Ini penyebab masih maraknya kasus pemerkosaan di India

Rabu, 31 Januari 2018 06:38 Reporter : Ira Astiana, Pandasurya Wijaya
Ini penyebab masih maraknya kasus pemerkosaan di India Pelajar demonstrasi menentang pemerkosaan di India. dailymail.co.uk ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Isu kekerasan seksual di India kembali menjadi perbincangan publik tidak hanya nasional, tetapi juga internasional saat lima tuduhan pemerkosaan, yang korbannya sebagian besar di bawah umur, terjadi selama lima hari di Negara Bagian Haryana, India Utara.

Kelima kasus tersebut antara lain menimpa seorang gadis 15 tahun. Dia diperkosa dan dibunuh lalu dibuang ke sebuah kanal distrik Jind, 100 kilometer sebelah bara dari New Delhi. Polisi menemukan mayat telanjangnya pada Jumat (12/1) lalu dengan luka luar dan dalam cukup parah. Diduga dia merupakan korban pemerkosaan massal.

Tersangka utama dalam kasus tersebut diidentifikasi sebagai laki-laki berusia 18 yang diketahui merupakan kenalan korban. Namun, pria tersebut ditemukan sudah tewas saat hendak ditangkap. Hal itu membuat polisi kesulitan melakukan penyelidikan dan kasus itu pun terhenti sampai di sana.

Kasus itu hanya satu dari empat insiden penyerangan seksual yang terjadi di Haryana. Ironisnya, keempatnya terjadi hanya dalam waktu 72 jam saja.

Keempat kasus tersebut antara lain, pemerkosaan terhadap gadis 11 tahun di distrik Panipat. Dari luka-lukanya, diduga gadis itu diperkosa secara massal. Kasus kedua terjadi di distrik Pinjore, di mana pria 50 tahun melakukan kekerasan seksual terhadap anak 10 tahun.

Kasus ketiga terjadi pada Minggu (14/1) lalu. Seorang wanita 22 tahun diculik dari halte bus di jalan sibuk saat dalam perjalanan pulang kerja. Dia dipaksa masuk ke sebuah SUV dan diperkosa berulang kali oleh sekelompok pria, sebelum dibuang di pom bensin di Sikri. Di hari sama, kasus pemerkosaan juga terjadi di distrik Hisar dengan korban bocah tiga tahun dan pelakunya 15 tahun.

demo anti pemerkosaan di india

Demo anti-pemerkosaan di India ©Reuters/Ahmad Masood



Kasus paling terbaru adalah bayi delapan bulan yang diperkosa sepupunya sendiri. Aksi pemerkosaan itu membuat si bayi berada dalam kondisi kritis setelah menjalani operasi tiga jam.

Polisi sejauh ini baru menangkap dua orang terkait kasus bocah 11 tahun di distrik Panipat dan dua orang lain tersangka pemerkosaan hari Minggu. Saat ini pelaku sedang memburu dua pelaku lain.

Banyak yang menilai polisi terlalu lalai dalam menanggapi tuduhan pemerkosaan. Namun, polisi berdalih bahwa kasus pemerkosaan sudah terlalu mendarah daging di kalangan masyarakat India.

"Pemerkosaan adalah bagian dari masyarakat. Insiden ini tidak terjadi begitu saja, tetapi sudah lama ada," kata seorang perwira polisi senior di Haryana, RC Mishra, dikutip CNN, Selasa (30/1).

Kasus pemerkosaan massal pertama kali mencuat saat mahasiswa berusia 23 tahun bernama Jyoti Singh diperkosa dan dibunuh dalam sebuah bus kota di New Delhi. Sejak itu, India menjadi rentan terhadap kekerasan seksual.

Sebulan setelah kasus Singh merebak, pemerintah pusat langsung meloloskan reformasi legislatif untuk meningkatkan hukuman atas kejahatan seksual. Hukuman tersebut antara lain waktu tambahan hukuman penjara dan pelaksanaan hukuman mati.

Namun setelah lima tahun berlalu, hukuman tersebut menjadi semakin melambat dan perwujudannya jadi semakin tidak terlihat.

"Kasus pemerkosaan adalah tentang kekuatan patriarki. Pola pikir semacam itu membutuhkan waktu lama untuk diubah. Hanya satu korban dan satu demonstrasi di seluruh negeri, tidak serta merta dapat mengubahnya," kata Sohini Bhattarcharya, presiden 'Breakthrough', sebuah organisasi non-pemerintah yang mengurus isu gender di India dan Amerika Serikat.

Data teranyar dari Biro Catatan Kejahatan Nasional mengungkapkan ada peningkatan 12 persen kasus pemerkosaan dari 34.651 kasus pada 2015 naik menjadi 38.947 kasus pada 2016. Secara rata-rata berarti ada 100 laporan pemerkosaan saban hari.

Naiknya angka laporan kekerasan seksual itu menurut para ahli bisa jadi karena meningkatnya kesadaran kaum wanita untuk melaporkan kekerasan seksual yang dialaminya.

Pendiri organisasi anti-perdagangan seksual di India Ruchira Gupta mengatakan kepada CNN, data tersebut memperlihatkan bahwa kaum hawa menolak diam. Namun dia juga menuturkan, angka itu bisa jadi hanya puncak dari gunung es.

"Masih banyak perempuan yang memilih tidak melapor karena mereka tidak percaya kepada polisi atau polisi tidak mendaftarkan kasus itu," kata dia.

Seorang mahasiswa dari Universitas Anglia Ruskin, Inggris, bernama Madhumita Pandey melakukan penelitian untuk tesis doktoralnya dengan cara mewawancarai 100 pemerkosa di India. Hasilnya, hanya segelintir pemerkosa yang bisa menyelesaikan pendidikan sampai SMA, sisanya hanya lulusan kelas tiga sekolah dasar.

"Ketika saya memulai penelitian, di benak saya tertanam bahwa orang-orang ini adalah monster. Tetapi ketika berbicara langsung, saya baru menyadari mereka bukanlah pria luar biasa. Mereka hanya pria biasa yang dibesarkan dengan pola pikir yang salah," jelasnya.

"Para pria itu memiliki gagasan yang salah tentang arti maskulinitas sedangkan wanitanya cenderung bersikap seperti penurut. Hal tersebut juga terjadi dalam rumah tangga sehingga kasus pemerkosaan rentan terjadi," tambahnya.

Pandey juga memaparkan bahwa pria di sana hidup di tengah masyarakat konservatif. Di sekolah-sekolah, pendidikan seks bahkan tidak dimasukkan ke kurikulum karena dianggap bisa "merusak" pemuda dan nilai-nilai tradisional. Oleh karena itu, banyak dari pria tersebut tidak menyadari perbuatan mereka dan terus-terusan mencari pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Bahkan tidak sedikit yang justru menyalahkan korban atas perbuatan mereka.

"Mereka tidak diajarkan tentang pendidikan seks selama di sekolah. Orangtua bahkan tidak menggunakan kata-kata seperti penis, vagina, pemerkosaan, atau seks dalam kehidupan sehari-hari sehingga para pria itu bahkan tidak tahu kalau yang mereka perbuat (memperkosa) adalah kesalahan," paparnya.

Pendiri Forum Perlawanan Penindasan terhadap Perempuan di Mumbai, Sandhya Gokhale, menuturkan kepada CNN, kebanyakan laporan kekerasan seksual tidak pernah melewati kantor polisi.

"Kecuali kasusnya sangat parah baru bisa sampai ke pengadilan," ujar Gokhale.

Bahkan meski sudah didaftarkan, mendapatkan keadilan di sistem peradilan India juga masih jauh dari harapan.

Pengadilan dan kepolisian keduanya menghadapi timbunan kasus kekerasan seksual.

Menurut data pengadilan, jumlah kasus kekerasan seksual yang masih menunggu jadwal persidangan mencapai 15.450 kasus. Sementara kasus yang sudah selesai baru 1.395, artinya kurang dari 10 persen. [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini