Iran vs AS, Persahabatan Sepak Bola di Atas Permusuhan Politik

Rabu, 30 November 2022 07:09 Reporter : Merdeka
Iran vs AS, Persahabatan Sepak Bola di Atas Permusuhan Politik pendukung iran dan as di piala dunia. ©Reuters

Merdeka.com - Sudah setengah abad lebih, Iran dan Amerika Serikat (AS) tidak memiliki hubungan akur. Berbagai ketegangan politik telah mewarnai hubungan dua negara itu.

Tetapi di tengah ketegangan antar pemerintah itu, nyatanya hubungan masyarakat AS dan Iran terlihat akur. Keakraban hubungan ini diperlihatkan para suporter masing-masing tim nasional Iran dan AS di Piala Dunia Qatar 2022.

Salah satunya seperti yang diperlihatkan warga Iran-Amerika bernama Shervin Sharifi. Sharifi yang berusia 31 tahun adalah penggemar sepak bola, dia mengumpulkan berbagai kaus bola sebagai hobi. Hingga kini Sharifi memiliki koleksi 107 kaus bola dari berbagai tim sepak bola di seluruh dunia.

Dari ratusan baju itu, terdapat sekitar 40 – 45 baju yang berasal dari tim nasional Iran.

“Anda dapat mengatakan saya agak kecanduan. Ini adalah hidup saya. Untuk inilah saya hidup,” jelas Sharifi, dikutip dari Aljazeera, Selasa (29/11).

Meski Sharifi tinggal di AS, namun dia tetap mendukung tim nasional Iran. Untuk menunjukkan dukungannya itu, Sharifi pergi meninggalkan Kota Dallas, Texas bersama temannya ke Qatar untuk mendukung Iran dalam pertandingan melawan AS yang dilaksanakan dini hari tadi.

Sebelumnya Iran menang atas Wales dengan skor 2 – 0. Untuk menyelamatkan diri dari klasemen grup, AS harus menang melawan Iran. Namun agar Iran tetap aman, Iran harus menang atau memiliki skor imbang melawan AS. Mengingat hanya ada satu tim yang dapat menang dari klasemen grup B.

Sharifi sendiri menjelaskan jika tim nasional Iran harus dapat bermain baik melawan AS karena seluruh penduduk Iran sudah pasti akan menonton pertandingan itu.

“Saya dapat memberitahu Anda dengan pasti – para pemain Iran memiliki hasrat lebih untuk permainan ini karena mereka tidak hanya bermain untuk diri mereka sendiri untuk menjadi sukses; mereka memiliki 80 juta orang untuk dibuat bahagia di rumah. Itu memiliki banyak beban di pundak,” ujar Sharifi.

Namun Sharifi menceritakan dia memahami hubungan antara pemerintah Iran dan AS yang memanas. Berbagai protes yang mengarah kepada tim nasional Iran selama Piala Dunia 2022 adalah salah satunya.

Karena itu jika Iran memenangkan pertandingan melawan AS, maka kemenangan itu dapat menjadi perubahan besar.

“Saya tidak mengatakan (tim AS) tidak begitu bersemangat, tetapi sudah 43 tahun cengkeraman semacam ini di sebuah negara. Ketika tim Iran melangkah di lapangan itu, mereka tidak hanya bermain untuk satu pertandingan. Mereka bermain untuk perubahan,” ujarnya.

Bagi Sharifi pertandingan Iran melawan AS adalah peristiwa yang mengubah hidupnya. Sharifi sendiri menceritakan dia jatuh cinta pada sepak bola ketika Iran berhasil mengalahkan AS pada Piala Dunia 1998 dengan skor 2 – 1.

2 dari 2 halaman
iran vs as, persahabatan sepak bola di atas permusuhan politik

Sebelumnya pertandingan kala itu disebut-sebut sebagai pertandingan yang penuh dengan unsur politis dalam sejarah Piala Dunia mengingat hubungan geopolitik tidak bersahabat antara AS dan Iran.

Bahkan saat itu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan dia akan menarik seluruh anggota tim nasional Iran kalau mereka terpaksa berjabat tangan dengan pemain AS.

Sharifi juga menjelaskan saat itu ayahnya lebih mementingkan unsur politis dibandingkan pertandingan sepak bola. Sharifi sendiri tidak memedulikan unsur politis dalam pertandingan.

Namun dibalik ketegangan itu, nyatanya pemain tim nasional AS dan Iran berpose bersama di lapangan. Masing-masing tim nasional pun memberikan bunga berwarna putih kepada sesama pemain.

Bagi Sharifi pertandingan 1998 adalah pertandingan yang mampu menyatukan Iran dan AS yang tidak akur.

Tetapi banyak perubahan telah terjadi semenjak 1998. Di Iran sendiri, protes besar-besaran telah berlangsung selama berbulan-bulan karena kematian perempuan berusia 22 tahun bernama Mahsa Amini. Berbagai korban dari anak-anak hingga orang dewasa telah berjatuhan dalam protes itu.

Namun melihat tindakan pemerintah Iran atas warganya sendiri, tim nasional Iran turut memprotes perlakuan itu di depan para penonton Piala Dunia. Bahkan pada pertandingan Iran melawan Inggris, tim nasional Iran enggan menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Begitu juga saat Iran melawan Wales beberapa hari lalu.

Sharifi menjelaskan keputusan tim nasional Iran tidak menyanyi dapat menyoroti masalah dalam negeri Iran.

Meski demikian, sepak bola tetap dapat mempersatukan dua negara yang tidak bersahabat. Hal senada juga diutarakan warga Amerika-Kanada berusia 37 tahun bernama Vignesh Ram.

Ram yakin sepak bola dapat menjadi kekuatan pemersatu antara Iran dan AS.

“Bagi penggemar sepak bola AS, bepergian ke luar negeri memberi kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak perspektif… Ini menyatukan orang dengan cara yang benar-benar bermakna, dan tim AS tidak pernah hebat, jadi tidak ada ruginya. Ada sedikit kebanggaan nasional yang dipertaruhkan,” ujarnya.

Bagi Ram, pertandingan bola dapat menjadi kesempatan bagi banyak orang untuk melihat apa yang dihadapi warga AS setiap harinya. Karena itu Ram menjelaskan negara bukanlah pemerintahnya, melainkan masyarakatnya.

Sharifi juga mengutarakan hal yang sama. Namun dia tetap mengakui kalau sepak bola sekarang telah terpengaruh kondisi politik masing-masing tim nasional. Tetapi pertandingan Iran melawan AS tetap diyakininya dapat mempersatukan dua negara yang saling bermusuhan.

“Penggemar AS akan bersimpati kepada rakyat Iran karena, pada akhirnya, rakyat Iran bukanlah pemerintah Iran,” ujar Sharifi.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]

Baca juga:
Keponakan Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran Ditangkap
Federasi Sepak Bola AS Hilangkan Kata Allah dari Bendera Iran di Klasemen Piala Dunia
Aksi Suporter Cantik Timnas Iran saat Laga Lawan Wales di Piala Dunia 2022
Pemain Iran Tolak Nyanyikan Lagu Kebangsaan di Laga Piala Dunia, Ini Sebabnya
PM Kanada Hapus Tweet Soal Iran Lantaran Berita Bohong di Medsos
Iran Berhasil Bikin Rudal Balistik Hipersonik, Sehebat Apa Kemampuannya?
Dari Racun Semprot Sampai Cokelat, Menguak Sepak Terjang Intelijen Mossad Israel
Manusia Paling Kotor di Dunia Meninggal di Usia 94 Tahun

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini