pengintaian lain yang ketahuan di negara AS, pemerintahan Trump sama sekali tidak menegur pemerintah Israel. Salah satu pejabat bahkan mengatakan Israel tidak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya ini.

Alat pengintai mini yang dalam bahasa sehari-hari disebut "StingRays" itu menyerupai antena biasa yang fungsinya membuat ponsel memberikan informasi lokasi dan identitas. Nama resmi untuk alat semacam itu adalah penangkap identitas pelanggan internasional atau IMSI. Alat itu juga bisa mengambil data isi percakapan dan penggunaan data.

Alat itu, kata salah satu pejabat, tampaknya digunakan untuk memata-matai Presiden Trump, tokoh penting di sekelilingnya, dan para pejabat terdekatnya. Namun belum diketahui apakah tindakan Israel itu sudah berhasil dilakukan atau belum.

Presiden Trump selama ini memang dikenal lemah dalam menjalankan protokol keamanan Gedung Putih. Politico Mei tahun lalu melaporkan, Trump sering memakai ponsel yang jaringannya tidak aman untuk berkomunikasi dengan teman-teman dan orang-orang kepercayaannya.

Harian the New York Times kemudian melaporkan pada Oktober 2018, "Mata-mata China kerap mendengarkan pembicaraan telepon Trump sampai-sampai Trump sendiri mengecam kabar soal itu dengan mengatakan, "itu sangat tidak benar, saya tidak punya waktu untuk membenarkannya." Sejak itu, kata laporan seorang pejabat, ponsel Trump diperkuat dari serangan penyadapan.

1 dari 2 halaman

Penyelidikan FBI

Tidak lama kemudian, pemerintah AS melalui Departemen Keamanan Dalam Negeri menemukan perangkat mata-mata itu di sekitar Washington namun mereka belum bisa mengetahui siapa yang memasangnya. Para pejabat kemudian memberi tahu informasi ini kepada sejumlah badan pemerintah.

Menurut mantan pejabat yang pernah menduduki posisi penting di badan intelijen dan keamanan nasional, berdasarkan hasil penyelidikan forensik, FBI dan lembaga negara lain yang terlibat dalam kasus ini berkesimpulan, intelijen Israellah yang memasang alat mata-mata itu.

Hasil analisis itu dilakukan oleh divisi kontra-intelijen FBI dengan cara memeriksa alat tersebut dan membuat alat itu "menyampaikan informasi bagaimana sejarah alat itu dibuat, dari mana suku cadang alat itu berasal, berapa lama umurnya, siapa saja yang pernah mengaksesnya, dan dari situ bisa diketahui dari mana asal alat itu berasal."

Untuk penyelidikan semacam ini, FBI kerap bekerja sama dengan Badan Keamanan Nasional dan CIA (termasuk Secret Service atau pasukan pengamanan presiden).

"Cukup jelas Israellah yang bertanggung jawab," kata mantan pejabat intelijen senior.

2 dari 2 halaman

Bantahan Israel

Juru bicara Kedutaan Israel. Elad Strohmayer menyangkal laporan soal negaranya memasang alat pengintai dengan mengatakan, "tuduhan-tuduhan ini sama sekali omong kosong. Israel tidak melancarkan operasi mata-mata di Amerika Serikat, titik."

Salah satu bekas pejabat intelijen senior mengatakan, setelah FBI dan badan keamanan lain membeberkan hasil temuannya yang mengatakan Israel kemungkinan besar memasang alat pengintai itu, pemerintahan Trump tidak berbuat apa-apa, bahkan tidak memberi sanksi atau menegur pemerintah Israel.

"Reaksi mereka sangat-sangat berbeda dengan jika insiden ini terjadi di pemerintahan sebelumnya" kata si pejabat. "Di pemerintahan sekarang, ada pertimbangan yang berbeda dalam menangani masalah ini."

Menurut laporan si pejabat, Israel diduga sudah menguping pembicaraan di Gedung Putih.

"Israel cukup agresif dalam hal ini. Mereka ingin melindungi keamanan negara dan siap melakukan apa saja untuk mencapai tujuan itu," kata si pejabat. [pan]

Baca juga:
Ada Israel di Balik Perang Saudara Sudan Selatan
Perang Drone di Timur Tengah Bisa Picu Perang Lebih Besar
Nestapa Warga Palestina Hidup dalam Gua Akibat Perang
Jalur Gaza Diselimuti Kegelapan
Anggota Kongres AS Rashida Tlaib Batalkan Kunjungan ke Israel
Usai Salat Idul Adha, Gas Air Mata Israel Bubarkan Kerumunan Warga Palestina

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini