Iran resmi diizinkan punya nuklir, Israel kalang kabut

Rabu, 15 Juli 2015 07:47 Reporter : Ardyan Mohamad
Iran resmi diizinkan punya nuklir, Israel kalang kabut Uji coba rudal Fajr milik Iran yang disebut-sebut bisa menjangkau Israel. ©Daily Mail

Merdeka.com - Setelah perundingan 13 tahun, sanksi ekonomi terhadap Iran karena memiliki teknologi nuklir resmi dicabut. Perwakilan enam negara dipimpin Amerika Serikat kemarin (14/7) di Kota Wina, Austria, menyetujui program nuklir Negeri Para Mullah asal terbukti untuk tujuan damai.

Surat kabar the Guardian melaporkan, kesepakatan ini memicu beragam reaksi dari seluruh dunia. Sekutu Iran, seperti Rusia mengapresiasi perjanjian tersebut.

Uni Eropa yang diwakili Prancis, Inggris, dan Jerman dalam tim enam turut mengutarakan optimismenya. Dengan penghentian embargo ekonomi, maka negara mayoritas Syiah ini dapat bersikap lebih damai di kawasan Timur Tengah.

"Saya kira (perjanjian) ini adalah harapan untuk seluruh dunia," kata Kepala Bidang Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini beberapa jam setelah rapat berakhir.

Pemerintah Indonesia turut mengapresiasi hasil perundingan itu yang dinilai memberi keuntungan bagi seluruh pihak. Menurut RI, kesepakatan ini menegaskan kembali hak setiap negara untuk memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan damai.

"Tercapainya kesepakatan tersebut sekali lagi merupakan bukti efektivitas pemecahan masalah melalui cara damai," tulis pernyataan pers Kementerian Luar Negeri RI.

Adapun Israel sangat marah karena AS justru mendorong perjanjian tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Iran sama sekali tidak bisa dipercaya.

"Iran seperti mendapat durian runtuh. Ini kesalahan besar sejarah," ujarnya seperti dikutip Reuters, saat berpidato di Ibu Kota Tel Aviv selepas kabar dari Wina beredar di media.

Kampanye segera digencarkan oleh politikus Zionis kepada anggota Kongres AS. Kongres sejauh ini dikuasai Partai Republik yang bersimpati pada agenda Israel.

Netanyahu mendesak sekutunya di parlemen Amerika memanfaatkan waktu 60 hari ke depan untuk menolak hasil perjanjian itu.

Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel Gilad Erdan mengatakan kesepakatan Wina hanya akan membuat Iran besar kepala, memicu [ard] SELANJUTNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini